Prolog

Malam 7 September – Sudut Pandang Ai Ichijou

Hari Minggu akan segera berakhir.

Setelah menghabiskan waktu berkencan dengan Senpai, aku menghela napas seorang diri di kamar yang terasa sepi. Waktu yang terlalu membahagiakan itu telah usai, dan sebagai gantinya, perasaan kesepian tiba-tiba menyelimutiku. Aku kembali disadarkan akan betapa rapuhnya diriku.

Aku benci kesepian. Aku ingin punya keluarga. Aku ingin kembali ke masa bahagia itu. Itu sebabnya, aku sangat mencintai kehangatan di dapur Aono. Aku ingin terus bersama semuanya, selamanya. Tapi waktu itu seperti pesta dansa Cinderella—begitu waktu berlalu, segalanya pun usai. Itu hanyalah kebahagiaan sementara.

Dan aku dikembalikan lagi pada kenyataan ini.

Alasan aku menghela napas bukan hanya karena kesepian. Aku teringat kejadian tadi. Tanpa sadar, aku melakukan sesuatu yang cukup berani. Dengan sedikit rasa penyesalan, aku larut dalam sisa-sisa kenangan hari ini di atas sofa. Tapi sebenarnya, aku tidak benar-benar menyesal. Aku menghibur diriku sendiri dengan pikiran itu.

Mungkin karena aku banyak berjalan hari ini, atau karena melakukan sesuatu yang belum terbiasa, tubuhku terasa lelah. Sambil memeluk boneka, mataku mulai mengantuk. Saat memeluk boneka itu, rasanya seperti aku masih berkencan dengannya.

Perlahan-lahan, aku dibimbing masuk ke dalam dunia mimpi.

Aku bermimpi. Dan aku langsung tahu kalau ini adalah mimpi—karena aku sudah sering melihat mimpi ini. Mimpi tentang hari ketika aku kehilangan ibuku.

Orang tuaku menikah karena perjodohan politik, seperti yang biasa terjadi. Ayahku berasal dari keluarga konglomerat baru yang berpengaruh, sementara ibuku berasal dari keluarga bangsawan ternama.

Bagi kedua belah pihak, pernikahan ini punya nilai tersendiri. Dari pihak ayah, status keluarga bangsawan yang tradisional adalah hal yang diinginkan, dan koneksi dari pihak ibu bisa dimanfaatkan dengan baik. Dari pihak ibu, kudengar mereka berharap ayahku yang cakap bisa membangkitkan kembali nama keluarga mereka.

Biasanya, pernikahan seperti ini hanya melahirkan hubungan dingin antar pasangan. Kalau saja itu yang terjadi, aku mungkin tidak akan pernah naik ke atap waktu itu.

Namun, mereka berdua adalah teman masa kecil. Dari cerita ibu, mungkin mereka adalah cinta pertama satu sama lain. Itulah mengapa, meski pernikahannya diatur, mereka tetap hidup bahagia. Saat ibu bercerita tentang ayah, wajahnya selalu berubah seperti gadis kecil yang sedang jatuh cinta. Aku bisa melihatnya dengan jelas. Dan karena sekarang aku juga akhirnya jatuh cinta untuk pertama kalinya, aku rasa aku memiliki wajah yang sama dengan ibu saat itu.

Aku dibesarkan dengan penuh kasih sayang dari kedua orang tuaku. Itu adalah kenyataan yang tidak akan pernah aku sangkal. Hari-hari yang telah hilang itu masih terus hidup dalam hatiku sebagai kenangan hangat yang membuatku tersenyum. Walaupun orang tuaku sibuk, aku tidak pernah merasa kesepian.

Aku bersekolah di sekolah swasta bergengsi di Tokyo sejak SD. Semakin aku berusaha dalam pelajaran dan olahraga, semakin mereka memuji dan menyayangiku. Ayahku memang sangat sibuk dan jarang pulang, tapi ia adalah sosok yang lembut dan selalu berusaha menyempatkan waktu untuk keluarga. Ia bahkan selalu hadir di acara kunjungan kelas dan lomba olahraga.

Aku membuka album keluarga yang selama ini tersimpan rapi di rak buku. Di setiap foto, aku selalu tersenyum. Dan di hampir semua foto, wajah ayah dan ibu yang tersenyum bahagia juga selalu tampak bersamaku. Semuanya adalah kenangan yang sangat berharga.

Namun, pada hari itu dua tahun yang lalu, aku kehilangan segalanya. Aku dan ibu terlibat dalam sebuah kecelakaan.

Hari itu sebenarnya kami berencana untuk liburan.

Awalnya, kami akan pergi bertiga sebagai keluarga. Tapi ayah tiba-tiba mendapat pekerjaan mendesak dan tidak bisa ikut… Aku yang mendengarnya cukup terpukul, dan karena itu aku tidak bisa menyiapkan semuanya dengan baik, hingga keberangkatan kami pun jadi sedikit terlambat.

Itulah kesalahannya. Kalau saja aku bisa bersiap lebih cepat… kalau saja aku bisa lebih memahami situasi ayah… mungkin hasilnya akan berbeda.

Hari itu, ibu yang mengemudikan mobil. Karena ini adalah acara keluarga yang santai, kami tidak meminta sopir. Kami semua sangat menantikan liburan itu. Ayah pun berencana menyusul begitu urusannya selesai. Sebenarnya, aku tidak perlu terlalu kecewa. Tapi entah kenapa…

“Sudah baikan, Ai?”

Ibu bertanya sambil menggoda.

“Sudah. Aku sedikit kecewa saja,” jawabku.

“Namanya juga ayahmu. Dia pasti akan menyusul secepatnya dan menggantinya dengan sesuatu yang menyenangkan.”

“Iya, kau benar.”

Aku tahu di dalam hati bahwa pekerjaan ayah memang sering berubah mendadak, dan aku juga tahu bahwa dengan kemampuannya, pekerjaan seperti itu pasti cepat selesai. Ini hanya berarti kami akan sedikit berpisah sebentar.

Sekarang… setelah kehilangan segalanya, aku sadar. Betapa sepele hal itu sebenarnya. Hanya kisah kecil dalam kehidupan keluarga yang bahagia.

Setelah itu, aku pun kembali ceria dan kami mengobrol seperti biasa di dalam mobil. Aku tidak pernah menyangka bahwa kebahagiaan itu akan berakhir. Namun…

Mobil kami memasuki sebuah terowongan. Di sanalah takdir kami berubah.

Di dalam terowongan, tiba-tiba terdengar suara keras, dan pandanganku menjadi gelap karena guncangan hebat. Aku juga mendengar suara rem mendadak. Suara mobil saling bertabrakan, suara logam yang terhimpit dan tergencet, semuanya menggema di dalam terowongan yang sempit itu.

Untuk sesaat, aku kehilangan kesadaran. Saat aku kembali sadar, yang kulihat di hadapanku hanyalah dinding. Aku sempat berpikir bahwa mungkin kami mengalami kecelakaan, lalu menoleh ke sekeliling.

Aku mendengar napas Ibu yang berat dan penuh derita. Dari jendela belakang di sisi kursi pengemudi yang retak, aku bisa memahami situasi kami. Terowongan telah runtuh, dan sekeliling kami dipenuhi reruntuhan.

Kursi pengemudi tertimpa reruntuhan hingga setengah hancur, dan dari bagian bawah tubuh Ibu mengalir darah yang sangat banyak. Reruntuhan juga menusuk ke tubuhnya. Ia tampak sangat kesakitan.

“I-Ibu! Ibu, kau tidak apa-apa?”

Aku belum bisa sepenuhnya memahami keadaan, dan hanya mampu berteriak dalam ketakutan. Sambil menangis, aku menggenggam bahu Ibu.

“Ai, kamu tidak terluka?”

Meski Ibu yang paling menderita saat itu, justru dia yang bertanya begitu padaku. Ia memaksakan senyum, berusaha keras agar aku tidak merasa takut.

“Aku tidak apa-apa… Tapi, Ibu…”

“Syukurlah.”

Ibu hanya peduli padaku dan sama sekali tidak memperhatikan keadaannya sendiri. Di matanya, aku melihat ekspresi seakan pasrah. Namun, di saat yang sama, ada kasih sayang yang mendalam—perasaan lega karena anaknya selamat. Setelah aku tenang dan berpikir jernih, aku sadar bahwa Ibu pasti sudah tahu bahwa dirinya takkan selamat.

Aku kehilangan kata-kata. Yang bisa kulakukan hanya mengulang kata yang sama berkali-kali.

“Ibu… Ibu… Ibu…”

Dengan ekspresi penuh kasih dan keikhlasan, Ibu menggelengkan kepala. Itu adalah wajah lembut seseorang yang menyadari akhir hidupnya telah dekat. Dengan tangan kirinya yang masih bisa digerakkan, ia mengelus kepalaku dengan lembut. Tubuh Ibu perlahan terasa semakin dingin. Ketakutan akan kematian Ibu membuatku gemetar.

“Ai… jangan pikirkan Ibu. Segeralah keluar dari sini. Mungkin akan terjadi kebakaran… Petugas penyelamat… pasti… akan datang…”

“Aku tidak bisa meninggalkan Ibu sendirian! Aku akan tetap di sini, menunggu pertolongan bersamamu!”

Tubuh Ibu semakin terasa dingin. Aku menggenggam tangannya erat-erat.

“Janji ya… kamu… harus… bahagia…”

Melihat betapa sulitnya Ibu untuk mengucapkan kata-kata, aku menangis sejadi-jadinya di bahunya. Padahal ia pasti sangat kesakitan, padahal ia pasti ingin mengatakan banyak hal… Tapi aku terlalu syok untuk bisa mengingat apa pun. Napas Ibu makin lama makin melemah. Perlahan-lahan, asap mulai memenuhi dalam terowongan.

Telah terjadi kebakaran. Jika begini terus, Ibu akan… Aku harus segera memanggil bantuan. Dengan pikiran itu, aku berkata, “Aku akan segera cari bantuan!” dan berusaha keluar dari dalam mobil.

Ibu tidak mengatakan apa-apa lagi.

Begitu aku keluar, yang kulihat di dalam terowongan adalah pemandangan seperti neraka. Sebuah truk tertimbun sepenuhnya oleh reruntuhan. Dari mobil di belakang, aku melihat dua orang keluar—seorang pria dan seorang wanita.

“Tolong! Ibu masih ada di dalam mobil itu! Kursi pengemudi tertindih reruntuhan dan dia tidak bisa bergerak!”

Pria itu langsung melihat ke arah mobil kami, lalu matanya membelalak. Sekarang, jika aku mengingat kembali, aku bisa memahaminya. Di kursi pengemudi, ada bongkahan besar reruntuhan yang menancap. Itu bukan sesuatu yang bisa diatasi dengan tangan manusia. Maka dari itu, dia hanya bisa menggelengkan kepala.

Seorang wanita muda memelukku erat.

“Kamu harus segera pergi. Kalau tetap di sini, kamu juga akan…” Lalu, dia menarik tanganku.

“Tidak mau! Aku mau tetap di sini! Lepaskan!!”

Meski aku terus berteriak berkali-kali, pasangan dari mobil di belakang tidak mau melepaskan tanganku. Setelah itu, ingatanku mulai kabur. Tahu-tahu, aku sudah terbaring di rumah sakit. Di sanalah, ayah memberitahuku bahwa Ibu telah meninggal.

Saat itulah aku teringat. Mobil kami saat itu berhenti sedikit menyimpang dari arah semestinya. Baru kusadari, Ibu menginjak rem mendadak dan membelokkan setir demi menyelamatkanku—berusaha membuat posisi tempat dudukku sedikit lebih jauh dari reruntuhan.

Seandainya saja aku tidak terlambat bersiap...

Seandainya aku tidak ikut dalam perjalanan itu...

Seandainya aku tetap di sana bersama Ibu...

Mungkin takdir bisa berubah. Mungkin Ibu tidak akan pergi.

Dipenuhi penyesalan, rasa bersalah, dan kehilangan, yang bisa kulakukan hanya meminta maaf pada Ayah yang datang menjemputku. Karena aku merasa, semuanya adalah salahku. “Ayah, maafkan aku… Maaf… karena aku, Ibu… Ibu…”

Sambil terus menangis, aku terisak dan jatuh dalam tangis di hadapan Ayah. Tapi Ayah tidak berkata apa pun.

Pada akhirnya, aku bahkan tidak bisa menghadiri pemakaman Ibu karena masih dirawat di rumah sakit. Aku menyerahkan segalanya pada Ayah. Padahal, Ayah juga pasti sedang menderita.

Sejak saat itu, hidupku berubah drastis. Pertama, Ayah mulai berubah. Mungkin karena kehilangan Ibu, dia jadi larut dalam pekerjaannya dan hampir tak pernah pulang ke rumah. Sosoknya

yang dulu begitu lembut mulai terasa dingin, seolah memperlakukan orang seperti benda.

Lalu, setelah kecelakaan itu, gangguan terhadap diriku juga mulai muncul. Mungkin karena aku memang menonjol di kelas, ada rasa iri dari teman-temanku. Ditambah lagi, aku menjadi terkenal karena media menyebutku sebagai “penyelamat ajaib”. Semua kebencian yang selama ini terpendam pun ditumpahkan kepadaku.

Di permukaan, teman-temanku tampak seperti biasa. Tapi di balik itu, mereka menyebarkan gosip kejam—menyebutku sebagai “anak iblis tanpa hati yang bertahan hidup dengan mengorbankan ibunya.” Saat paling parah, ada telepon masuk ke ponselku dari nomor tak dikenal. Di ujung sana, seseorang menirukan suara Ibu.

“Aku kesakitan... tolong aku... kenapa kamu tidak menyelamatkanku?”

Ibu tidak mungkin berkata seperti itu. Aku tahu itu. Tapi setelah mendengarnya berulang kali, hatiku terus terluka, makin dalam.

Aku hanya bisa berdiri terpaku sambil menggenggam ponsel, tak mampu berkata apa pun. Berkali-kali.

Setelah lulus dari SMP swasta, aku memutuskan pindah ke tempat baru, di mana tak ada seorang pun yang mengenalku. Tapi Ayah seperti ingin menjauh dariku, dan tidak ikut pindah. Itulah yang membuatku merasa semakin terasing. Meski gangguan melalui telepon berhenti, aku merasa telah kehilangan segalanya.

Kala itu, aku berpikir… seandainya aku mati bersama Ibu, mungkin lebih baik. Padahal Ibu sudah berjuang mati-matian untuk menyelamatkanku, tapi aku malah menyimpan perasaan yang seperti mengkhianatinya.

Andai saja aku tidak kabur saat itu dan tetap berada di sisi Ibu… mungkin aku tak perlu menjalani neraka seperti ini.

Mungkin aku tak perlu menderita seperti ini. Aku ingin bertemu Ibu sekali lagi. Kalau aku mati, apakah Ayah akan memaafkanku?

Perasaan putus asa itu… mengantarkanku ke atap gedung itu. Tapi di sanalah aku bertemu dengannya.

Dia menyelamatkanku dari dasar neraka itu.

Padahal kami sama-sama berada di dasar kegelapan, tapi dia memberiku cahaya. Dia berkata, “Terima kasih sudah menyelamatkanku.” Padahal, sebenarnya akulah yang telah diselamatkan.

Dialah yang memberiku tempat untuk kembali, yang mengingatkanku pada kehangatan manusia, dan yang mengajarkanku indahnya jatuh cinta.

Bagaimana mungkin aku tidak mencintainya?

Mimpi buruk yang selalu datang, untuk pertama kalinya, diubah oleh senpai itu.

Ponselku berdering.

Suara itu membangunkanku, dan aku membuka mata yang dipenuhi air mata. Di sampingku, ada boneka yang kupeluk menggantikan sosok senpai. Itu saja sudah menjadi penyelamat. Biasanya, setiap kali aku mengalami mimpi itu, rasa kesepian mencengkeram hatiku, dipenuhi rasa bersalah, dan keinginan untuk mati pun muncul...

Namun saat menatap wajah boneka itu, aku teringat pada hal memalukan yang kulakukan tadi—ciuman pipi mendadak yang kulayangkan padanya. Rasa malu dan sedikit rasa bersalah menyelimutiku. Tapi justru karena itu, aku bisa lepas dari bayang-bayang mimpi buruk itu.

Mungkin, dia telah menyelamatkanku—ketika aku hampir terjatuh kembali ke dalam neraka.

Ketika memikirkannya, hatiku terasa lebih ringan. Kata-kata terakhir Ibu terngiang jelas di dadaku:

“Tolong ya… kamu harus… bahagia…”

Benar… Ibu berkata begitu. Maka aku harus bahagia.

Selama ini aku tidak menyadarinya. Atau mungkin aku sengaja tidak mau menyadarinya. Tapi karena dia, aku akhirnya bisa melihatnya.

Rasanya, mimpi buruk itu mulai tergantikan—oleh kehadiran Eiji-senpai. Meskipun tak sepenuhnya lenyap, aku tak ingin siapa pun mengubah perasaan Ibu.

Berkat dia, aku menyadari betapa bodohnya diriku yang hampir menyia-nyiakan nyawa yang telah Ibu pertaruhkan untuk kupertahankan.

Terima kasih, Senpai.

Terima kasih, Ibu.

Kamu sudah berjuang, ya… diriku sendiri.

“Aku rindu… padahal baru saja bertemu, tapi rasanya sudah ingin bertemu lagi. Apa ini yang disebut bahagia? Benar kan, Ibu?” Aku melihat layar ponsel.

Ternyata, sejak satu jam yang lalu, pesan-pesan dari Senpai terus berdatangan. Aku pun buru-buru meneleponnya.

Hatiku terasa lebih hangat dari sebelumnya.









Sudut pandang Eiji

Tadi aku sudah mengirim pesan ucapan terima kasih untuk kencan hari ini, tapi Ichijou-san belum juga membalas.

Mungkin dia sedang mandi, atau sudah tertidur...

Tadinya aku berpikir akan tidur saja meski belum mendapat balasan, tapi entah kenapa, perasaan dari tadi masih membekas dan membuatku tetap terjaga. Sepertinya malam ini sulit untuk tidur.

“Ciuman itu... hanya dengan mengingatnya saja, jantungku berdebar-debar.”

Kupikir jika kuucapkan dengan suara, mungkin rasa ini akan reda sedikit. Tapi nyatanya, malah semakin sulit tidur. Tak pernah kubayangkan Ichijou-san akan menyerang secara tiba-tiba seperti itu. Aksinya benar-benar bertolak belakang dengan citra “gadis cantik tak tertembus yang menolak semua pengakuan cinta.”

Mungkin bagi orang lain, dia memang terlihat seperti gadis yang sulit didekati. Tapi karena keadaan kami bertemu benar-benar tidak biasa, aku tidak pernah merasa dia seperti itu.

Saat bersamaku, dia selalu tampak senang tertawa. Meski ada risiko kerugian, dia tetap bertindak demi aku.

Padahal aku dikhianati oleh sahabat dan teman masa kecilku, Miyuki. Tapi kenapa dia begitu peduli dan mau membantuku sejauh ini?

Ponselku berdering.

Akhirnya, balasan pesan! Sejak tadi aku gelisah karena belum dibaca juga. Meskipun di kepala aku mencoba berpikir, “mungkin dia sudah tertidur,” tetap saja rasanya tidak tenang. Tapi saat melihat layar, ternyata bukan pesan—melainkan panggilan dari Ichijou-san.

Bagi anak SMA, menelepon itu terasa lebih sulit daripada sekadar mengirim pesan. Aku menarik napas dalam-dalam, lalu menekan tombol panggil.

[“Ah, ini Ichijou. Maaf ya, Senpai, sekarang sudah malam. Apa kamu ada waktu sekarang?”]

“Ya, tudak apa-apa, aku bisa.”

[“Maaf. Aku tadi sempat tertidur, jadi agak telat sadar. Karena itu aku mau minta maaf langsung.”]

“Ah, tak perlu minta maaf. Pesanku juga bukan hal penting.”

Itu bohong. Karena belum dibaca, sebenarnya aku cukup gelisah.

[“Lalu… aku ingin mengatakannya langsung. Kencan hari ini, benar-benar menyenangkan. Oh, dan maaf ya, aku tiba-tiba melakukan hal aneh. Kamu kaget, ya?”]

Cara dia menekankan kata “kencan” dan menghindari menyebut “cium” secara langsung—benar-benar khas dirinya.

“Aku juga senang dengan kencannya. Tapi ya, aku cukup kaget waktu itu.”

[“Iya kan… aku sendiri juga tidak tahu kenapa tiba-tiba melakukan itu. Tapi, Senpai?”]

“Hm?”

[“Itu pertama kalinya aku mencium seseorang, selain keluargaku.”]

Mendengar dia mengatakannya sejelas itu, rasanya jantungku seperti berhenti sejenak. Kata “cium” saja sudah membuat detaknya tak karuan.

Karena ini pembicaraan lewat telepon—yang jarang kami lakukan—rasanya seperti jarak kami jadi lebih dekat. Seakan napasnya bisa terasa.

“Aku juga... itu pertama kalinya buatku.”

Begitu aku mengatakan itu, terdengar suara ceria dari seberang sana. Aku sempat kehilangan kepercayaan pada orang setelah dikhianati oleh Miyuki, sebelum bisa menunjukkan perasaanku.

Karena itu, bisa sedekat ini dengan seorang gadis yang baru saja kukenal—benar-benar tak kusangka. Bisa dibilang, ini seperti keajaiban. Rangkaian kebetulan yang membawa kami sampai di sini. Mungkin ini takdir? Aku ingin menyangkal, tapi di dalam hati, aku merasa bahagia.

[“Heeh, jadi kita sama-sama yang pertama ya.”]

Nada bicaranya lebih kekanak-kanakan dari biasanya. Aku jadi merasa ada sisi dirinya yang belum pernah kulihat sebelumnya. Padahal biasanya dia terlihat begitu anggun dan tak mudah didekati.

“Ya, benar.”

Dengan nada setengah menggoda, aku menjawab seolah sudah pasrah. Tiba-tiba terdengar tawa kecil manis dan napas lembut yang sampai ke telingaku—seolah dia berada di dekatku.

[“Bagus ya. Dengan begitu, jadi kenangan seumur hidup untuk kita berdua.”]

Kenangan seumur hidup... terdengar begitu dalam.

Kalau saja kami tidak bertemu di atap sekolah waktu itu, mungkin aku sudah tak ada lagi di dunia ini. Karena itulah, kenyataan bahwa kami bisa terus melangkah bersama saat ini, terasa seperti keajaiban.

Dan di atas keajaiban itu, hubungan kami perlahan semakin dalam. Tak mungkin aku tidak merasa bahagia karena itu.

Selain itu, secara murni, aku merasa senang karena Ichijou-san seakan berkata bahwa dia tidak akan melupakan aku. Mendengar itu darinya saja sudah membuatku merasa terhormat.

[“Senpai itu sangat hebat… Dalam situasi seberat apa pun, tetap bisa melangkah maju dengan teguh.”]

Tiba-tiba dipuji seperti itu membuatku malu. Tapi itu bukan semata hasil usahaku sendiri. Kalau bukan karena dia, mungkin aku sudah tidak ada di dunia ini. Bahkan jika pun aku berhasil bertahan, pasti aku masih tersiksa di dasar neraka itu—neraka perundungan yang lebih menyakitkan daripada kematian.

Karena aku pernah mengalaminya sendiri, aku jadi merasa bisa sedikit mengerti betapa berat penderitaan para siswa yang memilih mati karena perundungan.

“Itu semua karena Ichijou-san ada di sisiku… jadi…”

[“Meskipun begitu. Aku hanyalah pemicu awalnya. Tapi Senpai-lah yang benar-benar memilih untuk melangkah maju. Kamu bisa berdialog dengan keluargamu, dan mampu meminta pertolongan. Bahkan orang-orang lain pun mulai muncul menawarkan bantuan. Aku sangat menghormati kamu, yang berhasil melakukan hal-hal yang dulu tidak bisa kulakukan.”]

Begitu dia mengatakan itu, aku langsung tahu bahwa dia sedang bicara tentang saat dia dulu hampir mengakhiri hidupnya. Mungkin waktu itu dia memendam semuanya sendiri, tak tahu harus bagaimana.

Entah kenapa, aku sudah bisa menebak bahwa dia memiliki hubungan yang retak dengan keluarganya. Aku sempat ragu apakah aku boleh masuk lebih jauh ke masalah pribadinya. Tapi aku teringat, bahwa dia sengaja mengaburkan detailnya. Mungkin karena dia sendiri belum benar-benar bisa berdamai dengan perasaannya.

Dia masih menyesal karena tak bisa meminta bantuan saat itu. Kalau saja aku sudah ada di sisinya waktu itu… apakah aku bisa mengubah sesuatu? Meskipun itu hanya andai-andai, aku tetap saja memikirkannya.

Tapi, yang bisa kulakukan sekarang adalah berada di sisinya. Maka, untuk saat ini, yang terbaik adalah mempercayainya dan menunggu.

[“Sebelum bertemu denganmu, aku selalu merasa curiga terhadap orang lain. Tapi kamu berbeda. Tanpa memikirkan keselamatan dirimu sendiri, kamu membantuku. Itulah sebabnya… kamu sangat berarti bagiku.”]

Itu terdengar seperti pengakuan cinta. Mungkin memang begitu.

Meski kami belum lama saling kenal sejak pertemuan pertama kami, aku merasa seperti kami sudah membangun ikatan yang dalam—seperti sesama pejuang yang berbagi luka. Aku pikir, itu adalah perasaan yang bahkan lebih dalam daripada cinta.

Setidaknya, kami berdua telah saling menopang hidup masing-masing.

“Terima kasih.”

[“Akulah yang seharusnya berterima kasih. Terima kasih… karena sudah menemukanku hari itu.”]

Kami pun terus berbicara pelan-pelan, seakan saling menyampaikan betapa berharganya satu sama lain.

Sudut Pandang Ichijou Ai

Setelah menutup telepon, aku merebahkan diri di sofa. Entah sejak kapan, ternyata kami sudah berbicara lebih dari satu jam. Aku bisa merasakan betapa suasana manis memenuhi ruang di antara kami. Sisa-sisa mimpi buruk yang tadi pun entah bagaimana sudah menghilang.

Yang tersisa di ruangan ini sekarang hanyalah secercah harapan dari seorang gadis yang sedang jatuh cinta.

“Kenapa ya… hanya untuk mengucapkan ‘aku suka kamu’ saja, rasanya begitu sulit?”

Tak ada seorang pun yang menjawab pertanyaan itu. Tapi aku yakin, kalau Ibu masih hidup, beliau pasti akan senang mendengarnya.

Posting Komentar