Chapter 1: Jejak Pelaku dan Para Pendendam Sehari Sebelum Kencan

── Sabtu, satu hari sebelumnya (6 September sore)·Sudut pandang Miyuki ──

“Ampun dan maaf atas kebodohan anak saya kali ini. Untuk biaya rawat inap dan lain-lain, akan saya tanggung semuanya.”

Ayah Senpai membungkuk dalam-dalam dengan sikap yang penuh ketulusan. Tapi Ibu bahkan tidak melirik ke arahnya.

“Jangan rendahkan kami. Uang sebanyak ini masih bisa saya bayar sendiri. Benar-benar gaya politisi ya. Sambil merendahkan kami dalam hati, tetap mampu berakting seolah sungguh-sungguh menyesal. Saya tidak sudi melihat wajah penipu macam Anda, jadi silakan segera pulang.”

Ibu mengucapkannya dengan dingin. Kata-katanya itu terdengar seolah ditujukan juga padaku, membuat hatiku terasa dicengkeram. Aku belum pernah melihat Ibu semarah ini sebelumnya. Semua ini salahku. Sampai jatuh sakit seperti itu pun karena aku membuat Ibu yang sudah sangat sibuk harus mencemaskan dan memaksakan diri.

“Kalau begitu, saya tinggalkan kartu nama saya di sini. Kalau ada apa-apa, silakan hubungi.”

Ayah Senpai pergi meninggalkan amplop berisi uang di tempat yang tak terlihat oleh Ibu.

Setelah mereka berdua pergi, ruangan rumah sakit menjadi sunyi. Dengan suara bergetar, Ibu memastikannya padaku.

“Miyuki… Ibu benar-benar tidak mengerti dirimu. Orang bernama Kondo itu, dia mendekatimu meskipun tahu kamu sudah punya pacar, bukan? Kenapa kamu bisa… menyukai laki-laki seperti itu? Apa kamu benar-benar mencintai orang itu?”

“……”

Aku tak bisa menjawab apa pun. Bahkan diriku sendiri sudah tak tahu pasti perasaanku. Dan jika Ibu sampai tahu bahwa Eiji disiksa karena kami… apa yang akan terjadi? Aku takut bila sampai ketahuan.

“Begitu ya, kamu tidak mau menjawab. Apa yang kamu lakukan itu… salah secara moral sebagai manusia. Berarti, aku sebagai ibu bahkan tidak mampu mengajarkan hal sesederhana dan sepenting

itu kepada putriku. Aku benar-benar ibu yang gagal.”

Ucapan Ibu yang begitu menyakitkan, padahal beliau telah membesarkanku sendirian, kini terdengar begitu kejam keluar dari mulutnya. Aku menggigil dalam keputusasaan dan mulai menangis.

“Maafkan aku…”

“Bukan kepadaku kamu seharusnya minta maaf. Sekarang pulanglah ke rumah. Tolong… biarkan aku sendiri malam ini.”

Ucapan penolakan yang begitu dingin itu terasa seperti pisau yang menusuk tepat ke dadaku.

── Sore Hari yang Sama ·Sudut Pandang Pelapor ──

Aku memastikan bahwa pasangan selingkuh itu telah diamankan oleh polisi, dan berhasil kembali ke stasiun terdekat dari sekolah sebelum matahari terbenam. Ini belum akhir dari balas dendamku. Justru, ini baru permulaan.

Aku mengambil seragam sekolah yang kusimpan di loker koin stasiun, lalu berganti pakaian di toilet. Dengan wajah tenang, aku melangkah menuju sekolah. Sebagian besar kegiatan ekstrakurikuler sudah selesai dan para siswa sedang membereskan perlengkapan. Karena hari ini selesai ujian simulasi, banyak siswa menyudahi klub lebih awal.

Kalaupun bertemu dengan seseorang yang kukenal, aku cukup bilang datang untuk mengambil barang yang tertinggal—maka tak akan menimbulkan kecurigaan. Memang aku tidak ikut ujian simulasi hari ini, tapi sudah memberi kabar bahwa aku tidak enak badan. Kalau aku bilang ke sini hanya untuk mengambil buku catatan kosakata demi belajar untuk kuis kecil, tak seorang pun akan mencurigai.

Meski harus berbohong pada siapa pun, yang paling utama adalah: balas dendam.

Aku menuju ruang klub sepak bola dengan sangat hati-hati agar tak ketahuan siapa pun. Latihan sudah selesai. Kabarnya besok akan ada pertandingan uji coba. Maka ini adalah waktu yang tepat untuk “memamerkan” foto ini.

Meski aku bukan anggota klub olahraga, kehadiranku di sekitar lapangan dengan mengenakan seragam tak akan mencurigakan. Lagi pula, di sekolah ini, ruang klub terpisah dari lapangan dan dikelompokkan berdasarkan jenis klub olahraga. Jika terlihat di sekitar situ, orang hanya akan mengira aku baru selesai berganti seragam setelah latihan.

Lalu, dengan wajah tenang, aku “secara tidak sengaja” menjatuhkan amplop berisi foto yang sudah dicetak dari minimarket ke dalam ruang klub sepak bola. Aku melemparkannya dari celah pintu, membiarkannya meluncur di lantai ke dalam ruangan.

Anggota klub sepak bola semuanya sangat mengidolakan Kondo. Bahkan dalam kasus bullying terhadap Aono, mereka ikut campur dengan dalih keadilan mereka sendiri. Fakta ini sudah kutelusuri dan kukonfirmasi. Jadi, tak ada belas kasihan untuk para bajingan ini. Ini seperti bom waktu. Memang, bakat sepak bola Kondo luar biasa, dan karisma yang terbentuk dari bakat itu pun sangat kuat. Tapi justru karena karisma itulah, mereka bergantung padanya. Dan itu adalah kelemahan. Sebab karisma seperti kaca—cukup diberi keraguan, maka akan hancur berkeping-keping.

“Dengan foto ini, klub sepak bola pasti akan pecah dari dalam. Bahkan jika mereka berhasil melewati ini, tak mungkin bisa menghadapi turnamen besar. Sisanya biar para anggotanya sendiri yang membesar-besarkan cerita.”

Mitsuda dari klub sepak bola itu hanya numpang tenar dari pengaruh Kondo. Aku juga sudah menyelidiki bahwa bullying terhadap Aono dilakukan oleh siswa kelas dua dari klub sepak bola. Mereka itu bodoh. Kalau menyusuri media sosial mereka, akan sangat mudah menemukan seberapa besar keterlibatan klub dalam kasus bullying itu.

Sekolah pun mungkin sudah mulai menyelidiki. Kalau begitu, sebagian besar bukti pasti sudah diketahui. Sekarang tinggal menyerang dari belakang, dan membiarkan mereka hancur sendiri dalam kekacauan.

Tapi, jika sekolah membiarkan mereka bergerak bebas sampai sekarang, pasti ada alasan tertentu. Aku punya dua hipotesis:

Hipotesis : Pihak sekolah menganggap Kondo sebagai pelaku utama dalam kasus ini dan sedang mencari bukti yang kuat untuk menjatuhkannya, karena mereka tahu dia bisa menyalahkan orang lain dengan cara licik.

Kalau benar begitu, ini menguntungkan. Aku punya data foto yang memberatkannya. Kalau aku bekerja sama dengan guru-guru, kita bisa menekan Kondo sampai tak bisa berkutik.

Hipotesis : Pihak sekolah justru terlibat dalam upaya menutup-nutupi kasus ini.

Kalau begini, keadaannya lebih rumit. Bisa jadi data foto itu dianggap hanya sebagai bukti hubungan tidak pantas antara laki-laki dan perempuan, lalu hanya dijatuhi sanksi ringan.

Yang bikin rumit adalah: orang tua si bajingan itu adalah CEO perusahaan konstruksi lokal sekaligus anggota dewan kota.

Kalau Hipotesis benar, mungkin sekolah sedang menunggu waktu yang tepat untuk menghancurkan Kondou dengan bukti telak sebelum orang tuanya sempat ikut campur. Tapi kalau Hipotesis yang benar, berarti sekolah takut dengan pengaruh orang tuanya dan terlibat aktif dalam menutupinya.

Dalam hal ini, mungkin lebih baik aku meminta bantuan dari anggota dewan kota lain atau dewan pendidikan.

Aku sempat mempertimbangkan untuk memberi informasi pada streamer pengungkap skandal, tapi aku batalkan. Aku tidak yakin mereka akan benar-benar menanganinya, dan besar kemungkinan kasus Aono akan diedit jadi hiburan sensasional, yang justru bisa menyebabkan kerugian lanjutan padanya.

Sekalipun klub sepak bola bubar dan mereka kalah telak di turnamen penting, paling-paling catatan hidup Kondo hanya akan sedikit tercoreng. Tapi dia pasti akan tetap hidup santai seperti biasa. Dan ke depannya, dia akan terus menyakiti banyak orang... seperti yang terjadi pada Aono kali ini.”

Sejujurnya, aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri. Kalau saja saat itu aku melakukan sesuatu, Kondo tidak akan menjadi besar kepala. Seharusnya, hanya akulah yang bisa menghentikan mereka.

Aku membayangkan wajah teman masa kecilku yang kini hanya menyisakan dendam. Dengan kejadian kali ini, kondisi mentalnya yang labil pasti benar-benar hancur. Tapi aku tidak peduli lagi. Wajar kalau aku memilih untuk berpihak pada teman yang mendampingiku di masa sulit, daripada orang yang telah membuangku.

Aku sempat jatuh dan mengurung diri. Setelah menunda setahun, aku akhirnya bisa masuk sekolah ini. Tapi tetap saja, fakta bahwa perbuatan jahat Kondo menyebar sejauh ini juga merupakan tanggung jawabku.

“Eh, itu Endo, kan? Sedang apa? Klub sains libur hari ini, kan? Lagipula bukankah kamu sedang sakit sejak kemarin? Kamu juga nggak ikut ujian simulasi hari ini.”

Suara yang menyapaku dari belakang membuatku refleks menoleh. Ternyata itu Imai, teman sekelasku yang sedang mengenakan seragam kyūdō (panahan Jepang).

Aku bersyukur atas pertemuan kebetulan ini. Imai adalah teman masa kecil sekaligus sahabat Aono. Lewat Aono, dia menjadi teman keduaku sejak masuk SMA. Dia pasti tahu sesuatu.

Dengan ini, balas dendamku akan memasuki satu tahap baru.

Dadu sudah dilempar. Tuhan sedang memihak padaku.

“Oh, aku cuma lupa sesuatu. Minggu depan ada kuis kecil, kan? Yang tentang kosakata Bahasa Inggris itu. Aku kelupaan bawa buku catatannya, jadi aku ke sini buat ambil.”

Aku menggunakan alasan yang sudah kusiapkan. Sekalipun dia sangat cerdas, dia seharusnya tidak akan mencurigai apa-apa.

“Begitu ya. Tapi kamu sedang sakit, kan? Sampai nggak ikut ujian tadi. Jangan terlalu memaksakan diri. Bilang saja, aku bisa mengantarkannya ke rumahmu.”

“Tidak apa-apa. Lagipula, aku menaruhnya di loker yang sudah dikunci.”

Dia tampaknya sudah puas dengan jawabanku, jadi aku mulai masuk ke inti pembicaraan. Aku sudah melewati rintangan pertama: tidak dicurigai. Sekarang masuk ke tujuan utama.

“Ngomong-ngomong, Aono tidak apa-apa? Aku kirim pesan lewat LINE karena khawatir, tapi belum dibaca sampai sekarang.”

Mungkin dia sengaja tidak membacanya. Kalau aku di posisi yang sama, mungkin aku juga begitu.

Kalau semua kebencian sekolah tertuju padamu, pasti menakutkan sekali untuk membuka media sosial.

Aku benar-benar tidak bisa memaafkan orang-orang yang telah mendorong sahabatku ke titik ini. Mereka memperlakukan seseorang yang sangat berarti bagiku seperti mainan pelecehan. Mana bisa aku maafkan?

“Oh, dia masih bertahan. Aku senang kamu juga khawatir. Ternyata bukan cuma kami yang peduli, masih ada orang lain juga, ya.”

“Itu jelas. Aono bukan tipe orang yang melakukan hal-hal seperti yang dikabarkan.”

“Kalau begitu, nanti setelah dia kembali sekolah, kita jenguk bareng, yuk. Sekarang dia masih datang ke sekolah tapi cuma ke ruang UKS. Katanya, berkat bantuan guru Takayanagi dan lainnya, kondisinya sudah membaik. Kalau kamu datang, dia pasti senang banget.”

Terima kasih, Imai. Informasi bahwa Aono sudah mulai pulih berkat para guru sangat penting untuk rencana balas dendamku. Setidaknya, sekolah tidak berniat menutupi masalah ini. Kalau ada tanda-tanda seperti itu, Imai pasti akan langsung mengambil tindakan tegas.

Artinya, sekolah masih bisa diandalkan. Itu berarti, hipotesis pertamaku kemungkinan besar benar.

Kalau begitu, untuk sementara, aku akan kirimkan data foto ke pihak sekolah dan lihat bagaimana mereka menanggapinya.

Kalau tidak salah, situs resmi sekolah mencantumkan nomor faks untuk keperluan komunikasi. Faks memang terasa ketinggalan zaman di masa sekarang, tapi justru itu menguntungkan. Mengirim faks dari mesin cetak di minimarket yang digunakan banyak orang akan membuat pengirimnya sulit dilacak, berbeda dengan email yang bisa ditelusuri server-nya.

Agar tidak dianggap main-main, aku juga akan mencetak foto-foto itu dan memasukkannya ke dalam amplop, lalu menaruhnya di kotak surat sekolah dengan tujuan kepada guru Takayanagi.

Dengan begitu, tahap kedua dari balas dendamku selesai.

“Kalau begitu, aku pulang duluan. Sampai ketemu minggu depan, ya.”

Aku menjaga sikap tetap tenang dan segera mengakhiri pembicaraan. Aku tidak boleh menyeret Imai ke dalam balas dendam ini. Kalau dia berpihak padaku dan kemudian jadi sasaran balas dendam Kondo, itu akan sangat buruk. Kalau Imai mengalami hal yang sama seperti Aono, aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri.

“Iya, jaga diri, ya. Oh ya, Endo. Mungkin ini agak lancang… atau cuma pikiranku yang berlebihan, tapi…”

Dia yang biasanya blak-blakan, kini tampak ragu saat berbicara.

“Hmm?”

“Jangan terlalu memaksakan diri, ya. Kalau benar-benar berat, kamu bisa mengandalkan aku… atau guru, atau siapa pun. Tolong, jangan hadapi semuanya sendiri.”

Waktu seperti berhenti sejenak.

Apa dia tahu? Gimana bisa? Aku hampir tidak memberi informasi apa-apa. Aku buru-buru sadar bahwa ekspresiku mulai tegang, lalu cepat-cepat tersenyum. Jangan sampai dia curiga. Imai cerdas. Dengan sedikit informasi saja, dia bisa sampai ke inti kebenaran. Dan kalau dia sampai menyadarinya, dia pasti akan mencoba membantuku dan mengambil risiko besar.

“Eh, oh… kamu maksudnya soal flu, kan? Makasih sudah khawatir, ya.”

Aku mengeluarkan alasan itu di saat-saat terakhir, dan dia pun ikut tertawa.

Senyum yang biasa ia tunjukkan.

“Iya, soal flu itu. Sampai repot-repot datang ke sekolah cuma buat ambil buku, pasti sangat berat.”

Aku memilih untuk tidak menyangkal maupun membenarkan. Kami hanya tertawa bersama, sambil mengalihkan pembicaraan.

Kami berpisah dengan senyuman.

— Sore hari yang sama, sudut pandang Takayanagi —

Ujian simulasi telah selesai. Sebenarnya aku bisa langsung pulang, tapi karena masih ada beberapa pekerjaan yang tersisa, aku lembur di ruang guru untuk menyelesaikannya. Akhirnya, minggu yang penuh gejolak ini berakhir juga. Meski pertempuran sesungguhnya baru saja dimulai, setidaknya pelajaran tambahan untuk Aono sudah bisa dimulai, dan kami juga sudah berhasil menjalin komunikasi yang lancar dengan orang tuanya.

Hubungan saling percaya antar staf pengajar juga cukup kuat. Sampai di titik ini, aku rasa semuanya berjalan cukup lancar. Besok mungkin aku harus masuk kerja di akhir pekan, tapi aku masih bisa bertahan sedikit lagi.

“Lancar, ya? Hanya dengan berpikir begitu saja, aku sudah menjadi terlalu sombong. Padahal masalah ini sebenarnya lebih baik tidak terjadi. Sekolah pun tidak sepenuhnya bisa lepas dari tanggung jawab.”

Perasaan lemah yang sempat muncul membuatku sedikit merasa muak pada diriku sendiri. Masalah lain juga ada—Wakil wali kelas, Ayase-sensei, merasa bertanggung jawab atas kasus Aono dan kini jatuh sakit karena depresi, sampai-sampai tidak bisa masuk kerja.

Aku ingin membantunya sebisa mungkin, tapi sekarang aku harus memprioritaskan penanganan kasus Aono, jadi urusan itu aku percayakan kepada kepala sekolah dan wakil kepala sekolah.

Kasus ini penuh dengan bahan perenungan. Tapi aku tak boleh terlalu larut dalam penyesalan. Kalau tidak, kemampuan untuk mengambil keputusan bisa terganggu, dan semakin lama masalah ini berlarut, akan semakin menguras tenaga.

Sepertinya aku memang kelelahan. Tapi berkat dukungan dari banyak pihak, aku bisa sampai sejauh ini.

Setelah menyelesaikan koreksi ulangan kecil yang sempat tertunda, aku berdiri untuk beristirahat sebentar. Kupikir aku akan membuat kopi untuk menyegarkan diri. Aku mengambil cangkir dan kopi instan dari lemari, lalu berjalan melewati mesin cetak. Saat itulah aku mendengar suara mesin faks yang menerima kiriman.

“Faks? Di zaman sekarang, masih ada yang pakai, ya.”

Kadang-kadang memang masih dipakai untuk komunikasi dari dewan pendidikan, tapi ini zaman Reiwa, masa kejayaan email saja sudah lewat. Banyak guru yang sekarang bahkan menggunakan LINE untuk membuat mailing list dengan para siswa. Email pun mulai terasa kuno.

Aku mendekati mesin untuk melihat apa yang masuk, dan di sana terlihat sesuatu seperti foto.

“Eh!?”

Resolusinya sangat rendah—wajar saja, karena ini faks. Tapi tetap saja, yang tercetak di sana adalah bukti yang selama ini kucari.

Meskipun gambar hitam putihnya samar, data faks biasanya juga disimpan di server sekolah. Kalau kubuka yang versi digitalnya, pasti akan lebih jelas.

Aku langsung melupakan niat membuat kopi dan segera mencari file gambar itu di server. Dengan menggunakan perangkat lunak pengolah gambar, aku mengatur warna dan kontras. Hanya dengan itu saja, gambar jauh lebih terlihat dibanding dari hasil faks.

“Kondo dan Amada…”

Aku tak tahu kapan foto ini diambil. Tapi jelas terlihat keduanya sedang masuk ke sebuah hotel cinta. Foto kedua menunjukkan mereka sedang diamankan oleh polisi. Selain itu, ada catatan tulisan tangan yang berbunyi, “Saya telah memasukkan foto asli berwarna ke dalam kotak surat sekolah, ditujukan kepada Takayanagi-sensei. Mohon diperiksa.”

Aku mengingat kembali kesaksian waktu itu:

“Memang benar, saya dan Eiji bertengkar karena masalah putus… Saat itu saya sedang berjalan bersama Kondou-senpai yang sedang menghibur saya, lalu Eiji melihat kami dan salah paham.”

“Kami memang kebetulan sedang berjalan bersama, lalu dia melihatnya dan mungkin mengira saya selingkuh.”

Kesaksian dua orang itu jelas-jelas bohong. Dengan ini, aku bisa menggoyang mereka lebih jauh. Jika penyelidikan dan foto ini digunakan dengan benar, kebenaran mungkin sudah ada di depan mata.

Namun, ada satu hal yang menggangguku.

Tentang siapa pengirim anonim ini. Sepertinya dia bukan staf sekolah. Mungkin siswa dari sekolah ini. Memang bisa saja orang tua siswa, tapi rasanya tidak perlu menggunakan cara yang sekompleks ini.

Pertanyaannya—bagaimana siswa anonim ini bisa mengambil foto seperti ini?

Pasti orang ini sedang mempertaruhkan sesuatu yang sangat besar.

Entah dia sangat membenci Kondo dan teman-temannya, atau dia merasa berutang budi pada Aono. Aku pikir kemungkinan besar salah satu dari dua itu. Tapi dari foto ini, aku bisa merasakan tekad yang luar biasa kuat, seolah dia tak peduli kalau harus mengorbankan dirinya sendiri.

Padahal... dia masih anak belasan tahun.

Apa yang sudah dia lalui sampai bisa punya tekad sekuat itu?

Lagipula, dia masih anak di bawah umur, yang seharusnya dilindungi oleh orang dewasa.

Sejak bekerja sebagai guru, sudah tak terhitung berapa kali aku menyaksikan anak-anak yang tidak bisa dilindungi.

Siswa yang tak bisa sekolah karena harus menanggung utang orang tuanya.

Siswa yang tumbuh tanpa kasih sayang orang tua dan akhirnya terjerumus ke dalam kenakalan.

Dan seperti kasus Aono kali ini—siswa yang hampir kehilangan masa depannya karena perundungan yang disengaja.

Aku ingin menemukan anak-anak seperti itu dan mengulurkan tangan. Mungkin ini terdengar sombong, tapi aku percaya itulah tanggung jawabku sebagai guru.

Sebelum sesuatu yang buruk terjadi lagi, aku harus bertindak. Jangan sampai semuanya terlambat.

Aku akan menyelesaikan semuanya.

Aku segera menghubungi kepala sekolah dan wakil kepala sekolah untuk membagikan informasi yang kudapat.

Beberapa waktu kemudian, keduanya datang ke sekolah. “Takayanagi-sensei, maaf kami datang terlambat,” kata kepala sekolah, tampak benar-benar menyesal.

“Tidak apa-apa. Saya memang berencana lembur hari ini,” jawabku.

Sambil menunggu mereka, aku sempat melanjutkan pekerjaan.

Foto ini bisa menjadi bukti yang cukup kuat untuk membantah semua kesaksian sebelumnya.

Tentu saja, ada kemungkinan ini hanya aksi iseng untuk menjatuhkan Kondo, tapi secara kasat mata, fotonya tidak tampak dibuat-buat atau mencurigakan.

Setidaknya, aku merasa foto ini cukup kuat untuk jadi dasar memanggil kembali Kondou dan Amada untuk dimintai keterangan ulang.

Dan kita harus memastikan—apakah mereka benar-benar tidak berbohong?

“Syukurlah kamu langsung menghubungi kami,” kata wakil kepala sekolah.

“Lalu, kalau benar yang memotret ini adalah siswa… ini bisa jadi masalah besar. Kita harus segera menemukan dan melindungi dia. Kalau dibiarkan, bisa-bisa dia justru dalam bahaya.

Itulah tugas kita sebagai orang dewasa—melindungi anak-anak. Mereka adalah pihak yang harus dilindungi.”

Kepala sekolah tampak berpikir dengan cemas.

Melihat bahwa para atasan berpikir sejalan denganku membuatku merasa lega. Mereka bisa dipercaya.

“Betul. Kemungkinan besar ini memang tindakan yang sangat berisiko.

Dan kalau sampai pihak klub sepak bola tahu soal ini, bisa saja mereka mencoba membalas dan mencari tahu siapa pengirimnya. Kalau sampai berujung kekerasan…”

Wakil kepala sekolah menggeleng dengan ekspresi berat.

Itu benar-benar skenario terburuk. Aku tak ingin ada siswa lain yang jadi korban.

Menurutku, itu pemikiran yang wajar bagi seorang guru. “Takayanagi-sensei, apa Anda punya rencana? Saya benar-benar tidak ingin ada siswa yang terluka lagi,” tanya kepala sekolah dengan wajah penuh kekhawatiran.

Aku pun menjelaskan rencana yang sudah kupikirkan sambil menunggu mereka datang.

“Ya. Saya sudah sempat mencari beberapa informasi. Kondo dan Amada tadi tidak ikut ujian simulasi hari ini, alasannya sakit. Kemungkinan besar, foto ini diambil saat ujian itu berlangsung. Kalau sampai foto seperti ini disebarluaskan, berarti si pengirim punya dendam besar pada Kondou atau mungkin teman Aono. Dua kemungkinan itu yang paling kuat. Jadi saya sedang menyaring daftar siswa yang hari ini tidak ikut ujian dan yang tidak ikut klub (ekstrakurikuler). Dari situ, saya bisa mempersempit kemungkinan siapa yang memenuhi semua kriteria itu.” Aku menunjukkan daftar kandidat kepada mereka. Orang yang mengambil foto ini pasti ada di antara nama-nama itu.


Dan kami akan melindungi siswa itu.


Agar tak ada lagi anak yang terluka karena masalah ini.

Posting Komentar