—Sudut Pandang Endo—
Di
taman pada sore hari, aku mengecek perkembangan rencana saat ini.
Sudah
kupasang paku kuat di kerja sama tim klub sepak bola. Sekarang tinggal menunggu
semuanya hancur dari dalam secara alami. Aku seharusnya juga sudah berhasil
mengisolasi Mitsuda, orang yang paling dekat dengan Kondo di klub itu. Cepat
atau lambat, kabar tentang foto itu akan sampai ke telinga Kondo. Kalau itu
terjadi, dia akan merasakan keputusasaan karena dikhianati oleh orang yang
paling dia percaya di klub.
Kalau
hubungan antara Kondo dan Amada Miyuki juga hancur, dia akan sepenuhnya
terisolasi.
Ini
adalah rencana untuk membalas keputusasaan yang pernah dialami oleh Aono
kepadanya.
Dibandingkan
dengan apa yang terjadi pada Eiji Aono, rasa sakit yang kualami ini tidak ada
apa-apanya… Dikhianati oleh sahabat masa kecil, bahkan difitnah melakukan
sesuatu yang tidak kulakukan, lalu diisolasi di sekolah. Itu bukan perlakuan
manusia, benar-benar perbuatan keji.
Makanya,
aku akan benar-benar mengambil semua tempat bernaung dari dia. Sama seperti
yang dia lakukan pada temanku. Dan saat Kondou yang terisolasi itu akhirnya
berhubungan dengan dalang di balik semua ini, aku akan mengungkap sumber dari
segalanya dan menghancurkan dia juga.
Setelah
semua selesai, aku akan menerima hukuman apa pun. Karena aku rela melakukan apa
saja demi menyeret mereka ke neraka.
“Yo,
Endo! Akhir-akhir ini kita sering ketemu ya!”
Saat
sedang duduk merenung di bangku taman, suara tiba-tiba menyapaku. Itu adalah
Imai.
“Ah,
aku cuma jalan-jalan. Kamu latihan lari buat jaga stamina? Tapi kalau
dipikir-pikir, bukannya hari ini libur ya?”
Dia
tampak ngos-ngosan dengan pakaian olahraga yang nyaman. Padahal masih bulan
September dan cuaca cukup panas, tapi dia tidak kelihatan kelelahan. Seperti
biasa, dia seimbang dalam akademik dan fisik.
“Yup!
Hari ini aku bolos karena ada urusan. Tapi Endo juga jangan terlalu memaksakan
diri. Kalau ada apa-apa, bilang aja ya.”
Imai
tersenyum lebar. Tapi di balik senyum itu, ada sedikit warna berbeda.
Warna
kekhawatiran yang tertuju padaku.
Benar
juga. Imai itu cerdas dan punya inisiatif. Mungkin kesalahanku adalah tanpa
sengaja berselisih jalan dengannya pada hari saat aku menjalankan aksiku di
klub sepak bola. Tapi, dia bukan tipe yang akan mengkhianati orang. Aku percaya
dia akan menghormati keputusanku. Seolah-olah dia sengaja berpura-pura tidak
tahu.
“Apa
sih? Aku cuma jalan-jalan kok. Kamu terlalu khawatiran. Aku memang baru sembuh,
tapi aku baik-baik saja.”
Aku
tertawa untuk mengalihkan perhatian. Sedikit perasaan bersalah menusuk hatiku.
“Itu
dia. Jadi apa yang akan aku bilang setelah ini, anggap saja omong kosong orang
yang terlalu khawatir, ya.”
Sentuhan
kebaikan dari seorang teman hampir membuatku menanggalkan topeng pembalas
dendam yang dingin. Tapi aku menahan diri dan mengangguk sambil tersenyum.
“Aku
tidak tahu detailnya kamu mau ngapain. Tapi aku tahu ada sesuatu yang terjadi.
Tapi kurasa, aku tidak boleh ikut campur terlalu jauh. Tapi tolong, jangan
mengorbankan dirimu sendiri. Kurasa, tujuan akhir kamu mencakup pengorbanan
diri. Jangan bilang kalau itu cara kamu membalas budi pada Aono, itu terlalu
menyedihkan.”
Kata-kata
itu membuat jantungku berdegup kencang. Nafasku jadi sesak.
“Apa
sih maksudmu? Aku tidak ngerti…”
“Ya
kan. Makanya, anggap aja omong kosong. Tapi sebagai teman, aku ingin Endo terus
tersenyum. Aku yakin Eiji juga berpikir seperti itu. Kalau kamu terluka, dia
pasti sedih.”
Melihat
teman yang berbicara seolah tahu segalanya membuatku terdiam.
“Kamu
tahu semuanya? Apa yang mau aku lakukan?”
Aku
bertanya dengan takut-takut. Dia menggeleng pelan.
“Aku
sudah menyelidiki hubungan antara kamu dan Kondo. Tapi aku nggak menyelami
terlalu dalam. Jadi cuma bisa menebak-nebak.”
Tidak,
kalau dia mau, dia pasti bisa tahu apa yang terjadi saat SMP. Dan fakta dia
menyebut nama Aono, membuat kemungkinan besar dia tahu segalanya.
Kebaikan
dan kehangatan dari seseorang yang benar-benar peduli padaku… Ternyata aku
sudah mendapatkan kembali tempat yang selama ini kucari. Dan sekarang aku
benar-benar menyadari betapa berharganya itu.
Tapi
aku sudah sejauh ini. Tidak mungkin berhenti sekarang. Aku harus menjatuhkan
Kondo dan dalangnya.
“Terima
kasih, Imai.”
Hanya
itu yang bisa kukatakan. Dia tersenyum.
“Yup.
Gimana kalau denger cerita lama?”
“Cerita
lama?”
“Iya.
Awal mula aku berteman dekat sama Eiji. Kamu ingin tahu, kan?”
“Ya.
Aku belum pernah dengar juga.”
“Itu
waktu SD.”
“SD?
Bukannya kalian sudah akrab dari dulu? Kan teman masa kecil.”
“Iya
sih, kami sering main bareng. Tapi waktu itu aku tidak menganggap dia sahabat.
Cuma kayak kenalan lama.”
“Oh
begitu, dulu sempat begitu ya. Sekarang sih rasanya nggak percaya.”
Mendengarnya,
aku teringat dua sahabat masa kecilku juga. Hubunganku dengan Eri sudah
berakhir, dan yang satu lagi sudah menjauh. Karena aku berkata hal yang
menyakitkan padanya, padahal dia mencoba menolongku.
“Nah,
jujur saja ya, aku ini tipe yang bisa ngelakuin apa saja. Karena itu aku sempat
dikucilkan di kelas. Gara-garanya, waktu latihan dansa buat lomba sekolah, aku
cepat banget bisa ngikutin, tapi cewek di sebelahku lambat karena dia tidak
jago olahraga. Kalau dipikir sekarang, ya wajar aja. Tapi waktu itu aku masih
anak-anak bodoh.”
Aku
mengangguk, menyuruh dia lanjut.
“Aku
keceplosan bilang, ‘Kamu kok malas sekali sih?’ Gila, itu sangat kejam. Dia
langsung menangis, dan aku jadi dijauhi teman-teman. Akhirnya cuma Eiji yang
masih ngobrol sama aku.”
“Eiji
tetap ngobrol sama kamu?”
“Itu
luar biasa. Dia berani ambil risiko dikucilkan juga demi tetap dekat denganku.
Bahkan lebih dari itu, dia bantu aku buat pelan-pelan diterima lagi sama kelas.
Kayak ngatur skenario. Kalau ada soal sulit, dia langsung minta bantuanku.
Terus aku bantu dengan baik, jadi aku mulai kelihatan bisa diandalkan. Di
homeroom juga, dia bikin aku jadi kayak juru bicara, supaya teman-teman mulai
dengerin aku lagi.”
“Hebat.
Aono memang orang hebat.”
“Iya.
Aku diselamatkan olehnya. Dan kurasa dia sendiri sudah lupa tentang itu. Tapi
justru karena dia begitu, aku yang merasa gagal karena telat sadar waktu dia
mulai terluka. Aku ini benar-benar tidak tahu balas budi.”
“Tidak,
kamu sekarang juga berusaha demi dia. Itu bukti kamu peduli.”
“Itu
saja yang bisa aku lakukan. Dia itu harapan dan matahari dalam hidupku.
Makanya, aku tidak akan memaafkan orang yang melukai dia.”
Aku
mengerti. Aku juga pernah diselamatkan oleh Aono.
“Kamu
juga, Endo?”
Imai
belum tahu semuanya. Karena aku berteman dengannya lewat Aono, aku belum pernah
cerita. Tapi karena dia sudah menyelidiki masa laluku, aku bisa cerita.
“Aku… Aku harus mengulang setahun gara-gara ulah Kondo dan
gengnya. Jarang sekali kan, ada yang mengulang masuk SMA? Jadi waktu masuk, aku
udah siap buat sendirian. Tidak masalah pikirku. Bisa masuk SMA saja sudah
cukup, sampai bikin orang tuaku nangis bahagia. Aku pikir tidak boleh minta
lebih.” Sekarang giliran Imai yang mendengarkan.
“Tapi
karena situasiku unik, gosip cepat menyebar. Jadi saat tukar tempat duduk, aku
duduk dekat Aono. Aku cuma baca novel dan berharap waktu cepat berlalu. Tapi
tiba-tiba dia ngomong, ‘Endo, aku juga suka penulis itu lho!’”
“Itu
memang gayanya dia.”
“Aku
kaget. Dia langsung panggil nama seperti sudah berteman lama. Terus diajak
ngobrol soal novel. Bahkan ngajak nongkrong ke restoran cepat saji. Kita
ngobrol sambil makan kentang ukuran besar. Rasanya aneh tapi hangat.”
“Haha,
lucu juga.”
“Sejak
itu, berkat Aono, aku bisa mulai ngobrol sama orang lain. Bisa punya teman
seperti kamu.”
“Iya.”
“Waktu
kita pisah kelas karena penjurusan, aku sedih banget.”
“Dia
juga kangen ngobrol sama kamu.”
“Itu
baru bisa kulakukan setelah semuanya selesai. Karena dulu aku pengecut, lari
dari masalah waktu SMP, dan orang sebaik Aono jadi korban. Aku nggak bisa
biarin itu. Aku harus singkirkan pelakunya…”
Aku
sengaja berhenti di situ. Imai sudah mengerti.
Kami
berdua terdiam.
“Yasudah,
aku balik dulu. Tapi ingat ya, kapan pun kamu butuh bantuan, bilang saja. Kamu
tetap temanku yang berharga.”
Imai
kembali berlari. Mungkin sambil dengerin musik. Dia sempat utak-atik smartphone-nya.
Aku
juga harus pulang. Besok harus bangun pagi.
Saat
keluar dari taman, aku melihat seorang siswi dari sekolah lain. Saat berpapasan
dengannya...
“Tunggu,
Kazuki. Kamu Endo Kazuki, kan?”
Suara
yang sangat familiar. Suara seorang gadis.
Bukan
Eri, tapi satu lagi teman masa kecilku. Gadis yang berusaha menguatkanku
setelah aku dikhianati oleh Eri.
“Aku
Doumoto Yumi. Masih ingat?”
Waktu
terasa berhenti sejenak. Kenapa dia di sini?
Tidak,
ada sesuatu yang aneh dari Imai tadi. Dia tahu banyak tentang masa SMP-ku.
Berarti dia tanya langsung ke orang yang tahu. Apakah ini semua rencana dia?
Gadis
yang selalu ingin aku mintai maaf kini tersenyum di depanku. Senyuman yang sama
seperti dulu. Tanpa sadar aku membalasnya seperti dulu juga.
“Yumi…
Mana mungkin aku bisa lupa. Lama tidak ketemu.”
Suaranya
masih sehangat dulu, meskipun lebih dewasa. Rambutnya yang dulu panjang kini
lebih pendek. Terakhir aku lihat dia adalah saat upacara kelulusan SMP.
Setelah
dikhianati Eri dan menarik diri dari dunia, banyak teman datang menjenguk. Tapi
aku tolak semuanya. Hanya Yumi yang terus datang sampai akhir.
“Senang
deh. Soalnya kamu tidak pernah kasih kabar, jadi aku pikir kamu udah lupa aku.”
Dia
tersenyum agak sedih. Hatiku terasa sakit melihat itu.
“Tidaj
mungkin. Aku tidak punya hak untuk lupa.”
Pada
akhirnya, aku takut pada kebaikan dia. Karena trauma saat Eri, yang dulunya
baik, tiba-tiba berubah.
“Apa
maksudnya tidak punya hak? Tapi kamu tidak pernah kasih kabar, aku jadi sedih
lho…”
Dia
menggerutu seperti dulu.
“Aku yang dulu menolak kebaikanmu… Mana mungkin aku bisa
hubungi kamu. Aku bahkan tidak pantas buat bahagia.” Aku pengecut yang lari
dari kebaikannya.
Sejak
kejadian itu, semua teman masa SMP-ku menjauh.
“Aku
selalu tahu, kamu itu tetap orang yang baik.”
“Kebaikan?
Aku?”
Kata-katanya
mengejutkanku.
“Iya.
Jujur aja, aku juga menyesal. Aku maksa masuk ke ruang hatimu tanpa mikirin
perasaanmu yang sedang hancur. Aku terlalu egois. Kamu mungkin menyalahkan diri
sendiri karena kamu orang baik. Tapi aku juga salah. Maaf, ya.”
Waktu
itu, hari kelulusan SMP. Saat aku bolos sekolah, dia datang mengantarkan ijazah
dan buku tahunan. Karena aku masih percaya padanya, orang tuaku membiarkan dia
masuk ke kamar.
※
“Hei, Kazuki? Sedikit saja tidak apa-apa. Libur musim semi
ini, ayo kita pergi ke suatu tempat. Terus-menerus di kamar saja hanya akan
membuatmu makin tertekan.” Seperti biasa, dia mengkhawatirkan aku.
Tapi,
mungkin karena aku tidak bisa ikut ujian masuk sekolah, bahkan tidak menghadiri
upacara kelulusan, ada semacam rasa gelisah dalam diriku. Dan karena
kegelisahan itu, aku melampiaskannya padanya.
“Diam.
Kau tak akan pernah bisa mengerti perasaanku. Enak ya jadi kamu. Punya masa
depan cerah di SMA. Tidak sepertiku... Entah itu rasa kasihan atau rasa
keadilan turunan dari pamanku, semuanya cuma mengganggu. Sudahlah, biarkan aku
sendiri!”
Hanya
dengan mengingatnya saja, aku sadar betapa kejamnya kata-kataku. Yumi sudah
berusaha keras setiap hari membawakanku lembaran soal agar aku tak ketinggalan
pelajaran, bahkan membawakan formulir ujian sekolah negeri.
Dan
kepada orang yang sudah begitu membantuku, aku melontarkan kata-kata paling
buruk.
Seolah
benang kesabarannya putus, dia mulai menangis.
“Maaf
ya. Aku ternyata benar-benar tidak mengerti perasaanmu, Kazuki. Mungkin semua
ini cuma paksaan sepihak dariku. Aku sangat minta maaf.”
Mendengar
kata-kata itu, penyesalan besar langsung menyerangku. Aku merasa sangat buruk.
Aku dibanjiri rasa benci pada diri sendiri dan rasa bersalah, sampai-sampai tak
bisa berkata apa-apa.
Beberapa
detik kemudian, dia berkata, “Maaf, aku pulang dulu.”, lalu keluar dari
kamarku. Tapi sebelum pergi, dia meninggalkan satu kalimat terakhir:
“Selamat
tinggal, Kazuki. Sebenarnya, aku mungkin menyukaimu...
meskipun
selama ini aku menahan perasaan itu karena kau pacarnya Eri, sahabatku.”
※
“Semua
ini berkat Yumi. Karena itulah aku bisa sekolah SMA sekarang.”
Kami
duduk berdampingan di bangku taman, berbincang dengan tenang. Rasanya ini
adalah kata-kata jujur pertama yang keluar dari hatiku setelah sekian lama.
“Begitu
ya... Kalau kamu bisa sedikit saja maju ke depan, itu sudah cukup buatku.
Semoga sikap ikut campurku ini setidaknya ada manfaatnya.”
“Bukan ikut campur. Waktu itu aku cuma marah dan melampiaskan
perasaanku... Tapi sekarang aku sadar, betapa berharganya bantuanmu. Orang baru
sadar setelah kehilangan, ya. Hal-hal penting, maksudku.” Dia tersenyum lembut.
“Kazuki,
sebagian besar hal aku dengar dari Imai-kun. Dia pintar ya. Dia sadar kamu
sedang kesulitan dan mulai mencari tahu lewat media sosial. Lewat banyak teman,
akhirnya dia menemukan aku.”
Ternyata
benar.
“Makanya...
biarkan aku mengatakannya. Ini kata-kataku sendiri. Tolong, maafkan dirimu
sendiri. Tak ada alasan kamu tidak pantas untuk bahagia. Aku tahu itu lebih
dari siapa pun. Dan ya, teman-teman SMP kamu juga semua khawatir. Meski mereka
sibuk dengan ujian dan pekerjaan, mereka tetap membantu Imai-kun mencari kamu.
Mereka senang waktu tahu kamu sudah sekolah lagi. Mereka senang kamu punya
teman baik seperti Imai-kun.”
Kenangan
tentang tempat yang hangat itu tiba-tiba kembali. Kehangatan yang seharusnya
aku tutup demi menjadi seorang “pendendam” kini kembali muncul.
“Tapi…
aku….”
Wajah
teman-teman yang kutolak secara kejam terus terlintas dalam pikiranku.
“Berbahagialah,
Kazuki. Kamu itu sangat baik.”
Dia
menggenggam tanganku yang dingin. Tangan itu perlahan mulai menghangat kembali.
“Terima
kasih.”
Itu
saja yang bisa kuucapkan.
“Kazuki,
kasih tahu aku kontakmu, ya.”
Kalimat
yang terasa seperti jembatan menuju dunia yang hangat.
Tanpa
sadar, aku menggenggam tangan hangat dan lembut itu.
※
──Sudut
Pandang Doumoto Yumi──
Aku
akhirnya bisa berdamai dengan Kazuki. Aku juga sudah dapat kontaknya yang
sempat berubah. Sebenarnya, masih banyak hal yang ingin aku bicarakan, tapi
kata-kata sulit keluar. Aku rasa Kazuki masih belum bisa benar-benar melepaskan
Kondo dan pacarnya.
Bukan
karena hubungan cinta, tapi karena rasa tanggung jawab bahwa dia seharusnya
menghentikan ulah mereka berdua. Imai-kun sudah memberitahuku garis besar dari
semua yang terjadi. Katanya, dia dan teman bernama Aono sedang mencoba membantu
Kazuki. Mereka mencari tahu dan lewat beberapa teman, akhirnya sampai ke aku.
Teman-teman
yang lain juga berkata,
“Kami
senang Kazuki sudah bisa melangkah maju.”
Aku
juga merasakannya. Kazuki benar-benar sedang bergerak maju. Karena itu, aku tak
ingin dia melakukan hal berbahaya. Dia tak perlu lagi terluka.
Tapi,
dia tetap pergi. Katanya, masih ada yang harus dia selesaikan.
“Kazuki...
setelah semua itu selesai, maukah kamu kembali padaku? Tolong... beri aku
jawaban waktu itu.”
Aku
bergumam kecil pada sosok yang sudah tak lagi ada di sana.
Hari
itu, hari terakhir aku bertemu Kazuki, aku bersikap egois.
Aku
ingin menyelamatkan Kazuki yang tenggelam dalam kesedihan. Aku ingin kami bisa
tertawa bersama lagi, seperti dulu. Karena itu aku terus menemuinya,
membawakannya berbagai hal. Aku ingin terus melakukannya bahkan setelah masuk
SMA.
Tapi
setelah mendengar kata-katanya waktu itu, aku sadar bahwa semua itu justru
membuat dia merasa tertekan.
Jadi,
aku melarikan diri. Aku takut. Takut bahwa aku malah menghancurkan hidup
Kazuki. Aku benar-benar ketakutan.
Meski
begitu, aku tak ingin dia melupakanku. Jadi, aku bahkan menyampaikan
perasaanku.
Bukan
karena dia tak menjawab. Tapi karena aku sendiri yang takut untuk mendengar
jawabannya. Aku takut jika dia bilang, “Kamu menghancurkan hidupku,” aku tak
akan bisa bangkit lagi.
Aku
tahu, itu bukan perasaan sebenarnya dari Kazuki. Dia hanya sedang kacau, dan
aku kebetulan mengatakan sesuatu yang membuatnya marah. Itu saja. Aku tahu
betul, dia tidak serius.
Tapi
aku tak bisa melangkah maju.
Karena
itulah, aku berterima kasih pada Imai-kun. Kalau bukan karena dia, aku tak akan
bisa mengumpulkan keberanian untuk berdiri di hadapan Kazuki lagi.
Dia
memanggilku “Yumi” lagi.
Sekarang,
itu saja sudah cukup.
Jadi
Tuhan… kumohon, jangan sakiti dia lagi.
Sahabat
kecilku yang sangat kusayangi itu... sudah terluka terlalu banyak…
Tolong,
maafkan dia.
Posting Komentar