“Nona, ini laporan yang Anda minta.”
Di
ruang tamu, aku menerima dokumen dari Kuroi.
Ternyata
laporan yang aku minta dari agen detektif swasta sudah selesai.
Aku
membaca beberapa halaman, dan isi laporan yang dipenuhi aura jahat itu
membuatku merasa mual.
Aku
sengaja tidak bertanya kepada Senpai tentang apa yang sebenarnya terjadi. Aku
pikir itu hal yang sulit untuk diceritakan, dan sepertinya dia juga tidak ingin
membicarakannya bahkan kepada ibu kandungnya. Jika aku memaksa Senpai untuk
menceritakannya, mungkin justru akan membuat luka di hatinya semakin dalam.
Aku
bisa menebak sebagian isi laporannya, tapi ketika membacanya langsung,
kebencian yang ditujukan padanya membuatku teringat pada traumaku sendiri dan
itu sangat menyakitkan.
Bagaimana
mungkin orang sebaik itu harus menerima perlakuan sekejam ini? Mengapa Tuhan
begitu tidak adil?
Aku
bersyukur telah meminta Kuroi menyelidiki apa yang terjadi pada Senpai
menggunakan jasa detektif. Sekarang musuh sudah jelas. Aku juga bisa mulai
bergerak.
Awalnya
aku sempat mengira ini hanya masalah cinta yang berujung pada keributan kecil.
Tapi ternyata, isi dari laporan ini jauh lebih jahat dari yang kubayangkan.
※
『Laporan
Investigasi』
Tuan
Eiji Aono diduga telah diselingkuhi oleh pacarnya Miyuki Amada.
Miyuki
terlihat diam-diam bertemu dengan senior klub sepak bola di sekolah mereka,
Kondo (catatan: ayahnya adalah anggota dewan kota dan pengelola utama
perusahaan konstruksi lokal).
Penduduk
sekitar pun mencurigai dan membicarakan hubungan mereka.
Apa
yang sebenarnya terjadi dalam cinta segitiga ini tidak diketahui. Namun,
setelah hari ulang tahun Eiji Aono, mulai beredar kabar di media sosial bahwa
ia melakukan kekerasan terhadap pacarnya.
Karena
sebelum ulang tahun itu tidak ada unggahan yang menjelek-jelekkannya, besar
kemungkinan ada kejadian penting pada hari itu.
Sebagian
besar akun yang menyebarkan rumor tersebut adalah akun palsu, tetapi ada
beberapa yang merupakan akun asli dan aktif, yang dari foto-fotonya bisa
disimpulkan merupakan anggota klub sepak bola.
Selain
itu, reaksi dari siswa lain terhadap informasi tersebut baru muncul dua hari
setelah ulang tahunnya.
Dari
situ dapat disimpulkan bahwa sekelompok orang dengan sengaja bekerja sama untuk
menyebarkan rumor buruk tentang Eiji Aono.
Semua
data telah disimpan dan dapat digunakan sebagai bukti dalam proses hukum.
※
Laporan
itu hanya berisi fakta. Tapi hanya ada satu kesimpulan yang bisa diambil
darinya.
Pertama,
melihat dari kepribadian Senpai, kemungkinan dia melakukan kekerasan terhadap
Amada sangatlah kecil. Dan gerak-gerik klub sepak bola sangat mencurigakan.
Kemungkinan
besar, dalang dari insiden ini adalah Kondo, senior mesum yang dulu pernah
mencoba mendekatiku secara tidak langsung di semester pertama.
Kondo
dan Amada berselingkuh, dan itu terbongkar pada hari ulang tahun Senpai.
Untuk
melindungi diri, mereka menyebarkan rumor bahwa Senpai melakukan kekerasan,
lalu membuatnya terisolasi.
Kalau
dugaan ini benar, betapa kejinya mereka.
Kabarnya,
mereka mulai pacaran musim dingin tahun lalu.
Sebagai
pasangan, ulang tahun pertama adalah momen yang sangat penting—namun Senpai
justru dipaksa menghadapi kenyataan pahit dan dituduh secara palsu, hampir
dihancurkan secara sosial.
“Itu
terlalu kejam.”
Maka,
itulah alasannya Senpai pergi ke atap sekolah saat pertama kali kami bertemu.
Melihat
orang sebaik itu sampai harus merasa putus asa membuat amarahku mendidih.
“Tak
peduli apa alasannya, tidak ada yang berhak menginjak-injak perasaan tulus
seseorang seperti itu.”
Memang,
jika belum menikah, mungkin tidak ada kewajiban seberat itu dalam hubungan. Ada
yang bilang itu kebebasan cinta.
Tapi
perlakuan keji seperti ini tidak pantas diterima oleh orang sebaik dia.
Tak
bisa dimaafkan.
Dan
semua itu demi melindungi diri mereka sendiri… bahkan sampai menuduh dia dengan
kejahatan palsu yang bisa membuatnya berpikir untuk mengakhiri hidupnya…
Isi
laporan ini begitu mengejutkan hingga aku merasa mual berulang kali.
Tapi
di tengah neraka seperti itu, aku semakin jatuh cinta pada dirinya yang tetap
menolongku.
“Kamu
benar-benar orang yang luar biasa baik, ya… Eiji Aono.”
Setelah
kecelakaan itu, aku sendiri mengalami kebencian yang luar biasa.
Itulah
kenapa aku tahu betapa besar artinya kebaikan yang dia tunjukkan padaku di atap
sekolah saat itu—sampai rasanya sakit menyadarinya.
Bagaimana
bisa, di tengah situasi seperti itu, ketika kamu sendiri terpuruk dan nyaris
mengakhiri hidup, kamu masih bisa bersikap baik padaku?
Kenapa
kamu bisa sebaik itu…?
Aku
ingin menghirup udara segar sebentar.
Aku
menahan Kuroi yang tampak cemas, lalu sendirian menuju taman terdekat.
Meskipun
kutolak, pasti tetap akan ada seseorang yang mengikuti sebagai pengawal.
Aku
berjalan sebentar di tengah alam yang sedikit hijau, untuk menyegarkan pikiran.
“Apa
yang telah Senpai hilangkan terlalu besar... tapi kalau aku bisa mengisinya
meski hanya sedikit, itu sudah cukup.”
Kalau
bisa, aku ingin menggantikan semua hal yang telah dia hilangkan. Tapi, itu
mungkin pikiran yang terlalu sombong.
Namun,
untuk Amada dan Kondo dari klub sepak bola—aku benar-benar tidak bisa memaafkan
mereka.
Saat
aku berjalan sambil memikirkan itu, sebuah kebetulan yang tak terduga terjadi.
Dari
arah depan, seorang wanita cantik berwajah pucat berjalan terpincang-pincang.
Aku
mengenal wajah itu. Meskipun kami belum pernah berbicara langsung, dia terkenal
sebagai kakak kelas yang cantik, dan namanya juga tercantum dalam laporan tadi.
“Ichijou...
Ai?”
Sepertinya
dia juga menyadari kehadiranku. Wajahnya tampak pucat seperti zombie.
“Amada
Miyuki-san...”
Kami akhirnya
berhadapan langsung untuk pertama kalinya.
Bagi
dia, ini adalah waktu yang paling buruk untuk bertemu.
※
Pertemuan
yang tak terduga itu membuatku kehilangan kata-kata. Aku memutuskan untuk tidak
memikirkan kenapa dia tahu namaku sekarang.
Kalau
dipikir-pikir, dengan tindakan seberani itu, bisa dibayangkan kalau kabar itu
sudah sampai ke telinga mantan pacarnya, Amada Miyuki.
“Senang
bertemu denganmu. Aku Ichijou Ai.”
Aku
mengucapkannya dengan nada dingin. Sejujurnya, aku bahkan tidak ingin berbicara
dengannya.
“K-kamu
tidak bersama Eiji hari ini?”
Tanpa
membalas sapaan, dia bertanya dengan suara gemetar.
“Seolah-olah
kamu selalu melihat kami bersama saja. Memang kamu senior di sekolah, tapi ini
pertama kalinya kita bicara, kan? Dan itu pertanyaan yang terlalu pribadi, jadi
aku rasa aku tidak punya kewajiban menjawabnya.”
Nada
bicaraku menjadi agak tajam. Tapi aku tidak peduli kalau dia akan membenciku.
“Tapi...
aku ini pacarnya Eiji...”
Aku
terkejut mendengar kata-katanya. Setelah semua perlakuan buruk itu, dia masih
merasa mereka masih pacaran?
Tidak,
bukan hanya itu. Dia sedang lari. Dari rasa bersalah karena menjadi pelaku.
Dari kenyataan bahwa dia telah mengkhianati Senpai. Sikapnya yang tidak
bertanggung jawab itu benar-benar tak bisa dimaafkan. Dia hampir mendorong pria
sebaik itu untuk bunuh diri. Kalau saja waktunya sedikit berbeda, baik aku
maupun dia pasti...
Dengan
kemarahan yang memuncak, aku menatapnya.
“Begitu
ya. Tapi, Amada-san, bukankah kamu yang memilih Kondo dari klub sepak bola?
Kamu membuang Eiji Aono Senpai, sahabat masa kecilmu yang selalu mendukungmu
selama ini. Dan kamu melakukannya... di hari ulang tahunnya.”
Aku
sengaja bicara seolah tahu segalanya. Aku juga ingin memastikan apakah
informasi yang kuketahui benar.
“Itu...
aku...”
Dia
jelas kehabisan kata. Jadi memang benar.
“Dari
titik itu, hubungan kalian sebagai pasangan sudah berakhir, bukan? Dan kamu
mengakhiri semuanya dengan cara terburuk—dengan mengkhianatinya.”
“Tapi...”
Dia
tetap tak menjawab. Atau lebih tepatnya, dia sedang mencoba lari lagi.
“Tidak
bisa menjawab artinya itu memang benar, bukan?”
Dia
mulai menunduk dan hampir menangis. Aku perlahan memaksanya menghadap
kenyataan. Kalau tidak, dia akan terus kabur.
Kami
sudah tahu segalanya. Perselingkuhannya. Bahwa dia mengkhianati kekasihnya demi
menyelamatkan diri dan menyebarkan fitnah. Aku menyampaikan itu secara
implisit.
Aku
bisa saja menghakiminya di sini. Tapi aku adalah orang luar. Tidak ada gunanya
kalau aku yang menjebaknya. Maka dari itu, aku memilih untuk dengan tenang
menunjukkan posisi dia yang sebenarnya, sambil memandangnya dingin saat dia
masih mencoba membela diri.
“Kami sudah bersama lebih dari sepuluh tahun...” Masih mau
membela diri!?
“Dan
kamu sendiri yang menghancurkan kepercayaan itu! Kamu yang mengkhianati semua
yang sudah dibangun selama sepuluh tahun, dengan cara yang sangat kejam. Cinta
itu memang bebas. Kalau kamu jatuh cinta pada orang lain, kamu seharusnya
mengakhiri hubunganmu dengan Eiji Senpai secara layak. Itu adalah bentuk
tanggung jawab yang paling mendasar. Tapi kamu tidak melakukannya. Bahkan, kamu
mencampakkannya di hari ulang tahunnya. Kenapa? Kenapa kamu harus menyakitinya
dengan cara sekejam itu!?”
Suaraku
meninggi. Aku tak bisa mengendalikan emosi dan bicara cepat. Tapi aku tak bisa
berhenti.
“Aku
juga... tak ingin berpisah dari Eiji. Kami sudah lama bersama, dia adalah cinta
pertamaku. Tapi aku melakukan kesalahan dengan Kondo... dan aku tak bisa
melepaskan hubungan itu. Awalnya aku pikir hanya sementara. Pada akhirnya, aku
akan memilih Eiji. Tapi... hari itu, kami bertemu secara tak sengaja. Di tempat
yang seharusnya dia tidak ada. Tapi entah kenapa, dia ada di sana.”
Dia
berbicara seperti mesin rusak, penuh dengan rasa iba terhadap dirinya sendiri.
Seolah-olah dia adalah tokoh utama dalam tragedi. Tapi dia bukanlah tokoh
utama. Dia tidak berhak berada di posisi itu. Kenapa dia tidak menyadarinya?
“Tapi
kamu adalah pelaku! Kamu bicara seolah kamu yang menderita, tapi yang paling
menderita adalah Eiji Senpai! Bagiku, kamu terdengar hanya mementingkan dirimu
sendiri!”
“Uuuh...”
Dia
jatuh berlutut di atas aspal yang keras. Apakah dia sudah tak sanggup lari?
Atau sedang memikirkan alasan baru?
“Kenapa
kamu menyebarkan rumor palsu itu? Karena itu...”
Aku
hampir mengungkapkan kebenaran, tapi buru-buru menutup mulutku. Itu bukan hakku
untuk mengatakannya.
“Aku
takut. Aku takut ditinggal sendirian. Aku tahu aku tak bisa kembali seperti
dulu dengan Eiji. Tapi aku tak ingin kehilangan siapa pun. Jadi... aku
bersandar pada Senpai. Maaf... maaf...”
Dia
meminta maaf sambil hampir menangis, seolah bersujud padaku.
Mendengar
alasan itu membuatku marah.
“Hanya
karena itu?”
Aku
bertanya tanpa sadar.
“Apa?”
Bukan
itu respons yang kuharapkan.
“HANYA
KARENA ITU, kamu hampir menghancurkan hidup seorang pria sebaik Eiji Aono!?”
“Hiii!”
Dia
terkejut dengan nada marahku dan mengeluarkan jeritan pendek. Aku hampir
tergoda untuk menampar pipinya, tapi kutahan dengan sekuat tenaga. Karena jika
kulakukan, aku akan berada di level yang sama dengan mereka—bukan manusia, tapi
binatang yang dikendalikan oleh nafsu.
“Senpai...
dia mencoba bunuh diri di atap sekolah setelah libur musim panas. Pria sebaik
itu, sampai berpikir untuk mengakhiri hidupnya. Apa salahnya? Dia hanya ingin
menghabiskan ulang tahunnya bersama pacar yang dia cintai. Tapi apa yang kamu
lakukan, Amada-san? Kamu menginjak-injak kebaikan hatinya, memfitnahnya demi
menyelamatkan dirimu, dan mendorongnya hampir mati. Kamu tidak akan pernah
dimaafkan. Aku tidak akan memaafkanmu. Aku TIDAK BISA memaafkanmu!!”
“Eiji...
mencoba... bunuh diri? Itu... bohong...”
Wajahnya langsung pucat, emosinya mati di depan mata. Tapi
tidak ada lagi yang perlu dikatakan. Dia tak pernah tahu bahwa kebencian dan
keegoisannya bisa dengan mudah membunuh seseorang. Dia bahkan tak mampu
menghadapi kenyataan itu. Saat kecelakaan itu terjadi padaku pun, mungkin
kebencian serupa dari orang-orang seperti dia yang jadi penyebabnya. “Aku
terlalu banyak bicara. Maaf, aku pamit dulu.”
Tanpa
menoleh lagi, aku meninggalkannya. Menjauh secepat mungkin, seolah melarikan
diri. Diliputi rasa benci pada diri sendiri karena telah mengatakan hal yang
tak seharusnya kusebut—usaha bunuh diri Senpai, sesuatu yang ingin dia
sembunyikan.
Aku
tidak bisa mengendalikan emosiku. Aku merasa bersalah padanya.
Tapi...
dia adalah penyelamat hidupku. Dan dia hampir saja mati karena niat buruk
seseorang. Pria sebaik itu hampir memilih mati karena kejahatan orang lain,
sementara si pelaku bertingkah seperti korban. Itu tidak bisa dimaafkan. Aku
tidak cukup mulia untuk bisa membiarkannya begitu saja.
Aku
tenggelam dalam rasa benci dan penyesalan. Tapi anehnya, aku tidak merasa
menyesal.
Senpai
itu orang yang terlalu baik. Dia pasti akan menahan diri.
Karena
itulah, aku mewakilinya untuk menyampaikan semuanya pada Amada. Entah itu
berguna atau tidak.
Meskipun
aku dibenci, setidaknya aku bisa berdiri di hadapan orang itu dan mengatakan
yang perlu dikatakan. Itu mungkin caraku membalas kebaikannya.
Kalau
saja hari itu aku tidak menemuinya di atap sekolah, Senpai mungkin sudah mati
di sana.
Orang
sebaik dia tidak seharusnya mati sendirian di tempat seperti itu. Dia harus
menjalani hidup sepenuhnya, dikelilingi oleh keluarga yang bahagia saat
waktunya tiba.
Dia
berbeda dengan orang sepertiku, yang hidup dengan mengorbankan nyawa orang
lain.
Dia
harus bahagia. Aono Eiji adalah orang yang pantas untuk mendapatkan
kebahagiaan.
『Ai,
hanya kamu saja yang harus bahagia.』
『Maaf
ya. Seharusnya Ibu mengatakannya dengan benar sejak awal. Maafkan Ibu yang
hanya bisa mengatakannya di saat-saat seperti ini. Ibu selalu mencintaimu.』
『Tak apa, kamu pasti akan bertemu seseorang yang
benar-benar mencintaimu.』
『Ibu akan selalu bersamamu. Kalau Ibu boleh menyesal
satu hal saja, itu adalah tidak bisa melihatmu memakai gaun pengantin.』
Kata-kata
terakhir Ibu yang selama ini berusaha kuabaikan, tiba-tiba kembali terlintas
dalam benakku. Kata-kata yang selalu kuhindari itu kini berulang-ulang
terdengar, dan bersama dengan itu, kehangatan Ibu yang sudah lama tak kuingat
pun terasa kembali.
Terima
kasih, Ibu. Aku hampir menyerah, tapi akhirnya aku mengerti arti kata-kata yang
dulu Ibu ajarkan padaku.
Maaf
karena aku sempat mencoba melarikan diri. Maaf karena aku mencoba memilih jalan
yang mudah.
Tapi
akhirnya...
Aku
jatuh cinta, Bu. Aku bertemu seseorang yang lebih mementingkanku daripada
dirinya sendiri.
“Aku
ingin bertemu dengan Aono-senpai.”
Aku
benar-benar menyadari bahwa aku menyukainya. Dulu aku berpikir bahwa cinta masa
SMA hanyalah sesuatu yang sesaat. Aku menyesali diriku yang pernah bersikap
dingin seperti itu.
Aku
ingin percaya bahwa perasaan yang kumiliki untuknya adalah sesuatu yang abadi.
Aku
mempercepat langkah, ingin segera kembali ke apartemenku. Tapi di saat itu,
dewi takdir kembali tersenyum padaku.
Dari
kejauhan, seorang laki-laki melambaikan tangannya. Itu adalah Aono Eiji.
Diriku
yang baru mengenal cinta, menganggap kebetulan biasa itu sebagai sebuah takdir.
“Senpai!!”
Aku
hampir saja memeluknya. Meskipun ini hanya kebetulan, aku tak bisa membohongi
diriku sendiri bahwa aku ingin menganggapnya sebagai takdir karena aku sangat
ingin bertemu dengannya.
“Ichijou-san,
kebetulan ya! Aku mau makan ramen buat makan malam, mau ikut?”
Ia
tersenyum lembut. Aku sadar, dia masih ingat obrolan kami saat kencan kemarin,
ketika aku bilang belum pernah makan di kedai ramen. Padahal aku selalu
tertarik, hanya saja belum pernah punya kesempatan untuk pergi.
Sebelum
logikaku bisa berpikir, mulutku sudah lebih dulu menjawab.
“Boleh
ya? Aku sangat ingin ikut!”
Lebih
dari apa pun, aku senang dengan kebaikan Senpai. Perasaan tidak nyaman yang
sempat kurasakan setelah membaca laporan itu, entah ke mana perginya.
※
*Sudut
pandang Eiji*
Untuk
menyalin catatan pelajaran yang dipinjamkan Satoshi, aku sedang dalam
perjalanan menuju konbini. Di tengah jalan, aku kebetulan bertemu dengan
Ichijou-san dan mengajaknya makan ramen. Katanya, karena dia gadis dari
keluarga terpandang, dia jarang—atau bahkan belum pernah—pergi ke kedai ramen.
Kami
pun menuju kedai ramen terdekat. Karena ini pengalaman pertamanya, tentu saja
aku tak mungkin membawanya ke tempat khusus untuk para penggemar berat ramen.
Jadi kami masuk ke tempat dengan ramen miso yang standar tapi enak.
“Apa
yang harus aku lakukan dengan ini?”
Sepertinya
dia tidak tahu cara membeli makanan lewat mesin tiket. Ichijou-san terlihat
gugup di depan mesin penjual tiket, dan itu terlihat sangat manis. Bahkan di
dalam toko, dia menjadi pusat perhatian. Aku harus mengawalinya dengan baik.
“Masukkan
uang, lalu tekan tombol sesuai ramen yang kamu mau. Di sini porsinya besar,
jadi buat Ichijou-san, mungkin porsi biasa atau mini lebih cocok. Rekomendasiku
adalah ‘tammen miso sayur’. Karena banyak sayurnya, porsinya sebaiknya jangan
terlalu besar.”
“Wah,
sehebat itu ya!? Untung aku tanya dulu. Kalau begitu, aku pilih ini deh.”
Dengan
polos, dia menekan tombol untuk porsi mini. Dia juga memesan teh oolong.
“Aku
lapar sekali, jadi aku pilih miso sayur dengan tambahan chashu.”
Kami
dipandu ke kursi untuk dua orang. Dari tempat duduk ini, dapur terlihat dengan
jelas. Tidak ada pesanan yang rumit, dan stafnya juga ramah, jadi Ichijou-san
yang masih pemula bisa merasa tenang.
“Luar
biasa ya. Mereka bisa mengangkat wajan besar seperti itu dengan mudah. Itu buat
menumis sayur, ya?”
“Iya.
Di sini, sayurnya ditumis dengan baik, bahkan enak dimakan begitu saja. Kalau
pesan nasi juga, bisa jadi lauk.”
“Karbohidrat
ketemu karbohidrat, besoknya pasti menyesal. Tapi kelihatannya enak sekali.”
“Ya,
tinggal pintar-pintar mengatur saja.”
Tapi
ramen yang dipesan Ichijou-san banyak sayurnya, jadi kalau bukan karena garam,
sebenarnya cukup sehat.
“Silakan,
pesanan kalian.”
Seorang
ibu staf membawa dua mangkuk ramen dengan mudah.
“Terima
kasih banyak,” jawab Ichijou-san sambil tersenyum. Senyumannya membuat staf itu
ikut tersenyum lebar.
“Itadakimasu.”
Kami
mulai makan ramen panas itu. Ichijou-san tampak sedikit terkejut dengan
banyaknya sayur, tapi ketika menyeruput kuah pertamanya, matanya membelalak.
“Rasanya
manis dan lembut dari sayurnya. Apa ini ditumis pakai minyak wijen? Aromanya
harum banget.”
“Kalau
mau variasi rasa, coba tambahkan yuzu kosho.”
“Pasti
cocok sekali. Ini pertama kalinya aku makan ramen yang ‘beneran’, dan aku
sedikit menyesal kenapa nggak pernah coba dari dulu.”
Dia
menikmati rekomendasiku dengan lahap. Responnya juga bagus. Hanya itu saja
sudah membuatku bahagia. Rasanya menyenangkan bisa berbagi hal-hal yang disukai
seperti ini. Aku menyadari betapa berharganya hal-hal sederhana semacam itu.
Semuanya berkat Ichijou-san.
Sejak
bertemu dia, aku terus merasa bahagia. Bukan cuma karena atap sekolah itu
tempat terendahku, tapi karena dia yang begitu berarti bagiku, mengisi
kekosongan yang kutinggalkan.
Selesai
makan ramen, kami harus segera pergi dari restoran. Rasanya sedih. Aku ingin
bersama lebih lama. Meski kami akan bertemu lagi besok.
“Aku
antar kamu pulang.”
Dia
juga tampak sedikit sedih. Saat mendengar tawaranku, wajahnya langsung cerah.
Syukurlah, aku bisa bersamanya sedikit lebih lama.
“Terima
kasih.”
Kami
berjalan pelan, selama mungkin. Hanya lima menit dari sini ke apartemennya.
Tapi rasanya cepat sekali.
Tangan
dia sedikit menyentuh tanganku. Mungkin cuma kebetulan, tapi kami berdua
spontan berkata, “Ah.”
Kami
saling menatap dan tertawa. Ternyata kami sama-sama sadar akan kehadiran satu
sama lain. Saat kencan kemarin, Ichijou-san sudah menunjukkan keberaniannya,
jadi kali ini... giliran aku.
Dengan
tekad, aku menggenggam tangannya perlahan. Tangan yang kecil sekali. Kalau
tidak hati-hati, rasanya bisa patah. Dan sedikit dingin.
Meski
dia menunduk malu, dia membalas genggaman tanganku dengan erat. Hanya beberapa
menit yang menegangkan, tapi buat kami rasanya seperti keabadian.
“Kamu
curang, menyerang tiba-tiba.”
Dia
berkata sambil sedikit menggerutu, tapi tersenyum bahagia. “Kalau gitu, aku
juga pengen bilang begitu ke kamu yang hari Minggu kemarin.”
Kali
ini, aku berhasil membalas dengan baik.
“Aduh,
itu juga curang, deh.”
Aku
semakin merasa sayang dengan dia.
“Kalau
aku sudah pulang, aku mau coba unggah novelku ke web.”
Pagi
tadi, dia yang menyarankannya. Aku jadi punya keberanian karena dia. Maka aku
memutuskan untuk mengambil langkah itu.
“Bagus
sekali. Sayang kalau cuma aku yang baca. Pasti bakal populer!”
Melihatnya
tersenyum begitu bahagia membuatku tenang. Genggamannya di tanganku makin kuat.
“Tapi
ya, Senpai...”
“Apa?”
“Mungkin
ini kedengarannya lebay dan kayak cewek posesif, tapi... jangan pergi terlalu
jauh, ya. Tetap genggam tangan ini, terus.”
Ekspresi
wajahnya yang sedikit bingung itu, terlihat sangat cantik.
“Iya,
aku akan tetap genggam.”
Dan
kemudian, momen terbaik itu pun mencapai akhir. Kami melepaskan tangan satu
sama lain dengan berat hati.
“Terima
kasih buat hari ini. Sampai jumpa besok.”
“Iya,
sampai jumpa.”
Tanpa
berkata yang tidak perlu, kami melambaikan tangan dan berpisah.
Setelah
menyelesaikan tujuan, aku pun pulang.
“Senang
dia menyukainya.”
Aku
bergumam ringan sambil berjalan. Tapi kemudian, wajah yang familiar muncul di
hadapanku.
Tak
mungkin aku salah lihat.
Detak
jantungku mulai tak karuan.
Itu
adalah wanita yang paling tidak ingin kutemui.
“Eiji?”
Teman
masa kecil sekaligus mantan pacarku, Amada Miyuki, dengan wajah pucat seperti
zombie, memanggilku.
Mantan
pacar yang tidak pernah ingin kutemui lagi, kini berdiri di hadapanku.
※
──Sudut Pandang
Miyuki──
Eiji
mencoba bunuh diri?
Kenapa?
Kenapa dia sampai berpikir untuk melakukan hal seperti itu? Kenapa aku sama
sekali tidak menyadarinya?
Kenapa
aku tidak bisa menyadari bahwa tindakanku telah membuat Eiji sampai sejauh itu,
begitu terpojok?
Mendengar
kenyataan yang mengejutkan itu, aku mulai mengingat kembali semua yang telah
kulakukan selama ini.
Aku
berselingkuh dengan Kondo-san di belakang Eiji.
Aku
membatalkan janji di hari ulang tahunnya demi pergi berkencan dengan
Kondo-senpai.
Dan
setelah semuanya terbongkar, aku menjebak Eiji demi melindungi diriku sendiri
dan karena rasa takut.
Karena
itulah Eiji di-bully, dan sampai berpikir untuk mengakhiri hidupnya.
“Aku
ini… perempuan paling buruk, ya…”
Akhirnya
aku menyadarinya. Tidak, sebenarnya aku sudah tahu, tapi aku terus menolak
untuk mengakuinya. Karena aku takut.
Saat perselingkuhan itu ketahuan, aku takut kehilangan
semua—statusku sebagai siswi teladan, teman-temanku, semuanya yang telah
kubangun selama ini… Tapi saat itu aku memang dangkal.
Karena
demi melindungi hal-hal sepele seperti itu, aku justru kehilangan sesuatu yang
seharusnya tidak boleh kulepaskan—hal yang paling berharga.
Tanpa
sadar, aku melangkah ke taman tempat biasa.
Taman
di dekat rumah tempat aku dan Eiji sering bermain bersama.
Kami
sering bermain berdua di sini. Kami mengobrol sambil berayun di atas ayunan.
Tenggelam dalam kenangan masa lalu, aku duduk di atas ayunan.
“Kalau gitu, kalau aku sudah besar, aku mau jadi istri
Eiji-kun.” Itu kalimat yang kuucapkan saat kami masih kelas satu SD.
“Tidak
apa-apa, aku akan selalu bersamamu.”
Ketika
ayah Eiji meninggal mendadak, aku menghiburnya di tempat ini juga. Tapi aku
mengkhianatinya. Aku mengkhianati janji yang seharusnya paling tidak boleh
dikhianati. Aku melakukan sesuatu yang paling tak bisa dimaafkan sebagai
manusia.
Tapi
karena takut, aku terus lari. Aku terlalu takut untuk mengakuinya. Padahal Eiji
terus menepati janjinya. Saat ayahku meninggal dan aku sedih, dia yang
menghiburku. Sejak hari itu, dia terus melindungiku. Bahkan saat kami tidak
pacaran, dia selalu memikirkan caranya agar aku tidak merasa kesepian.
Dan
aku… aku membalas semua kebaikannya dengan pengkhianatan. Kenapa? Mungkin
karena aku mencari kehangatan seperti sosok ayah dari senpai. Padahal, kalau
soal kehangatan saja, Eiji pun punya itu. Tapi aku sudah terlalu terbiasa
dengan kehangatannya. Padahal dia selalu ada untukku.
“Akhirnya
kamu mengaku juga, ya. Iya, aku juga sudah lama menyukaimu.”
Aku
teringat hari saat dia menyatakan perasaannya padaku. Kenangan paling berharga
itu muncul satu per satu lalu menghilang lagi. Sepuluh tahun bersama Eiji
adalah waktu paling berharga dalam hidupku—itulah yang kini kusadari.
Kenapa…
kenapa selama ini aku begitu egois?
Dengan
pandangan yang kabur oleh air mata, aku menatap ke depan. Mataku tertumbuk pada
pengumuman: “Pemberitahuan Pembongkaran Wahana Bermain. Akan dilakukan
pemasangan wahana baru pada jam-jam berikut.”
Ah…
ayunan tempat kami bermain, perosotan itu, juga semua kenangan penting—akan
menghilang.
Saat
aku benar-benar menyadarinya, air mata tak bisa berhenti mengalir.
“Aku
sangat mencintainya... sangat mencintainya... sangat mencintainya... Tapi
karena aku sendiri, aku kehilangan segalanya.”
Kenyataan
yang begitu kejam membuat hatiku hancur berantakan. Padahal aku tidak pantas
menangis. Tapi air mata ini tidak bisa berhenti.
Aku
telah mengkhianati Eiji yang begitu baik hati. Aku pantas masuk neraka. Aku
tidak pantas mendapatkan kebahagiaan. Karena itu, sekarang aku bahkan akan
dibuang oleh Kondo-senpai, pria yang dulu kupilih dan meninggalkan Eiji demi
dia. Bahkan ibuku pun mulai menyerah padaku.
Aku
benar-benar bodoh.
Aku
tidak akan pernah bisa kembali ke tempat yang hangat dan penuh kebahagiaan itu.
Sambil
terisak, aku pulang dari taman kenangan itu dalam keadaan limbung. Yang tersisa
hanyalah kembali ke tempat kosong tanpa siapa pun.
Di
tengah kerumunan orang, aku melihat sosok yang seharusnya tidak kulihat.
Seseorang
yang paling aku rindukan.
Orang
yang paling aku cintai di dunia ini.
“Eiji?”
Tanpa
sadar aku memanggilnya. Padahal aku tidak punya hak sedikit pun untuk
melakukannya.
Tubuh
Eiji menegang seketika, lalu dia menoleh ke arahku.
“Miyuki?”
Wajahnya
penuh dengan kebingungan dan ketakutan. Tidak ada lagi senyum lembut yang biasa
ia tunjukkan. Seperti yang kuduga…
“Eiji
itu cuma teman masa kecil... tapi dia keras kepala, mirip stalker, dan pacar
yang kasar.”
Hari
itu, saat perselingkuhanku terbongkar, aku secara impulsif ikut membenarkan
omongan senpai dan mengucapkan kata-kata terburuk.
Kata-kata
yang pernah kuucapkan itu terus terngiang di kepalaku. Kata-kata yang tidak
akan pernah bisa dimaafkan. Kata-kata yang tidak bisa ditarik kembali.
Dan
bukan cuma itu. Aku bahkan menuduh Eiji atas hal yang tidak ia lakukan.
Padahal
aku punya banyak kesempatan untuk menyangkal tuduhan itu, tapi aku memilih
untuk diam.
Semua
demi mempertahankan citra sebagai siswi teladan.
Dengan
alasan sebodoh itu, aku telah memberikan luka seumur hidup pada Eiji.
Setelah
keheningan yang panjang, akhirnya Eiji membuka mulut.
“Apa
sih? Kamu datang buat mentertawakanku? Bukannya kamu sendiri yang bilang jangan
pernah bicara lagi?”
Suaranya
terdengar dingin, sangat berbeda dari Eiji yang kukenal.
Aku
tahu… aku telah melakukan sesuatu yang tak bisa dimaafkan.
Dan
saat Eiji benar-benar menolakku, perasaanku jauh lebih hancur dari yang
kupikirkan.
Padahal
aku sudah mempersiapkan diri. Tapi ternyata, hatiku tak kuat menahan luka itu.
“B-bukan
begitu… Aku cuma… meski sedikit, aku ingin kembali seperti dulu…”
Hubungan
kami sebagai teman masa kecil sudah benar-benar hancur.
Nada
waspada dari suara Eiji menancap tajam di hatiku.
Aku
tahu aku terdengar sangat egois. Tapi, setelah kehilangan semuanya, barulah aku
menyadari betapa berharganya dia.
Senpai
hanya mengucapkan kata-kata manis, tapi nyatanya aku hanyalah perempuan yang
nyaman dimanfaatkan olehnya.
Karena
tertipu oleh pria seperti itu, aku hampir kehilangan semuanya—pacar, teman,
keluarga.
Itulah
aku sekarang.
Meski
orang-orang menyebutku siswi teladan, kenyataannya aku cuma seseorang yang
egois.
Walau
pintar secara akademis, aku tak mengerti hal paling penting sebagai manusia.
Aku
terus-menerus diliputi rasa benci terhadap diri sendiri.
Namun,
di dalam diriku, masih ada bagian yang bergantung pada
Eiji.
Aku
berharap dia mungkin bisa memaafkanku.
Aku
berharap dia masih menganggapku teman masa kecil yang penting baginya.
Tapi
harapan manis itu dihancurkan oleh kata-katanya.
“Apa
yang kamu bicarakan sih?”
Kata-katanya
yang dingin membuat hatiku terasa remuk. Aku menggertakkan gigi, menundukkan
kepala, dan mencoba bicara dengan suara gemetar.
Kata-kata
itu singkat, tapi rasanya seperti hukuman penjara yang lebih panjang dari apa
pun. Hatiku remuk berkeping-keping.
Meski
begitu, satu-satunya hal yang bisa kulakukan hanyalah bergantung padanya.
Sambil
menangis tersedu-sedu, aku tetap mencoba menyandarkan diri padanya.
Perasaanku
sudah tidak bisa dikendalikan oleh logika.
“Maafkan
aku. Aku tahu aku telah melakukan hal yang paling buruk… Tapi aku tetap ingin
menyampaikannya…”
Mendengar
permintaan maafku, Eiji tidak menunjukkan perubahan ekspresi, hanya menghela
napas berat.
※
*Sudut
pandang Eiji*
Aku
menyadari bahwa diriku telah menjadi dingin terhadap permintaan maaf yang tak
terduga itu.
Aku
sadar bahwa keberadaan teman masa kecilku, yang dulu terasa begitu besar di
hatiku, kini sudah benar-benar menghilang.
Pernah
terpikir dalam benakku, “Bagaimana jika Miyuki suatu hari meminta maaf?” Tapi
aku selalu berpikir kemungkinan itu kecil, dan rasa bahwa aku tak akan bisa
memaafkannya jauh lebih besar.
Namun,
sejak bertemu Ichijou-san, bayangan Miyuki dalam hatiku semakin lama semakin
mengecil.
Dan
sekarang, dia hampir sepenuhnya menjadi bagian dari masa lalu.
Aku
bahkan sudah melewati tahap marah.
Sekarang,
aku hanya bisa mendengar kata-katanya tanpa merasakan apa-apa.
“Aku
pikir aku akan lebih marah... Tapi ternyata tidak. Ternyata lawan dari cinta
itu bukan benci, tapi ketidakpedulian.”
“Apa
yang kamu maksud, Eiji? Kalau Eiji mau memaafkanku, aku akan melakukan apa
saja…”
Mungkin,
ini adalah bentuk permintaan maaf dari Miyuki.
Tapi
tidak ada satu pun kata-katanya yang menyentuh hatiku.
Apa
yang aku cari bukanlah hal seperti itu, kurasa.
Padahal
kami sudah bersama lebih dari sepuluh tahun, tapi ternyata kami tidak pernah
benar-benar memahami satu sama lain dalam hal-hal penting seperti ini.
Ini
bukan soal memaafkan atau tidak.
Aku
hanya merasa tidak nyaman dengan permintaan maafnya.
Ada
diriku yang merasa muak hanya dengan mengingat tentang Miyuki.
“Bukan
begitu. Aku cuma… tidak mau kenangan kita jadi lebih kotor lagi. Aku rasa, kita
lebih baik tidak saling terlibat lagi. Itu yang terbaik untuk kita berdua. Aku
tidak mau sampai benar-benar membencimu, Miyuki.”
Aku
sengaja menyampaikan penolakan itu dengan jelas.
Karena
menurutku itu sikap yang paling jujur.
Memang,
mungkin aku tidak punya kewajiban untuk bersikap baik kepada mantan pacar yang
telah mengkhianatiku. Tapi kalau aku tidak bersikap jujur sekarang, aku sendiri
akan menjadi manusia rendah seperti mereka.
Meski
begitu, aku tidak perlu bersikap murah hati.
Karena
sekarang, Miyuki hanyalah sosok yang membuatku merasa jijik.
Mendengar
kata-kataku, Miyuki benar-benar membeku.
“Eh…”
Sedikit
merasa bersalah, aku melanjutkan.
Mungkin
dia tidak menyangka akan ditolak sekeras itu.
Tapi
akulah yang dipaksa untuk merasa seperti ini karena pengkhianatan kejamnya.
Aku
harus menyampaikannya dengan jelas.
Itu
adalah bentuk terakhir dari ketulusan yang bisa aku tunjukkan kepada seorang
mantan kekasih yang meminta kesempatan kedua.
Aku
telah memutuskan.
Dengan
kata-kata ini, aku akan sepenuhnya mengakhiri hubungan dengan perempuan
terburuk yang pernah menjadi kekasihku selama lebih dari sepuluh tahun.
“Aku…
sudah menyukai orang lain.”
Dengan
kata-kata penolakan yang singkat, aku pun melangkah pergi. Kalau dipikir-pikir,
ini seperti kebalikan dari hari di mana aku dikhianati. Tapi aku tidak memukul
siapa pun. Aku juga tidak berselingkuh.
Orang
yang lebih dulu menghancurkan hubungan kami adalah Miyuki.
Jadi,
sampai di sini saja sudah cukup. Tidak perlu lebih dari ini.
“Tidak…
Jangan… Eiji…! Eiji…!”
Miyuki
menjerit, tapi aku tidak punya kewajiban untuk menjawabnya.
Tanpa
menoleh, aku terus berjalan ke depan.
※
── Sudut pandang
Ichijou Ai──
Untuk
pertama kalinya dalam hidupku, aku makan ramen di sebuah restoran.
Tentu
saja, bukan berarti aku belum pernah makan ramen sama sekali. Sejak aku
meninggalkan rumah ayah dan mulai hidup sendiri, aku sempat mencoba beberapa
makanan instan yang selama ini membuatku penasaran.
Mie
instan dan cup ramen ternyata enak. Tapi aku cepat bosan, dan akhirnya kembali
ke pola makan seimbang yang sudah diajarkan sejak kecil. Lagi pula, aku lumayan
suka memasak, dan aku menikmati waktu memasak makan malam bersama pembantu
rumah yang sering mengajariku.
Tapi,
aku selalu ingin suatu hari mencoba makan ramen di restoran ramen. Hanya saja,
buat seorang gadis pergi sendiri ke tempat seperti itu, rasanya agak berat.
Itulah
sebabnya aku sangat senang ketika Senpai ingat apa yang aku katakan dengan
santai waktu itu. Apalagi, di akhir pekan, pembantu rumah juga libur, jadi aku
tak perlu makan malam sendirian dan merasa kesepian.
Dia
mengingat percakapan kecil itu dan mengajakku pergi. Tidak ada gadis yang tidak
merasa bahagia saat diperlakukan dengan lembut seperti itu oleh orang yang
disukainya.
Walaupun
kami hanya makan malam lalu langsung berpisah, itu tetaplah waktu yang
menyenangkan. Bahkan perasaan suram yang muncul karena membaca laporan tadi,
langsung lenyap.
“Ah
iya, tehnya habis.”
Aku
baru sadar kalau teh yang biasa kupakai untuk menemaniku belajar sudah habis.
Tanpa
teh itu, konsentrasiku akan terganggu, jadi aku pun keluar dari apartemen untuk
pergi ke supermarket terdekat.
Mungkin
saja Senpai masih ada di sekitar sini. Padahal kami baru saja berpisah, tapi
aku sudah mencari-cari keberadaannya lagi.
Aku
benar-benar sudah parah. Tapi meskipun sudah parah seperti ini, hatiku tetap
berdebar saat mencoba mencarinya.
Beberapa
langkah kemudian, aku melihat punggung Senpai. Mungkin dia bisa menemaniku
belanja di supermarket. Meskipun mungkin menyusahkan, aku ingin mengumpulkan
keberanian untuk mengajaknya.
“Eiji-sen…”
Tepat
saat aku hendak memanggilnya, aku menyadari ada satu sosok lagi.
Amada
Miyuki-san.
“Kenapa
dia di sini...?”
Apa
dia menunggu Senpai? Atau mungkin mengikutinya?
Perasaan
bahagia yang tadi sempat mengembang langsung lenyap.
Tidak
bisa, belum saatnya. Eiji-senpai yang baru saja mulai bisa tersenyum setelah
terluka begitu dalam, belum siap untuk berhadapan dengan Amada-san.
Lagi
pula, dia baru saja dikhianati oleh teman masa kecilnya yang sudah bersamanya
selama sepuluh tahun. Meskipun dia terlihat tenang, jelas itu belum cukup waktu
untuk pulih.
Dan
tadi, saat mendengar percakapan mereka, aku tahu bahwa Amada-san masih belum
bisa melepaskan Senpai. Ada kemungkinan dia akan memanfaatkan kebaikan hati
Senpai dan mencoba kembali padanya.
Lalu,
aku juga menyadari apa yang sebenarnya membuatku panik.
Karena
aku menyadari kemungkinan bahwa dia bisa direbut oleh orang lain. Aku
takut—bagaimana kalau pria bernama Aono Eiji itu tidak memilihku?
Lagipula,
kami belum berada dalam hubungan di mana kami bisa menunjukkan rasa kepemilikan
satu sama lain.
Ketakutan
itu membuatku, meskipun sadar ini salah, bersembunyi di balik bayangan untuk
mendengarkan percakapan mereka dari jarak yang nyaris bisa terdengar.
“B-bukan,
bukan begitu. Aku hanya ingin bisa kembali seperti dulu, meskipun sedikit
saja...”
“Apa
yang kamu bicarakan?”
“Maaf...
Aku tahu aku sudah melakukan hal yang paling buruk.
Tapi
aku tetap ingin mengatakannya...”
Kata-kata
pertama yang bisa kudengar adalah pembelaan dari Amada-san. Aku hampir saja
marah mendengarnya. Dia tak punya hak untuk mengatakan hal seperti itu.
Sebaliknya,
Senpai hanya terdiam sejenak, lalu menjawab dengan ekspresi datar.
“Kupikir
aku akan lebih marah. Tapi ternyata, lawan dari cinta itu bukan benci, tapi
ketidakpedulian.”
“Apa
maksudmu, Eiji? Kalau kau mau memaafkanku, aku akan melakukan apa saja…”
“Lawan
dari cinta adalah ketidakpedulian”—tak ada manusia yang tidak akan terpukul
mendengar itu dari orang yang mereka cintai. Sebuah penolakan tanpa belas
kasihan. Dan Amada-san jelas salah bicara.
Senpai
yang selalu lembut, jelas menunjukkan kekecewaan saat mendengar kata-kata itu.
Wajar saja. Itu bukan kata-kata yang dia harapkan.
Nada
suaranya mulai terdengar dingin, bahkan seperti menunjukkan rasa jijik secara
naluriah.
“Bukan
itu. Aku hanya... tidak ingin kenangan kita jadi lebih kotor. Kurasa, akan
lebih baik kalau kita tidak saling terlibat lagi. Itu akan menjadi yang terbaik
bagi kita berdua. Aku tidak ingin benar-benar membencimu, Miyuki.”
Dia
benar-benar pria yang baik. Bahkan setelah semua yang terjadi, dia tidak
menodai kenangan mereka bersama.
Kalau
aku yang ada di posisinya, mungkin aku sudah melontarkan kata-kata penuh dendam
kepada mantan kekasihku. Tapi dia berusaha keras menahan diri. Itu menunjukkan
betapa dia pernah sangat menyayangi wanita itu.
Dan
akhirnya, dia menyatakan penolakannya dengan jelas. Pria yang biasanya lembut
itu bahkan tak ragu untuk menyakiti seseorang. Itu membuktikan betapa besar
rasa kecewanya.
“Aku...
sudah menyukai orang lain.”
Mendengar
kata-kata itu, jantungku langsung berdetak kencang.
Mungkin
aku terlalu percaya diri. Tapi jika itu memang aku... betapa bahagianya aku.
“Maksudmu
Ichijou-san?”
Setelah
berkali-kali bergumam “jangan” dan “tidak”, Amada-san tiba-tiba menyebut
namaku.
Aku
mungkin akan mendengar sesuatu yang seharusnya tidak kudengar.
Tapi
Senpai, yang hendak pergi, tidak menoleh dan menjawab:
“Aku
rasa, aku tidak seharusnya menyampaikan itu ke Miyuki sebelum orang yang
bersangkutan mendengarnya langsung. Jadi, aku tidak bisa menjawab.”
Dia
pun pergi meninggalkan Amada-san yang menangis tersungkur di tempat.
※
*Sudut
pandang Eiji*
Setelah
berpisah dengan Miyuki, aku melangkah maju.
Ternyata,
lukanya tidak sedalam yang aku bayangkan. Tentu saja, bukan berarti aku tidak
terluka sama sekali, tapi jauh lebih ringan dari yang aku duga.
Yah,
kami sudah bersama selama lebih dari sepuluh tahun. Ada banyak kenangan. Tapi
sekarang, semua itu sudah menjadi bagian dari masa lalu.
Lewat
kejadian kali ini, aku menyadari bahwa aku telah menemukan sesuatu yang jauh
lebih berharga daripada apa yang hilang.
Seorang
adik kelas yang seperti malaikat, rela menolongku meski itu merugikan dirinya
sendiri.
Sahabat
yang menunjukkan ketulusan untukku.
Ibu
dan kakakku yang mencintaiku tanpa syarat, tak peduli seperti apa diriku.
Paman
Minami, yang meneruskan kehendak ayahku.
Dan
para guru, yang menyisihkan waktu sibuk mereka demi aku, berusaha sebisa
mungkin agar aku tidak dirugikan.
Meskipun
aku kehilangan sosok yang dulu sangat berarti bernama Miyuki, aku masih
memiliki begitu banyak hal berharga. Mungkin itulah mengapa aku tidak merasakan
kehilangan yang mendalam. “Aku harus bahagia… demi semua orang yang sudah
mendukungku.”
Dengan
tekad itu, aku pun melangkah pulang. Tapi kemudian aku merasa seseorang
memanggil namaku dari belakang.
“Senpai!”
Saat
menoleh, aku melihat Ichijou-san berdiri di sana sambil tersenyum. Padahal kami
baru saja berpisah.
“Ada
apa?”
Rasanya
seperti mimpi. Orang yang paling ingin kutemui saat ini, ada di hadapanku.
“Sebenarnya,
aku lupa beli teh. Jadi aku ke supermarket dekat sini. Terus, aku lihat Senpai,
jadi aku panggil deh.”
Ia
terlihat sedikit canggung. Wajahnya memerah sedikit.
“Begitu
ya. Tapi sudah malam, bahaya kalau jalan sendirian. Aku temani, ya.”
“Terima kasih. Tapi ini jadi merepotkan, tidak apa-apa?”
“Tidak apa-apa. Hari ini, aku ingin sedikit lebih lama bersamamu.”
Begitu
aku selesai bicara, aku sadar itu terdengar terlalu jujur. Aku terlalu
menunjukkan perasaanku.
Dia
pun tertawa malu.
“Terima
kasih. Senpai memang sangat baik, ya.”
“Yah,
kamu kan cewek. Lagipula… ah, tidak, lupakan.”
Ichijou-san
itu cantik luar biasa, siapa pun yang lihat pasti setuju. Wajar saja kalau aku
khawatir. Tapi aku tudak mungkin bilang sejujurnya begitu.
“Fufu,
Senpai khawatir ya? Makasih ya. Kalau gitu, hari ini aku manja sedikit, boleh
tidak?”
Ia
tersenyum polos, dan entah kenapa hari ini senyumnya terasa lebih menyilaukan
dari biasanya.
“Aku
senang, tahu.”
“Eh?
Senang kenapa?”
“Soalnya
kamu bisa semudah itu manja ke aku. Di sekolah, kamu itu lebih sering jadi
tempat orang lain bergantung, daripada bergantung ke orang lain.”
Melihat
sisi dirimu yang berbeda seperti ini, membuatku senang.
Karena
aku merasa kita jadi punya hubungan yang lebih… istimewa.
“Aku
cuma bisa seperti ini sama kamu. Soalnya… kamu itu spesial.”
Dengan
nada menggoda, ia mengatakan itu. Aku menjawab dengan senyum lebih lebar dari
biasanya.
“Kalau
begitu, aku sangat senang. Karena itu berarti aku orang spesial buatmu, dan
kamu cukup percaya padaku sampai bisa bergantung seperti ini.”
Aku
menjawab dengan nada bercanda seperti biasa. Tapi tiba-tiba wajahnya memerah
terang, dan ia mengambil napas dalam-dalam untuk menenangkan diri. Ternyata dia
bisa berekspresi seperti ini juga, ya.
“Senpai
tuh, jawabnya selalu sangat serius. Dasar bodoh.”
Melihatnya
mengucapkan “bodoh” dengan cara yang begitu manis, aku pun sadar…
Aku sedang
merasakan kebahagiaan.
“Kalau
begitu, yuk kita jalan.”
“Iya.
Tolong temani aku, ya.”
Kami
pun mulai melangkah, seakan benar-benar meninggalkan masa lalu.
Dan
kali ini, dia yang menggenggam tanganku terlebih dahulu.
※
──Sudut pandang Ichijou Ai──
Kami
mulai berjalan, dengan pemahaman yang sama bahwa ini adalah langkah perpisahan
dari masa lalu.
Aku
sudah berkali-kali tanpa sadar menerima kata-kata yang terasa seperti pengakuan
cinta. Dia selalu menatap mataku dengan sungguh-sungguh dan memberiku kata-kata
yang jujur, tanpa kepalsuan.
Laki-laki
yang pernah menyatakan cinta padaku sebelumnya tak pernah benar-benar
menggambarkan diriku dengan kata-kata mereka sendiri. Mereka hanya bicara
tentang penampilanku yang menarik, atau tentang betapa populernya aku—semua
berdasarkan penilaian orang lain.
Itulah
sebabnya aku pernah berpikir untuk hidup sendiri selamanya.
Aku
tak pernah membayangkan ada seseorang yang benar-benar akan berjalan di sisiku,
melihat dunia dari sudut pandangku, dan memahami perasaanku.
Tadi
pun begitu. Dia menyadari bahwa aku ingin dimanja, dan dia menerimanya dengan
hangat.
Seseorang
sebaik dia... seharusnya aku tak pantas berada di sisinya. Semua ini hanyalah
hasil dari serangkaian kebetulan yang luar biasa…
Tapi
seperti halnya dia telah membawaku ke dalam kebahagiaan, aku pun ingin
membuatnya bahagia.
“Agar
dia bisa merasa bahwa memilihku adalah keputusan yang tepat...”
※
Aku
pulang ke rumah dan tanpa pikir panjang membuka situs novel daring yang sudah
lama ku daftar. Situs besar yang sebenarnya selalu membuatku tertarik, tapi
sampai sekarang hanya sebatas mendaftar saja.
Kata-kata
Ichijou-san kemarin terlintas kembali di benakku. Aku sendiri tak tahu apakah
aku punya bakat, tapi setelah kehilangan tempat bernama klub sastra, situs ini
menjadi satu-satunya ruang bagiku untuk berkarya.
Selama
ini aku terlalu terpukul untuk bisa menulis, tapi berkat dia, semangatku
perlahan mulai kembali. Aku menyalin naskah yang dulu kutulis untuk buletin
klub sastra, lalu menempelkannya di formulir unggah.
Setelah
mengisi semua informasi yang dibutuhkan, akhirnya aku menekan tombol unggah
yang selama ini tak berani kusentuh. Biasanya aku akan diliputi rasa takut.
Menunjukkan tulisanku ke publik itu sangat menegangkan.
Sebenarnya
aku memang tertarik pada dunia novel daring, tapi tetap saja, membagikannya di
situs yang bisa dilihat siapa pun membutuhkan keberanian besar. Namun, tombol
itu terasa sangat ringan hari ini.
“Yah,
paling nggak aku nggak bakal dihujat sehebat di sekolah,” gumamku.
Aku
merasa sudah menjadi lebih kuat. Pengalaman pahit itu entah bagaimana memberiku
semacam keberanian.
Tanpa
alasan, aku menekan tombol refresh. Beberapa menit kemudian, jumlah pembaca
naik sedikit.
“Eh,
sudah ada sepuluh orang yang baca.”
Belum
ada komentar, tapi hanya dengan tahu ada orang yang membaca tulisanku, hatiku
sudah terasa hangat. Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu kamarku.
“Eiji,
boleh bicara sebentar?”
Itu
suara Ibu.
“Ya,
pintunya tidak dikunci, masuk saja.”
Ibu
masuk dengan senyum lebih lembut dari biasanya.
“Sebenarnya,
kemarin Ibu pergi ke kantor polisi bersama Takayanagi-sensei.”
“Eh?
Ke polisi?”
Aku
sedikit terkejut, tapi begitu mendengar bahwa beliau pergi bersama sensei, aku
langsung bisa menebaknya.
“Iya,
tentang kejadian kamu dipukul itu. Ternyata ada orang yang merekam kejadian
itu, dan sensei yang menemukannya. Jadi kami pergi untuk mengeceknya. Maaf ya,
Ibu tidak sadar waktu itu. Pasti sakit, ya?”
Ternyata
dugaanku benar. Ibu memelukku dengan penuh kasih. Iya, aku bukan hanya punya
Ichijou-san, tapi juga keluarga yang mengerti dan peduli padaku. Aku punya
banyak orang yang memahamiku. Aku seharusnya menceritakan semuanya sebelum
pergi ke atap hari itu. Kalau aku tak bertemu dia, mungkin semua orang akan
bersedih karenaku. Betapa bodohnya aku saat itu. “Sekarang aku sudah tidak
apa-apa. Soalnya semua orang ada di sisiku.”
“Iya,
kita memang dikelilingi orang-orang baik. Ayahmu yang sudah tiada juga pasti
melindungi kita. Tadi Ibu sudah mengajukan laporan resmi. Untuk Kondo, si siswa
kelas tiga itu.”
Perasaanku
jadi campur aduk mendengar itu, antara lega dan cemas.
“Begitu,
ya…”
Kalau
ada rekaman kejadian waktu itu, Kondo takkan bisa mengelak. Dia pasti akan
hancur. Aku sempat takut dia akan membalas dendam, tapi kupikir aku akan
baik-baik saja. Ada banyak orang yang bersamaku.
“Lagi
pula, kamu hebat sekali, Eiji. Katanya kamu dan Ai-chan menolong pria yang
pingsan kemarin? Polisi yang cerita ke Ibu. Ibu sangat bangga. Kamu anak yang
luar biasa.”
Mendengar
itu, emosi di dadaku meluap. Aku hampir menangis seperti anak kecil.
“Kenapa
Ibu bisa tahu…?”
Aku
tak sempat bilang apa-apa, tapi Ibu sudah memahaminya.
“Itu
karena polisi yang menyadarinya. Mereka mengira anak yang dipukul dan anak yang
kemarin menyelamatkan pria itu adalah orang yang sama. Dan katanya, kamu dan
Ai-chan akan diberi penghargaan oleh pemadam kebakaran. Besok, petugasnya akan
datang ke sekolah.”
“Bagaimana dengan pria yang pingsan itu?” Tanpa sadar, nadaku
seperti anak SD.
“Katanya
dia selamat. Karena kalian bertindak cepat, nyawanya terselamatkan. Dia ingin
sekali mengucapkan terima kasih langsung…”
“Syukurlah…”
Itu
yang terus menghantui pikiranku. Aku bahkan sempat mencari informasi lewat
internet dan media sosial, tapi tak menemukan apa pun.
“Kamu
benar-benar hebat. Ayahmu pasti bangga. Ibu akan menjagamu bukan hanya sebagai
Ibumu, tapi juga untuk menggantikan Ayah.”
“Iya…”
Untuk
pertama kalinya, aku merasa sedikit lebih dekat dengan Ayah yang selama ini
hanya bisa kukagumi dari jauh. Dadaku terasa hangat.
Dilingkupi
rasa tenang yang tak bisa dijelaskan, aku membiarkan diriku bersandar padanya,
seperti anak kecil.
Keesokan
harinya.
Begitu
berita ini menyebar, suasana di sekolah berubah drastis.
Dan
selama seminggu berikutnya, situasinya berbalik. Kini, giliran Kondo yang
terpojok.
Dari situlah aku sadar—sejak hari itu, dia telah berjalan menuju kehancurannya sendiri.
Posting Komentar