— Pagi, 7 September — Sudut pandang anggota junior klub sepak bola —
Seperti biasa, setelah selesai latihan, kami kembali ke ruang klub.
Lelah? Jelas. Tapi sebentar lagi ada turnamen besar, jadi sekarang adalah masa-masa untuk bertahan.
Klub
sepak bola kami dulunya lemah, sampai Kondo-senpai masuk sekolah ini.
Berkat
dia—seorang jenius di level atas SMA—tingkat kemampuan tim kami meningkat
drastis, bahkan tahun lalu kami berhasil ikut kejuaraan nasional.
Di
kampung halaman, dia sudah dianggap pahlawan yang mengangkat klub sepak bola
lemah ini ke level nasional.
Angkatan
kami, yang masuk tahun kedua karena mengaguminya, adalah kumpulan pemain yang
bersinar saat SMP.
Kalau
dilihat dari betapa kuatnya susunan pemain sekarang dibanding tahun lalu, kami
seharusnya bisa hasilkan capaian yang lebih baik di tingkat nasional.
Kami
semua benar-benar mengidolakan Kondo-senpai.
Karena
itu, kami rela melakukan apa pun demi dia.
Termasuk
saat kami mengganggu Aono—itu semua demi membalas kebaikan senpai.
Kalau
bisa membuat Kondo-san senang, kami rela melakukan apa saja.
“Kondo-senpai
hebat sekali, ya. Hampir tidak pernah latihan, tapi tetap jago begitu.”
Aida bicara dengan nada bersemangat. Dia bahkan lebih
tergila-gila pada senpai daripada aku—sudah seperti fans berat. “Iya, apalagi
sentuhan bolanya yang lembut itu...”
“Itu
sih udah level J-League! Aku belum pernah lihat jenius kayak dia. Dia bakal
jadi harta karun sepak bola Jepang. Pasti!” Aku hanya bisa tersenyum masam
mendengar Aida yang makin heboh, sambil sedikit kembali ke realita.
Kami
memang berhasil lolos dari interogasi Takayanagi dengan mudah, tapi dalam
hatiku muncul rasa takut.
Aku
sadar, aku ini pengecut.
Aida
terlalu fanatik pada senpai, yakin seratus persen kalau Kondo-senpai tidak
mungkin salah.
Kalau
aku cerita soal rasa takutku, dia pasti cuma akan menertawakannya:
“Bodoh, mana mungkin Kondo-senpai melakukan kesalahan!” “Tadi
di depan ruang klub, ada amplop aneh. Ada yang jatuhin?”
tanya
Mitsuda-senpai, kakak kelas tahun ketiga, dengan suara keras.
“Apa
tuh? Tidak ada nama tujuannya juga. Ya udah, coba aja dibuka dulu,”
jawabku.
Senpai mengangguk dan mulai merobek bagian atas amplop.
“Apa-apaan
ini...”
Wajah
senpai langsung memerah, lalu memucat.
Tangannya
gemetar, dan amplop beserta isinya—foto—jatuh ke lantai.
Kami
memungut foto itu dan melihatnya bersama-sama.
Seharusnya
kami tidak melihatnya.
Lebih
baik tidak tahu.
Tapi
fakta yang menyakitkan terpampang jelas di sana.
Foto
pertama: Kondo-senpai dan Amada Miyuki tertangkap kamera sedang masuk ke sebuah
hotel cinta.
Dari
situ saja, kedekatan mereka sudah terlihat jelas.
Aku
dan Aida langsung gelisah.
Bukannya
senpai bilang Amada datang untuk curhat soal pacarnya, Aono, yang katanya kasar
dan suka menguntit?
Entah kapan foto ini diambil, tapi dari tampilannya… ini
lebih terlihat seperti mereka pacaran.
Apa
Aono benar-benar menyakiti Amada?
Melihat
foto ini, malah terlihat sebaliknya...
Seolah-olah
senpai justru berselingkuh dengan Amada.
“Tidak... Ini pasti ada kesalahan.” Aida gemetar di
sampingku.
Kuperhatikan,
bayangan sempurna tentang senpai dalam pikirannya mulai runtuh.
Tapi
kalau dipikir dengan kepala dingin—kita sudah dibohongi oleh senpai.
Dan
karena kebohongan itu, kita jadi melakukan hal yang sangat parah.
“Eh,
bukannya ini termasuk hubungan terlarang ya?
Hotel
cinta gitu, anak di bawah 18 tahun tidak boleh masuk, kan?
Kalau
sampai ini bocor ke publik, kita bisa dilarang ikut turnamen.
Bahkan
kalau pun tim kita masih bisa ikut, tanpa Kondo… kita bisa menang nggak?”
Salah
satu senpai kelas tiga berseru dengan nada panik.
Mereka
jelas ingin mendapat hasil bagus di turnamen tahun ini, demi rekomendasi ke
universitas.
Turnamen
ini sangat penting.
“Siapa
ya, yang mengambil foto ini?
Jangan-jangan…
anggota klub sendiri?
Kalau
bukan, tidak mungkin amplopnya sampai jatuh di depan ruang klub.”
Mitsuda-senpai
bicara dengan suara yang terdengar tegang.
Semua
orang mulai saling tatap dengan curiga.
Mungkin
saja, salah satu dari kami adalah pengkhianat.
Semua orang terlihat seperti musuh. “Buruan, kasih liat foto
selanjutnya!” Aku membalik foto di tanganku.
Dan
di situlah terlihat pemandangan yang lebih putus asa dari sebelumnya.
Amada
ditangkap polisi.
Kondo-senpai
mencoba kabur tapi dijatuhkan dan ditangkap juga.
“Tidak
mungkin… Ini skandal besar!
Pemain
andalan kita ditangkap polisi?
Kita
bisa kena tanggung jawab bersama. Rekomendasi universitas kita lenyap.
Bukan
cuma itu—klub bisa dibubarkan!
Kalau itu terjadi… masa depan kita bagaimana!? Aku tidak
mau!!” Mitsuda-senpai menangis histeris.
Bubarkan
klub?
Kalau
itu terjadi, masa depan kami benar-benar hancur.
Kenapa
Kondo-senpai sampai ditangkap?
Apa
kami semua sebenarnya ikut terlibat dalam kejahatan?
Kalau
Aono ternyata tidak bersalah...
Apakah
itu berarti kami juga bersalah?
Masa
depan cerah yang tadi pagi masih terasa dekat, sekarang seperti runtuh di depan
mata.
“Siapa
pelakunya!? Siapa yang ngambil foto ini!? Cepat keluar! Atau aku bunuh kamu!!”
“Kamu ya!? Kamu sering ngeluh tentang senpai, kan!?” “Apa
gunanya aku capek-capek tiga tahun ikut klub ini!?” Rasa curiga makin menyebar
ke semua orang.
Ruang
klub berubah jadi neraka dalam sekejap.
Semua
saling mencurigai, saling menyalahkan.
Dan
di tengah neraka itu, mantan karisma kami akhirnya datang.
※
──Pagi di hari yang sama - Sudut
pandang Kondo──:
Setelah
kejadian kemarin, aku sempat dibawa ke kantor polisi, lalu akhirnya pulang ke
rumah. Ayahku tetap tinggal bersama Miyuki, sementara aku disuruh pulang karena
situasinya dianggap akan jadi rumit kalau aku ikut. Aku pun tidur nyenyak, dan
sekarang sudah tiba hari pertandingan latihan.
Tapi,
meski sudah menyalurkan stres, rasanya tetap tidak enak.
Aku
bersiap menuju klub. Katanya, sekolah tingkat menengah dari prefektur lain akan
datang ke sini. Bagus. Aku bisa menghajar mereka habis-habisan... lalu
bersenang-senang dengan “cewek no.1” yang bilang mau datang nonton untuk
mendukungku.
“Haah~
hidup ini memang menyenangkan.”
Baiklah,
saatnya melepaskan stres dengan menghajar lawan yang lebih lemah. Masih agak
ngantuk sih.
Dengan
semangat tinggi, aku membuka pintu ruang klub, dan sebagian besar anggota sudah
berkumpul.
Tatapan
dingin yang tak seperti biasanya langsung menusuk ke arahku.
“A-Ada
apa dengan kalian?”
Seharusnya,
aku—sang ace—tidak mungkin disambut dengan tatapan seperti ini. Ada yang aneh.
“Kondo,
KAU!!”
Watanabe,
sang kapten tim, mencengkeram kerah bajuku dan langsung membantingku ke loker.
“Sakit,
sialan!! Apa-apaan kau ini?!”
Aku
protes karena tubuhku didorong ke loker. Meski dia kapten, ada batasnya juga!
“Diam!
Kau pikir ini waktu yang tepat buat bikin masalah kayak gini!?”
“Apa
maksudmu?”
Aku
benar-benar tidak paham. Apa mereka semua sudah gila?
“Jangan
pura-pura bego! Lihat foto ini!”
Saat
aku melihat foto yang diberikan, terlihat aku dan Miyuki sedang masuk ke hotel
cinta. Lalu ada foto aku yang sedang ditahan polisi. Foto-foto yang tidak bisa
dibantah.
Apa-apaan
ini. Siapa yang...
Apa
ada pengkhianat? Darahku seketika terasa mengalir dingin.
Sejauh
mana informasi ini bocor? Guru-guru juga tahu? Atau...
Padahal
ayahku sudah berusaha menutup-nutupi semuanya. Tapi kalau foto ini tersebar,
bisa gawat.
Ini
bisa menghancurkan rekomendasi universitasku. Masa depanku yang penuh kejayaan
bisa hilang.
“Aku
tidak tahu apa-apa! Itu bukan aku!”
Kata-kata
tak masuk akal keluar dari mulutku. Padahal jelas-jelas itu aku.
“Itu
jelas-jelas kamu, bodoh! Jangan pura-pura bodoh!”
Dia
mencengkeram kerahku lagi dan membenturkanku ke loker. Rasa sakit
berulang-ulang menghantam tubuhku.
Penghinaan.
Penghinaan. Penghinaan.
Akulah
raja di klub ini! Siapa pun yang melawan raja harus dihukum mati!! Kalau sang
ace—aku—terluka, bagaimana masa depan mereka!?
Hidup
kalian semua ada di tanganku!
“Diam!”
“Gara-gara
kau, gimana nasib turnamen terakhir kita!? Aku mengandalkan beasiswa olahraga!
Kalau tidak bisa ikut turnamen, masa depanku hancur! Kembalikan masa mudaku!
Kembalikan masa muda kita semua!!”
“Dari
tadi ribut banget, ya! Kalian semua sukses karena bakatku! Ibarat ikan remora
yang nempel hiu! Cuma bisa ikut-ikutan, bicara paling kencang!”
Aku
dorong tubuh Watanabe sekuat tenaga. Rasanya aku harus memukul seseorang.
“Bangs*t!”
Watanabe
menatapku dengan tatapan penuh kebencian. Aku membalas dengan tatapan yang
sama.
“Dengar
baik-baik. Sekolah tidak akan bisa menghukumku. Ini cuma masalah cinta remaja.
Paling-paling dihukum skorsing. Tidak akan berdampak ke klub. Dan jangan
lupa—ayahku itu anggota dewan! Orang penting! Skandal seperti ini gampang
ditutup. Kalian itu beda kelas sama aku! Jangan samakan aku dengan kalian!”
“Apa!?”
“Sekolah juga tidak akan berani melepasku. Kalau sampai
dihukum, nama baik sekolah bisa rusak. Guru-guru konservatif juga tidak akan
membiarkannya. Pasti akan ditutupi.” Aku terus bicara cepat-cepat.
“Benar
juga!”
Salah
satu junior bersuara mendukungku. Ya, memang begitu. Aku pun tenggelam dalam
euforia. Beberapa orang bahkan bertepuk tangan.
Rasanya
menyenangkan. Sedikit lebih lega.
“Dengar,
aku ini tak tersentuh. Kalian beda kasta! Kalian tidak bisa melawanku!!”
Benar,
aku ini spesial. Ayahku pasti bisa bereskan ini. Bakat sepak bolaku juga akan
menyelamatkanku.
Tidak
ada yang bisa melawanku!!
“Kondo!”
Saat
Watanabe masih mendekat, aku mengejeknya:
“Dengar
sini. Kalian itu cuma budakku. Fakta bahwa kalian ikut merundung Aono tidak
akan bisa dihapus. Kalau itu terbongkar, kalian bakal kena juga. Lagipula,
tanpa aku, apa kalian bisa menang di turnamen? Hah? Kalian bisa dapet beasiswa
tanpa aku?”
Watanabe
gemetar karena marah, lalu terdiam. Racunku mulai bekerja. Begitulah. Orang
biasa tanpa bakat seperti kalian harus tunduk pada orang sepertiku.
Paham
kan? Sekarang, maki-maki aku, lalu terima kenyataan. Jadilah budakku.
“Keparat…”
Watanabe
hanya bisa mengumpat dan melampiaskan dengan menendang tempat sampah. Sampah
berserakan. Lumayan efektif. Setelah pertandingan nanti, aku akan paksa dia
sujud minta maaf padaku. Baru aku akan puas.
“Bagus,
kalau kalian sudah ngerti. Tanpa aku, kalian nggak bisa menang. Jadi, diamlah,
dasar pecundang!”
Aku
tertawa mengejek semua anggota klub sambil mulai ganti baju ke seragam latihan.
Akulah
raja di sini! Sekarang kalian paham, kan, para rakyat jelata!!
Hidup
dan mati kalian semua ada di tanganku. Kalian semua budak! Aku boleh lakukan
apa saja ke kalian dan tetap dimaafkan. Bahkan, itu mungkin kebahagiaan bagi
kalian.
“Kalau
nanti kita jadi dirugikan gara-gara ulahmu, kau harus tanggung jawab.”
Watanabe
berkata lemah. Hah, budak ini masih berani mengoceh ya? Aku tertawa dan
mengabaikannya.
“Kalau
begitu, kau juga siap dong untuk nangis dan minta maaf sama aku!!”
Aku
memperingatkan Watanabe. Di posisi seperti ini, kehilangan wibawa berarti
tamat.
Gak
apa-apa. Masih aman. Aku ini orang terpilih!
Semua
stres yang menumpuk ini akan kuhilangkan di pertandingan hari ini. Aku akan
buktikan kalau aku memang pantas!
Dengan
tubuh gemetar, aku melangkah ke lapangan.
Tidak
apa-apa. Ini cuma gemetar karena semangat!
※
Berikut
terjemahan dalam bahasa Indonesia dengan gaya baku namun tidak terlalu formal:
---
──Hari yang sama, dari sudut
pandang Endo──
Aku
menonton pertandingan uji coba klub sepak bola dari ruang kelas kosong di
gedung sekolah.
Sekolah
kami adalah sekolah unggulan, jadi bahkan di hari libur, ruang kelas dibuka
sebagai ruang belajar mandiri.
Tapi,
karena kebanyakan siswa belajar di bimbingan belajar, hampir tidak ada orang di
ruang kelas selain kelas tiga.
Itulah
sebabnya tempat ini cocok untuk mengawasi.
Aku
membawa teropong dan mengamati kondisi klub sepak bola. Seperti yang kuduga,
tidak ada umpan yang diarahkan ke Kondo, dan secara keseluruhan, intensitas
pergerakan tim menurun. Sepertinya foto kemarin memberikan dampak yang cukup
besar.
Karena
Kondo tak mampu mengatur permainan dengan baik, dia jadi makin panik dan makin
terisolasi, lalu malah memberikan poin tambahan pada lawan yang selevel lebih
rendah darinya.
Kekalahan
yang sangat memalukan, sampai terasa lucu. Kalau seluruh klub sepak bola
terlibat dalam perundungan, maka mereka memang pantas mendapatkannya.
Dekat
lapangan, aku bisa melihat mantan pacarnya datang untuk mendukung.
Dia
adalah teman masa kecilku, tapi sekarang wajahnya benar-benar sudah tak ada
bayangan masa lalu.
Melihat
sosoknya yang sudah sepenuhnya rusak malah membuatku merasa jijik.
Tampaknya
rencanaku berjalan dengan baik. Dalam kondisi mentalnya yang kacau, Kondo pasti
akan melampiaskan frustrasinya pada perempuan itu.
Perempuan
yang sudah jadi mainannya, namun tetap saja hanya bisa bergantung pada
Kondo—sungguh menyedihkan.
Kalau
semuanya berjalan sesuai rencana, aku akan menyaksikan pemandangan yang sangat
menghibur lagi kali ini.
Dan
pemandangan menarik itu akan aku berikan ke Amada.
Kalau
begitu, Kondo akan benar-benar hancur. Dia akan kehilangan dua pilar utamanya:
klub sepak bola dan para perempuan.
Kalau
dibandingkan dengan Aono yang kehilangan segalanya dan bahkan mendapat kerugian
karena ulah Kondo, ini masih termasuk balas dendam yang lunak.
Ya,
kalau mau jujur, sangat sulit untuk mendapatkan bukti konkret bahwa Kondo
adalah dalang perundungan.
Karena
sepertinya seluruh klub sepak bola terlibat, kecuali ada kejadian luar biasa,
para anggotanya pasti takkan mengaku karena ingin menyelamatkan diri sendiri.
Jadi,
tujuan rencana ini adalah membuat para pelaku tenggelam dalam kecurigaan dan
saling curiga, lalu menggoyang mereka sedikit demi sedikit sampai akhirnya
mereka hancur sendiri.
Aku
juga sudah menyebarkan informasi ke pihak sekolah.
Dengan
begitu, tekanan dari atas akan makin ketat.
Karena
rasa terdesak itu, bisa jadi ada seseorang yang akhirnya membuat kesalahan
fatal.
Kalau
itu terjadi, itu adalah kemenangan besar.
Kalau
rasa curiga sudah muncul, pasti akan ada yang berkhianat.
Kondo
akan dikhianati oleh orang dalam dan hancur secara sosial.
“Tunjukkan
padaku pertunjukan terbaik kalian, dasar para bajingan.”
Hampir
semua orang yang ada di lapangan itu adalah target balas dendamku.
※
──Lapangan, Sudut
Pandang Kondo──
“Apa-apaan
ini…”
Di
papan skor, angka 1-4 terpampang jelas.
Biasanya
kami yang menang telak, tapi sekarang?
Kenapa
bisa begini? Kenapa? Kenapa!?
Kenapa
kami kebobolan empat gol melawan tim yang jauh lebih lemah, bahkan sekarang
sudah masuk injury time babak kedua? Biasanya, bangku cadangan selalu penuh
dengan pujian untukku, tapi sekarang? Suasananya bahkan melewati tahap duka dan
berubah jadi kekosongan total.
“Aku
tidak bisa terima hasil seperti ini!”
Tendangan
jarak jauhku di momen terakhir pertandingan malah melambung jauh di atas
gawang.
Dan
di saat yang tak kenal ampun, peluit tanda pertandingan berakhir pun berbunyi.
“Udah gaya-gayaan dari awal, tapi ujung-ujungnya malah ngirim
bola ke luar angkasa. Kau nendang ke mana sih?” Suara ejekan Watanabe terdengar
jelas.
“Apa
kamu bilang!?”
Saat
aku melotot ke arahnya…
“Aku
cuma bilang, ya emang cocok sih buat ‘tuan bangsawan’. Ambisinya tinggi sekali
sampai-sampai kita yang rakyat jelata ini tidak bisa menyamai.”
Watanabe
mengejekku dengan nada penuh kebencian tanpa ragu sedikit pun.
Karena
marah, aku langsung mau menyerangnya, tapi teman satu tim buru-buru menahanku.
Tim lawan hanya bisa terpaku melihat semua itu.
Tim
kami benar-benar sudah hancur. Yang tersisa hanyalah kenyataan kejam bahwa ini
adalah awal dari kehancuran.
Aku
mulai melampiaskan kemarahan karena kekalahan ini dengan menyalahkan orang di
sekitarku.
“Apa-apaan
sih. Kenapa kalian tidak mengoper bola ke aku!?”
Kami
yang kalah telak kembali ke ruang ganti dengan frustrasi. Aku menendang tempat
sampah sekuat tenaga. Tempat sampah yang entah sudah berapa kali aku tendang
hari ini kini penyok parah.
“Oi,
Mitsuda! Kenapa kamu tidak mengoper ke arahku, hah!?”
Aku
melampiaskan kekesalan ke Mitsuda, gelandang seangkatanku yang selama ini jadi
semacam bawahanku.
“Soalnya
kamu dijaga ketat terus, jadi tidak ada jalur umpan…”
“Dasar
bodoh, tolol, lamban. Kalau begitu, kamu harusnya bergerak aktif dan buka
jalur, BODOH!”
“Hiih!
Maaf!”
Sial,
sangat tidak berguna. Demi mendukungku, sudah seharusnya mereka kerja keras.
Kenapa itu aja tidak bisa dilakukan!?
Ini
tim dibentuk untuk menjadikan aku sebagai rajanya. Kalian semua, rakyat jelata,
harus kerja keras demi membuatku bersinar. Kalian harus mengatur strategi agar
aku bisa bebas dari kawalan lawan. Itu satu-satunya cara agar tim ini bisa
menang!
Kenapa
hal sesederhana itu tidak kalian ngerti!?
Kalau
aku terlalu aktif bergerak, aku tidak akan bisa main optimal di babak kedua
karena kecapekan. Masa itu pun tidak kalian pahami!?
“Tapi…
Kondo-senpai sudah terlalu ketahuan sama lawan, jadi setiap kali dapat bola
langsung keambil. Terus, senpai juga tidak pernah bantu menutup ruang kalau
kehilangan bola…”
Salah
satu anak kelas dua bergumam pelan. Aku langsung naik pitam dan membanting
loker.
“Siapa
itu!? Siapa yang ngomong jelek soal aku!? Anak kelas dua, ya!?”
Semua
anak kelas dua menghindari kontak mata denganku.
“Sialan.
Masalahnya dari para striker juga sih. Mereka payah sekali, jadi serangan kita
tidak jalan. Satu-satunya gol kita juga dari penalti yang aku dapatkan. Mana
bisa menang kalau begini? Hah? Dan kamu, Watanabe, mau dapat rekomendasi
olahraga? Jangan mimpi! Kalian semua cuma cocok jadi pion-pionku. Kalian cukup
dipakai sama aku!”
Watanabe
pun tidak bisa berbuat apa-apa. Padahal tadi sok banget. Lucu juga sih. Mereka
semua kehilangan bola dengan mudah. Tanpa aku, mereka tidak bisa membuat
serangan. Wajar saja kalau timnya mati gaya.
Tapi
tetap aja, mereka berani sok-sokan begitu.
“Apa?
Tidak ada yang bicara? Kamu itu ikan remora ku. Jadi ikan remora ya berperilaku
kayak remora, diam aja dan biarkan sang Raja bersinar! Itu pun tidak bisa kamu
lakukan, dasar pecundang!”
Ah,
puas rasanya. Sekalipun aku bukan kapten, tidak ada yang bisa melawan sang
Raja. Itu hal yang wajar. Sekarang mereka pasti sadar betapa pentingnya aku.
Skandal
soal cewek tidak cukup kuat untuk mengusirku dari sini!
“Cukup!”
Watanabe
yang gemetaran tapi tetap melawanku.
“Hah?”
“Aku
muak denganmu, dasar bajingan. Aku tidak bisa satu tim lagi sama kamu!”
Tiba-tiba,
Watanabe memukul ulu hatiku.
Karena
mendadak, aku tidak sempat bereaksi dan menerima pukulan itu secara langsung.
Karena
tidak siap, rasa sakitnya luar biasa. Aku jatuh sambil memegangi perutku. Mual
luar biasa menyerang. Tanpa sadar aku mengeluarkan suara menyedihkan. Kenapa
aku, sang Raja, harus dipukul oleh orang seperti dia!? Tidak masuk akal!
“Uuek…”
Pukulan
yang kena tepat sasaran itu bikin kerongkonganku panas. Bernafas pun jadi
susah. Kalau dipikir-pikir, aku sudah sangat sering memukul orang, tapi belum
pernah dipukul. Rasanya sakit sekali. Ini seburuk itu ya?
Aku
menahan mual, tapi melihat Watanabe yang menatapku sambil terengah-engah, aku
mulai merasa takut.
“H-hei!
Kalian lihat kan!? Dia memukulku! Aku akan mengadu ke pelatih! Habis dia!”
Tapi,
tudak ada satu pun yang mendukungku. Malah mereka menatapku dengan dingin.
Kenapa? Aku kan Raja. Tanpa aku, kalian tidak akan bisa masuk kejuaraan
nasional!
Apa
kalian tidak paham!? Kalau gagal masuk nasional, semua rekomendasi dan peluang
masuk universitas bakal hilang. Minta maaflah sekarang!
Aku
ini orangnya pemaaf. Jadi, ayo, salahkan Watanabe!
“H-hei!
Kalian lihat kan!? Di depan banyak orang, kapten mukul ace tim!”
Tapi
tetap nggak ada yang bersuara.
Yang
ada justru tawa kecil mengejek dari seluruh tim.
Watanabe,
sambil tersenyum sinis, bilang:
“Hah,
kamu jatuh dan terbentur di kepala ya? Kamu cuma jatuh sendiri kok. Bukankah
begitu, semuanya?”
Semua
orang mengangguk perlahan. Jangan rendahkan aku. Aku adalah harapan kalian.
Aku
yang menopang tim lemah ini sampai sejauh ini. Tanpa aku, kalian cuma tim
pecundang di turnamen lokal. Selama ini kalian enak karena aku, dan sekarang
mau membuangku!?
Tapi
mereka benar-benar tidak mengerti. Rakyat jelata memberontak terhadap rajanya.
“Itu
benar.”
“Kondo-senpai
cuma kesal dan jatuh sendiri.”
“Kalau
semua bilang begitu, berarti emang begitu, kan?”
Mereka
semua menatapku dengan pandangan dingin. Bahkan ada junior yang terang-terangan
menertawakanku.
Kalian…
“Baiklah,
kalian mau lawan aku ya. Kalau begitu, siap-siap aja. Pasti akan menyesal
nanti!”
Aku
tahu semua kelemahan kalian. Tidak masalah. Nanti tinggal aku ancam saja.
Tunggu sampai kalian sadar, lalu datang merengek.
“Dengar
ya, Raja telanjang. Kami menurut karena kamu bisa bikin tim menang. Tapi kalau
kamu sudah tidak bisa menangin tim ini, kamu tidak punya nilai lagi.
Mengertilah dengan itu, dasar tolol!”
Watanabe
membentakku, tapi aku memilih untuk mengabaikannya. Kupikir, itu akan lebih
membuat dia kesal.
Sambil
kesal, aku keluar ruangan. Tidak ada satu pun yang mengejarku. Sial. Aku
kepikiran mau hubungi Miyuki, tapi setelah kejadian kemarin, mending jangan
dulu.
Kalau
begitu, yang nomor satu saja. Katanya hari ini dia datang buat nonton. Dia
biasanya gampang dicari, jadi pasti ada di sekitar sini.
“Kondo-kun!”
Tuh
kan. Ternyata benar.
Cewek
yang kupacari setelah “mencuri” dia dari teman masa kecil di SMP.
Ikenobe
Eri.
Sebelum
kenal aku, dia gadis anggun dengan rambut panjang hitam. Tapi karena seleraku,
dia mengecat rambut jadi coklat, dan memotong pendek rambutnya.
Lalu
aku bikin dia putus sama teman masa kecilnya, dan langsung kucampakkan. Waktu
itu dia sampai bolos sekolah dua bulan di tahun terakhir SMP-nya. Lucu sekali.
Tapi tetap aja dia belajar keras agar bisa masuk SMA yang sama denganku.
Akhirnya
dia kehilangan semua teman SMP, nilainya juga anjlok. Sekarang dia tidak
belajar lagi. Semua itu demi aku. Tapi kami tidak balikan, cuma jadi hubungan
‘gantung’ yang menguntungkan buatku. Gadis sialan yang rela menyerahkan seluruh
masa remajanya buatku. Dalam arti tertentu, dia jadi simbol kekuatanku.
Sebelum
pacaran denganku, dia murid teladan, polos dan nggak pernah makeup. Sekarang?
Dandan menor, dan sudah tidak kelihatan seperti dulu.
“Sayang
sekali tadi kalah, ya. Semua anggota tim lain emang tidak berguna sih. Bikin
kesal.”
Padahal
dia dulu baik ke semua orang. Tapi bisa berubah sejahat ini juga gara-gara aku.
Sejujurnya, sekarang pun aku bisa buang dia kapan saja, tapi dia ini semacam
medali kehormatan bagiku. Jadi aku pertahankan hubungan ini seadanya.
“Iya,
kan? Cuma Eri yang ngerti aku.”
Kalau
aku ngomong gini, dia pasti langsung nurut dan manja. Ayo, waktunya buat
pelampiasan stres yang menyenangkan.
※
──Setelah Pertandingan ·
Ruang Klub Sepak Bola · Sudut Pandang Shimokawa──
Pada
akhirnya, pertandingan latihan itu berakhir dengan kekalahan telak. Kalah besar
dari lawan yang seharusnya lebih lemah.
Pelatih
marah besar saat rapat, sampai-sampai melempar botol minum. Tapi, kami tidak
punya waktu untuk memikirkan itu.
Kalau
begini terus, kalau semuanya berantakan, pasti akan ada yang mengkhianat. Dan
kalau itu terjadi, bakal terbongkar bahwa kami semua di klub ini ikut-ikutan
mengintimidasi Aono. Kalau itu terjadi, bukan cuma kami dilarang ikut turnamen,
tapi bisa-bisa kami kena sanksi dari sekolah.
Kalau
sampai begitu, aku—yang jadi pelaku utama—mungkin tidak cukup hanya diskors.
Bagaimana kalau sampai dikeluarkan dari sekolah? Apa yang harus aku bilang ke
orang tuaku? Padahal aku sudah berhasil masuk SMA ternama, masa aku harus gagal
gara-gara hal begini!?
[”Kali
ini, jangan tertipu oleh kata “perundungan”. Ini bukan sekadar kenakalan
anak-anak atau candaan. Ini sudah masuk kategori kejahatan. Aku ingin kalian
benar-benar mengingat itu baik-baik.”]
Kata-kata
Takayanagi-sensei menusuk hatiku dan terus berputar di kepalaku.
Saat
pemeriksaan sebelumnya, kami masih bisa mengelak karena belum ada bukti yang
meyakinkan. Tapi sekarang, ini benar-benar gawat. Terlalu gawat.
Bagaimana
kalau orang yang memotret tadi melapor ke guru? Atau jangan-jangan, dia sudah
melapor. Kalau begitu, sedikit saja kesaksian kami berbeda, semuanya bisa
runtuh. Padahal selama ini kami sudah menyusun alibi dengan rapi. Tapi kalau
mulai terlihat celah, kami harus bisa menghindar dari penyelidikan lanjutan
dengan cepat dan spontan. Dan itu pun harus memastikan bahwa semua kesaksian
tetap konsisten.
Setelah
rapat berakhir dan pelatih keluar, kami semua terdiam di ruang klub yang terasa
begitu berat. Aku mulai merasa cemas—apakah kami benar-benar bisa lolos dari
ini?
“Tidak
mungkin. Kita tidak akan bisa menutupi ini selamanya,”
Aku
tanpa sadar menggumam. Aida, teman sekelasku, langsung memandangku dengan wajah
kaget.
“Heh, maksudmu apa? Kamu bilang ‘tidak bisa’… jangan-jangan kamu mau
mengkhianati Kondo-senpai dan kita semua!?” Suaranya histeris, seperti orang
yang diliputi paranoia.
Mitsuda-senpai
dan kapten juga langsung mendekatiku. Begitu juga anggota klub lainnya.
“Bukan, bukan begitu. Aku tidak berniat berkhianat. Tapi...
aku mulai merasa tidak yakin bisa lolos dari penyelidikan nanti,” Alasanku
terdengar lemah. Suaraku bahkan bergetar.
Kenapa
aku harus berbicara begitu? Dalam situasi penuh rasa saling curiga seperti ini,
tentu aku akan jadi kambing hitam...
“Jangan bercanda. Bukannya kamu dengan Aida yang ngecoret
meja Aono duluan? Jangan menyeret kita semua ke masalah ini!” Mitsuda menarik
seragamku dengan keras.
“Tapi
Mitsuda-san juga bilang sendiri, ‘Hajar saja!’ waktu itu...”
“Apa
kamu melawan senior, hah? Padahal kamu yang paling salah, malah nyalahin aku.
Tanggung jawab, dong! Kamu tidak boleh mengaku. Kalau kamu tidak bisa nutupin
ini, ya mati aja. Tanggung jawab sama semua orang, kamu mati saja. Biar semua
ini tidak diselidiki lebih jauh.”
“Tidak
mungkin...”
Aku
berharap ada yang menolongku. Tapi tak satu pun mencoba menghentikan senpai.
Semua hanya menatap tajam padaku, seakan akulah satu-satunya yang salah. Lalu
kapten buka suara.
“Mitsuda,
cukup. Dengar, Shimokawa. Kalau kamu mulai goyah, kita semua bakal hancur.
Jangan sembarangan bicara.”
Kenapa
cuma aku yang disalahkan? Lagipula, kapten sendiri tidak menghentikan apa pun.
Bahkan dia yang menyebar rumor lewat akun alter miliknya. Jadi kenapa aku yang
jadi kambing hitam?
“Ba...
baik.”
Aku
akhirnya menyerah pada tekanan. Rasa rendah diri dan panik mulai menguasai
pikiranku. Mungkin aku harus mengaku saja dan minta tolong ke guru. Bilang saja
aku terpaksa diam karena takut ikut diintimidasi kalau melawan teman-teman
klub.
Pikiran
egois dan keinginan untuk menyelamatkan diri sendiri mulai tumbuh dalam hatiku.
Tapi
sepertinya, anggota klub selain aku sepakat untuk tetap menyembunyikan
kenyataan pahit ini. Mereka masih percaya semuanya belum ketahuan.
“Pertama-tama,
kita harus cari tahu siapa yang motret foto itu. Jangan-jangan, itu dari salah
satu anggota klub?”
Saat
kapten menanyakan itu, semua menggeleng. Tapi kalaupun ada pelakunya di antara
kami, mana mungkin dia mau mengaku. Lagipula, semuanya mencurigakan. Bisa jadi
cadangan yang kesal dan mau balas dendam, atau mungkin anak kelas satu yang
dendam karena pernah dipaksa latihan keras oleh kakak kelas.
Iya,
benar juga. Kita tunjuk saja satu orang sebagai pengkhianat. Bilang saja
semuanya salah dia.
“Senpai.
Kita harus cepat cari tahu siapa yang motret foto itu. Tangkap dan hajar dia
sampai tidak bisa berbuat apa-apa, biar dia tidak buka mulut! Kalau tidak, kita
semua bakal tamat. Anak kelas satu, kayaknya patut dicurigai, deh!”
Tanpa
sadar aku mengucapkan semua yang kupikirkan. Setelah tadi aku dibilang harus
mati, aku ingin mengalihkan amarah mereka ke orang lain.
Aida
mendadak teringat sesuatu dan menghampiri seorang anak kelas satu.
“Eh,
Ishigami. Kamu pernah ngomongin Kondo-senpai ya, ngejelek-jelekin dia!?”
Sasaran
pun berganti ke Ishigami, anak kelas satu yang suka bercanda. Bagus, langkah
yang tepat. Sekarang aku aman.
Ishigami
sempat panik, lalu membela diri, “Bukan aku! Tapi Chiyoda juga ikut ngomongin
denganku, kan!”
Sekarang
semua anggota klub yang sudah dipenuhi rasa saling curiga mulai saling
menyalahkan dan melempar tuduhan. Suasananya makin kacau, lebih parah dari
sebelumnya.
Klub
sepak bola benar-benar sudah hancur. Teman-teman yang kemarin masih satu tujuan
untuk menembus turnamen nasional, kini saling mencurigai dan memburu satu sama
lain seperti sedang melakukan perburuan penyihir.
※
──Beberapa jam
kemudian·Sudut pandang Miyuki──
Kemarin,
aku menginap di ruang rumah sakit. Hari ini aku pulang sebentar ke rumah untuk
membereskan barang-barang. Di depan rumah, aku kebetulan bertemu dengan seorang
teman lama yang sedang jogging. Dan ada satu orang teman masa kecil lain yang
sebenarnya tidak ingin kutemui.
Imai
Satoshi. Teman baiknya Eiji, dan juga teman masa kecilku sejak SD.
“...Satoshi-kun.”
Aku
tahu persis apa yang akan dia katakan. Akhirnya, saat itu datang. Hari di mana
aku kehilangan segalanya.
“Lama
tidak ketemu ya, Miyuki. Kamu pasti tahu apa yang ingin aku bicarakan.”
“…Iya.”
Ibuku
pun sudah menolakku. Aku memang ditakdirkan untuk kehilangan semuanya. Termasuk
teman-teman. Aku tidak bisa lagi menghindarinya.
Satoshi-kun
pernah diselamatkan oleh Eiji. Jadi aku yakin dia pasti akan membela Eiji dalam
kasus ini. Aku tahu itu lebih dari siapa pun, karena aku melihat langsung
betapa dekatnya mereka berdua.
“Begini.
Aku tidak bisa lagi menganggap kamu sebagai teman. Itu saja yang ingin aku
tegaskan. Terima kasih untuk semuanya.” Dengan ketegasan yang khas dirinya, dia
mengucapkan kata-kata perpisahan dan pergi. Itu memang gaya dia—penuh kemarahan
tapi tetap jelas menunjukkan posisi masing-masing.
Aku
berlari masuk ke dalam rumah, terjatuh di ambang pintu, dan menangis histeris.
Kenapa
semua bisa jadi begini?
Kenapa
aku sampai melakukan hal seperti itu?
Penyesalan
sudah menguasai hatiku sejak lama.
Aku
ingin terus melanjutkan hubungan bahagia dengan Eiji seperti sebelumnya.
Aku
tahu semua ini salahku. Tapi saat hubunganku dengan Kondo-senpai semakin dalam,
yang paling kutakuti adalah kalau semuanya ketahuan dan aku kehilangan Eiji.
Karena
itu, aku tidak boleh sampai ada yang tahu tentang hubunganku dengan
Kondo-senpai. Aku sampai berbohong karena takut kehilangan semuanya.
Kupikir,
begitu senpai lulus nanti, hubungan kami juga akan menghilang dengan
sendirinya. Aku tahu ini kejam terhadap Eiji, tapi bagiku ini cuma hubungan
sementara. Aku mencoba membenarkan pengkhianatanku pada Eiji dengan alasan itu.
“Kalau
tidak menikmati masa muda, itu rugi.”
“Punya
pacar tetap tidak apa-apa.”
“Selama
cinta kami tulus, hubungan kami akan baik-baik saja.”
Kondo-senpai
memberiku tempat untuk lari. Dan aku terlalu nyaman dengan itu.
Hari
itu. Hari ketika perselingkuhanku ketahuan oleh Eiji.
Hatiku
hancur. Aku tahu aku tidak bisa kembali ke masa-masa bahagia itu lagi. Rasa
panik, penyesalan, dan ketakutan kehilangan Eiji membuatku kehilangan kendali.
Karena Eiji adalah orang yang sudah bersamaku selama lebih dari setengah
hidupku.
Sudah
tidak ada harapan. Hati yang dipenuhi keputusasaan membuatku memilih jalan
egois.
Untuk
mengisi ketakutan ditolak oleh Eiji, aku mencari kenyamanan dari
senpai—seseorang yang kuanggap akan tetap mencintaiku dengan mudah. Kalau aku
tak bisa lagi bersama Eiji, aku tak peduli bagaimana jadinya. Hasrat untuk
menghancurkan segalanya dan menampakkan sisi terburuk diriku sendiri—semua itu
menciptakan penyesalan yang tak akan pernah hilang sepanjang hidup.
Dan
akhirnya, aku kehilangan segalanya.
Aku
berbohong demi melindungi semuanya, tapi justru kehilangan semuanya. Semua yang
kusayangi… Kalau begini terus, bahkan statusku sebagai siswa teladan yang
selama ini kujaga pun akan lenyap.
“Aku
ingin kembali… Kembali ke hari itu…”
Aku
ingin kembali ke hari ulang tahun Eiji, merayakannya dengan benar, dan tertawa
bahagia berdua dengannya.
Aku
ingin kembali ke waktu sebelum aku bertemu Kondo-senpai. Kembali menjadi diriku
yang masih murni dan belum mengkhianati
Eiji.
Karena
pada akhirnya, yang benar-benar kucintai hanyalah Eiji. “Kalau saja aku tidak
bertemu senpai, aku pasti masih bisa tertawa bahagia bersama Eiji…”
Aku
membenci diriku sendiri yang berkata seperti itu.
Yang
kurasakan hanya rasa benci pada diri sendiri.
Padahal
aku sendiri yang mengkhianatinya.
Merasa
mual, aku keluar rumah untuk menghirup udara segar.
Di
dalam kotak surat, ada sebuah amplop.
Tanpa
pikir panjang, aku membukanya.
Isinya
adalah foto.
Dan
itu adalah foto yang menyeretku lebih dalam ke dalam jurang keputusasaan.
“Kenapa…
ini tidak mungkin. Katanya cuma aku satu-satunya…
Kondo-senpai…
ini tidak adil… Tolong, jangan buang aku…”
Di
dalam amplop itu, ada foto senpai yang sedang masuk ke rumah seorang siswi
perempuan, terlihat akrab dan bergandengan tangan dengan wajah yang sangat
bahagia.
※
──Di Rumah Eri·Sudut
Pandang Kondo──
“Kondo-kun,
aku sayang sekali sama kamu.”
Sambil
menikmati lembutnya kulitnya, aku melampiaskan stresku.
Eri
punya daya tarik yang berbeda dari Miyuki.
Sepertinya
aku memang sudah mulai bosan dengan Miyuki, ya.
“Ah,
ini benar-benar luar biasa.”
“Aku
senang dengarnya. Aku cuma cinta Kondo-kun, lho.”
Bagian
yang paling menyebalkan dari cewek ini adalah, dia bersikap seperti pacar
padahal kami bahkan tidak jadian. Ya sudahlah. Sebagai cewek cadangan yang
nyaman, dia masih bisa dimanfaatkan untuk sementara waktu.
“Nanti,
Kondo-kun. Lihat aku saja ya. Aku sudah meninggalkan segalanya demi kamu, jadi
jangan sampai selingkuh ya.”
Selingkuh,
katanya... Kita saja tidak pacaran, tahu. Dasar cewek halu, sudah terlalu parah
.
“Iya,
iya.”
Aku
asal menanggapi sambil sedikit mengantuk, menikmati waktu santai ini.
Setelah
itu, dengan basa-basi seadanya, aku meninggalkan rumah Eri. Cewek ini sudah
tidak dianggap anak lagi oleh orang tuanya, jadi tinggal sendiri. Kalau aku
lapar, aku sering mampir ke sini buat minta dia masakin makan malam. Itu sudah
jadi rutinitas sehari-hariku. Tapi ya, Eri ini terlalu mudah baper, mood-nya
juga naik-turun. Jadi sebenarnya dia cewek simpanan yang cukup merepotkan.
Saat
aku lagi jalan pulang, ponselku berdering.
“Kondo-kun?
Lagi senggang tidak?”
Itu
dari dia—cewek yang menarik perhatianku akhir-akhir ini.
Dia
yang mengenalkanku dengan Miyuki. Waktu itu dia bilang, “Ada cewek yang punya
pacar, tapi kayaknya tipe kamu banget. Mau kenalan?”
Dan
sejak itulah aku dan Miyuki bertemu. Kami juga dapat mainan seru lainnya—si
Aono.
“Iya,
kenapa?”
“Tidak
penting sih... Tapi kamu ada rencana sekarang? Kalau tidak sibuk, main yuk?”
Cewek
ini juga jelas-jelas tergila-gila sama aku.
“Boleh.
Ada apa memangnya?”
“Soalnya,
aku udah bantu kamu jebak dia, tapi tidak dapat apa-apa. Aku pikir... ya,
setidaknya ketemu sebentar juga tidak apa-apa, kan?”
“Ah
iya, makasih. Gara-gara kamu bikin skenario menarik itu, kita bisa lihat wajah
Aono yang menyedihkan itu. Harusnya kamu juga lihat ekspresinya, lucu sekali.”
“Ih,
kamu jahat sekali.”
“Yang
bicara gitu malah kamu ya, dasar cewek jahat... Tapi ya, aku juga mau curhat
sesuatu.”
“Oh
ya?”
“Di
klub sepak bola sedang rumit, ada masalah.”
Akhirnya
kami sepakat untuk bertemu, dan aku pun melangkah ke tempat yang sudah
ditentukan sambil dalam suasana hati yang sangat senang.
※
Setelah
pertemuan rahasia dengan dia selesai, aku pulang ke rumah. Seperti yang sudah
kuduga, tidak ada siapa pun di rumah. Ayahku mungkin sedang bekerja. Ibuku?
Entahlah, mungkin pergi ke suatu tempat sesuka hatinya. Mereka berdua terkenal
sebagai pasangan suami istri yang cuma pura-pura akur.
Aku
tidak peduli. Selama bisa memanfaatkan mereka, itu sudah cukup. Selama status
sosial mereka tinggi, aku bisa memanfaatkannya sebaik mungkin. Kalau punya
orang tua yang berpengaruh, sebagian besar masalah bisa diselesaikan dengan
mudah. Ditambah lagi, aku punya bakat di sepak bola dan juga pintar. Aku ini
tidak terkalahkan.
Berkat
itu, jalan menuju karier sebagai pemain sepak bola profesional sudah terbuka.
Dan kalau pun pensiun nanti, aku tinggal mewarisi perusahaan ayah. Kalau ayah
sukses jadi anggota dewan, aku bisa mewarisi posisinya juga. Inilah enaknya
sistem warisan di Jepang.
“Karena
terlahir di keluarga yang tepat, hidupku jadi penuh warna. Hidupku ini easy
mode, dunia penuh warna. Ahh, syukurlah orang tuaku orang hebat.”
Aku
sengaja mengucapkan kata-kata yang kuat untuk menghapus rasa gelisah yang
muncul di hatiku. Lagipula, dia juga bilang semuanya pasti aman, dan katanya
dia juga sudah menyiapkan rencana cadangan.
Dalam
rumah besar ini, hanya suara gumamku sendiri yang menggema.
Sial…
Kenapa rasanya menyedihkan begini.
Ponselku
berdering. Panggilan dari telepon umum. Mencurigakan. Siapa yang langsung
menelepon nomor pribadi? Pasti ada yang aneh.
Tentu
saja, aku abaikan.
Tapi
panggilan itu terus masuk berulang kali.
“Sialan,
siapa sih kamu, nyebelin banget!”
Aku
tekan tombol jawab sambil membentak dengan suara marah.
Lalu
terdengar suara aneh seperti habis menghirup gas helium.
[Kondo,
hidupmu sudah tamat.]
“Berani-beraninya
kamu memanggil namaku begitu. Dasar kurang ajar!”
Suaranya
seperti badut aneh—agak ceria tapi terasa menghina. Mungkin dia pakai alat
pengubah suara mainan. Konyol. Saat aku hendak menutup telepon…
[Eh,
jangan tutup dulu dong. Soalnya, aku yang motret foto itu.]
Tanganku
yang hendak memutuskan sambungan telepon langsung terhenti. Sial, jadi dia
pelakunya? Orang yang lagi mencoba menjatuhkanku!
“Jadi
kamu yang nyebarin foto itu ke klub sepak bola? Dasar bajingan, tidak akan aku
maafkan!”
[Nyebarin?
Oh, maksudmu aku ‘tidak sengaja’ menjatuhkannya di depan ruang klub itu?]
“Jangan
sok polos begitu!”
Kata-kataku
makin lama makin kasar.
[Kalau
kamu marah begitu, aku jadi bingung nanti ‘tanpa sengaja’ akan jatuhkannya di
mana lagi, ya…]
Bangsat
ini…
“Jangan
meremehkan aku! Sumpah, akan aku bunuh kamu! Ayahku anggota dewan, mengerti!?
Semua masalah bisa diselesaikan! Guru-guru juga bisa dibungkam! Selama ini juga
aku selalu begitu, dan kali ini juga bakal begitu!”
Gila,
ini benar-benar bikin emosi.
[Kalau
begitu, aku akan mulai bergerak.]
Hah.
Itu hanya ancaman kosong.
“Kalau
bisa, coba saja! Aku akan bunuh kamu! Begitu ketemu, aku hajar sampai hancur!”
Orang
sehebat aku, akan selalu dimaafkan. Aku akan hajar dia dan bikin dia menyesal
seumur hidup.
[Begitu
ya. Sayang sekali. Kamu benar-benar yakin kalau kamu tidak bersalah ya.]
“Tentu
saja! Aku ini orang yang terpilih!”
[Bahkan
setelah kamu menjebak Eiji Aono dengan tuduhan palsu?]
“Kamu…
dari mana kamu tahu itu?”
[Karena
aku cukup dekat denganmu. Aku mengawasimu.]
Kalimat
itu menyulut amarahku lagi. Kenapa dia tahu soal itu!? Soal tuduhan palsu itu
hanya diketahui oleh anggota klub sepak bola dan para cewek yang terlibat!
“Dia
itu lemah. Orang lemah itu memang ditakdirkan untuk dimakan oleh yang kuat.
Mereka tidak berhak mengeluh! Jangan-jangan kamu orang dari klub, ya?
Pengkhianat! Tidak akan aku maafkan, siap-siap saja kamu!!”
Begitu
aku berkata begitu dengan penuh emosi, lawan bicara di seberang tidak menjawab.
Hanya suara napas panjang—seperti menghela napas.
[Kondo,
kamu benar-benar bodoh dan menyedihkan.]
Mendengar
itu, aku secara reflek membanting ponsel ke lantai. Layarnya retak. Seperti
hatiku sendiri.
Iya,
aku ini orang terpilih. Jadi pasti tidak apa-apa.
Meski
anggota klub sudah tak lagi mendukungku, dengan prestasiku selama ini, aku
yakin sekolah-sekolah lain—setidaknya di level menengah—masih mau menerimaku.
“Kegagalan?
Aku? Mustahil…”
Aku
terguncang karena sempat memikirkan sesuatu yang negatif tentang diriku
sendiri.
“Sial…
sialan!”
Untuk
menenangkan diri, aku mencoba menelepon Miyuki.
※
—Sudut Pandang Miyuki—
“Sekarang
jam berapa?”
Aku
meringkuk sendirian dalam keputusasaan karena merasa dikhianati. Saat aku
sadar, matahari sudah tenggelam. Tanpa menutup tirai, tanpa menyalakan lampu,
aku sendirian di rumah. Sekarang aku benar-benar terisolasi. Tak ada satu pun
kata-kata hangat yang menyapaku. Aku memang sempat mengantarkan baju ganti ibu
ke rumah sakit, tapi saat itu beliau sedang menjalani pemeriksaan, jadi tidak
ada di kamar.
Tak
ada yang bisa kulakukan, aku hanya pulang dari rumah sakit dan menghabiskan
waktu tanpa arti di rumah.
“Semua
ini salahku sendiri.”
Tentu
saja. Eiji dan bibi, yang dulu selalu menyapaku dengan kata-kata lembut,
sekarang sudah tak ada. Dulu, meski ibu pulang kerja larut, aku bisa pergi ke
rumah Eiji, dan tidak merasa kesepian. Di sana terasa seperti keluarga
sungguhan, hangat, dan penuh kasih. Mereka menerima aku seolah-olah anak
kandung mereka sendiri.
Ibu
marah padaku... karena aku telah mengkhianati orang-orang baik seperti mereka.
Pada
akhirnya, Kondo-senpai hanya menganggapku sebagai hiburan belaka. Padahal aku
tahu itu. Aku tahu di kepalaku, tapi...
Aku
tetap mengikuti hawa nafsuku sendiri sampai sejauh ini.
Saat
melihat foto itu tadi, kesadaranku langsung kembali. Seperti seluruh tubuhku
membeku, seolah panas dari cinta yang selama ini kupikir nyata ternyata hanya
ilusi.
Tapi
waktu itu… apa yang aku katakan pada Eiji?
“Jangan…
jangan tinggalkan aku. Kalau senpai membuangku, aku tidak bisa hidup lagi.”
“Eiji
itu cuma teman masa kecil... tapi sekarang dia kayak pacar posesif yang suka
kekerasan dan mirip stalker.”
“Maaf,
Eiji. Aku tidak bisa pacaran sama kamu lagi. Di sekolah juga, tolong jangan
ajak aku bicara.”
Saat
mengingat kata-kata itu, aku merasa mual. Gelombang kebencian terhadap diri
sendiri menyelimutiku.
Kenapa
aku bisa mengatakan hal seperti itu? Aku sudah berkali-kali menyesalinya, tapi
sekarang rasa benciku pada diri sendiri terasa jauh lebih kuat. Sejak hari itu…
sejak aku berselingkuh dengan Senpai untuk pertama kalinya, rasanya aku bukan
lagi diriku yang dulu. Seperti aku berubah jadi orang bodoh yang asing.
Rasa
mual yang sangat kuat kembali datang, menyerang berulang kali.
Kenapa…
padahal Eiji itu pacar yang baik, penuh kasih. Aku sadar, aku sendiri yang
jatuh cinta padanya. Eiji adalah cinta pertamaku. Aku berusaha keras
mendekatinya, dan akhirnya kami bisa saling mencintai.
Aku
mencintai kebaikannya. Aku mencintai caranya menulis cerita-cerita hangat. Aku
mencintai rumahnya yang selalu membuatku merasa bahagia.
Tapi
sekarang semua itu sudah tidak mungkin kudapatkan lagi.
Sejak
insiden itu, Eiji tidak pernah datang ke kelas lagi. Setelah dituduh dengan
fitnah oleh Senpai, dia dijauhi di kelas, menjadi sasaran perundungan, meja
belajarnya dicoret-coret dengan kata-kata kasar. Kabarnya, tempat penyimpanan
sepatunya juga diisi dengan sampah. Bahkan keluarga Eiji yang kusayangi pun
ikut dicemarkan. Dan aku tidak melakukan apa pun untuk menghentikannya.
Padahal
hanya aku yang bisa menghentikannya. Tapi aku memilih untuk berpaling demi
menyelamatkan diriku sendiri. Tidak… lebih dari itu. Aku juga terlibat. Aku
ikut menekan Eiji sampai titik terendah. Aku… adalah dalang utama dari
perundungan itu.
Aku
pernah bilang kalau Eiji itu seperti stalker. Aku juga bilang dia suka
melakukan kekerasan. Padahal Eiji yang lembut itu jelas tidak akan pernah
melakukan hal seperti itu. Bahkan saat itu pun, yang salah sebenarnya adalah
aku.
Aku
ini perempuan paling rendah. Karena aku berselingkuh tepat di hari ulang tahun
pacarku. Yang seharusnya disalahkan bukan Eiji. Tapi aku.
Dengan
susah payah, aku keluar rumah. Menuju ke minimarket. Untuk membeli makan malam.
Padahal
aku sangat ingin mati, tapi tubuh ini tetap mencari makanan. Betapa
menyedihkannya diriku.
Dari
kejauhan, sepasang kekasih melintas. Spontan aku berhenti dan terpaku melihat
mereka.
Itu
Eiji. Dia tertawa dengan bahagia. Di sampingnya... seperti yang kuduga, Ichijou
Ai. Gadis idola sekolah, bahkan aku yang sama-sama perempuan bisa tahu kalau
dia tampil sangat modis dan penuh semangat. Seperti sedang berkencan dengan
kekasih.
Eiji
juga tersenyum padanya, dengan senyum lembut yang biasanya hanya diberikan pada
seseorang yang dicintai.
Pikiranku
kosong seketika. Aku buru-buru bersembunyi agar mereka tidak melihatku.
“Terima kasih untuk
hari ini. Kencan pertamanya menyenangkan sekali,” kata Ichijou Ai sambil
tersenyum dengan penuh kebahagiaan.
“Aku senang kamu merasa begitu.”
“Aku
juga menantikan kencan berikutnya. Memang agak terlambat sih, tapi… bolehkah
aku merayakan ulang tahunmu juga suatu saat nanti?”
“Eh?
Kok kamu tahu ulang tahunku?”
“Aku
tahu dari ibumu, Senpai! Karena kamu sudah membimbing aku dengan baik hari ini,
aku ingin mengucapkan terima kasih!”
Suara
dan ekspresinya manis, seperti gadis yang sedang jatuh cinta. Bahkan dari sudut
pandang sesama perempuan, senyumnya terlihat begitu manis dan lembut seperti
malaikat.
“Terima
kasih. Aku menantikannya,”
Di
saat itulah, aku benar-benar sadar kalau tempatku sudah tergantikan oleh
Ichijou Ai. Bahkan ibunya Eiji pun sudah merestuinya. Mereka membuat janji
untuk kencan ulang tahun yang seharusnya menjadi milikku. Dan semua kelembutan
Eiji, yang dulu aku miliki, sekarang ada padanya. Semua hal yang tadinya adalah
harta berhargaku.
Mungkin
karena keputusasaan dan tidak makan apa pun lalu terus-menerus muntah, tubuhku
tiba-tiba lemas. Pandanganku berkunang-kunang, dan napasku menjadi pendek.
Aku
menangis dan berteriak tanpa suara, agar mereka tidak menyadari keberadaanku.
Bahkan
saat tanah dan kerikil masuk ke mulutku, aku tetap tak bisa berhenti.
Neraka
ini... baru saja dimulai.
Aku
jatuh terkapar di tempat, lalu setelah beberapa saat pusing dan anemia itu
mereda, aku akhirnya bisa berdiri lagi. Tampaknya Eiji dan Ai tidak menyadari
keberadaanku.
Aku
membeli sup instan yang tinggal dipanaskan di minimarket, lalu langsung pulang
dan memakannya. Waktu makan, yang seharusnya menyenangkan, kini hanya menjadi
rutinitas agar tetap hidup.
Sekarang,
Eiji dan Ai sedang apa ya? Mungkin mereka sedang makan malam bersama di Kitchen
Aono. Atau mungkin sedang pergi ke tempat yang sedikit mewah dan keren. Bisa
jadi, mereka sedang menikmati malam yang spesial…
Hatiku
terasa ingin meledak. Padahal aku sedang lapar, tapi tak ada selera makan.
Di
saat seperti itu, ponselku berdering. Telepon dari Kondo-senpai.
“Halo,
ini Miyuki.”
[Oh,
Miyuki ya? Lagi ngapain sekarang?]
“Baru
saja makan…”
[Begitu
ya. Aku ingin menenangkan diri, jadi mau ngobrol sebentar. Temani aku, ya.]
Biasanya
aku pasti langsung menerima ajakan seperti itu, tapi sekarang setelah aku
kehilangan kepercayaan padanya…
Padahal
dia tahu ibuku sedang dirawat di rumah sakit. Tapi tidak sekalipun dia
menanyakan keadaannya.
“Maaf…
aku sedang tidak enak badan.”
Ya,
seperti itulah dia. Buat dia, aku hanyalah… seperti itu saja.
[“Tolong,
sebentar aja. Dengar aku dulu, ya.]
Ucapannya
itu justru menguatkan keyakinanku.
“Jadi
buat Senpai, aku cuma dianggap mainan, ya.”
Kalau
itu Eiji, dia pasti akan menanyakan soal ibuku. Dia pasti juga akan peduli pada
kondisi mentalku. Dari nada bicaraku saja, dia pasti tahu aku sedang sakit.
Mungkin dia bahkan akan menjengukku.
Aku
kehilangan sosok penting seperti itu. Sahabat masa kecil yang begitu berharga.
[“Hah?
Apa maksudmu tiba-tiba begitu?]
“Senpai
tidak peduli denganku. Lagi pula, aku juga sudah lihat foto Senpai masuk ke
rumah dengan cewek seangkatan dengan akrab.”
[Itu... foto lama, sebelum aku ketemu kamu. Aku juga sudah
putus sama dia. Aslinya, aku malah lagi kena gangguan. Foto lama itu disebar ke
teman-teman klub sama orang yang jahatin aku. Aku pengin curhat soal itu ke
kamu. Maaf ya, kalau tiba-tiba ngomongnya aneh karena aku juga sedang sangat
kepikiran.] Permintaan maaf itu terasa kosong, benar-benar hampa.
“Oh,
begitu ya.”
Dengan
nada setuju yang sekadar basa-basi, aku menanggapi. Mendengar itu, dia membalas
dengan nada yang terdengar seperti menahan tawa—dan itu justru menyulut
emosiku.
[“Iya,
begitulah. Tolong percaya sama aku.]
Apa
dia benar-benar mengira bisa membohongiku dengan kata-kata tanpa hati seperti
itu? Menjijikkan. Laki-laki ini benar-benar… akhirnya aku sadar siapa dia
sebenarnya. Jadi, demi orang seperti ini aku rela mengorbankan segalanya!? Aku
sendiri pun tidak percaya.
“Tangan
Senpai di foto itu, ada gelang rajutan yang aku berikan waktu itu. Masih bisa
bilang itu foto lama?”
[A-apa…?]
Aku
benci betapa tajamnya pengamatanku di saat seperti ini. Gelang rajutan yang
kubuat sendiri dan kuberikan agar dia bisa menang di pertandingan persahabatan
klub—terlihat jelas dalam foto itu.
Itu
seharusnya jadi simbol ikatan kami… tapi malah berubah jadi bukti posisi
sebenarnya hubungan kami. Bukan untuk hal seperti ini aku bersusah payah selama
ini.
“Tolong,
jangan bohong lagi.”
Suara
yang keluar dari mulutku terdengar begitu dingin—bahkan aku sendiri terkejut.
[“M-mungkin
itu hasil editan…]
Padahal
dulu aku sangat menyukainya. Tapi sekarang, hanya mendengar suaranya saja sudah
membuatku kesal.
“Kalau
begitu?”
Itu
saja sudah cukup untuk menunjukkan kalau dia hanya mencari alasan. Kalau mau
berbohong, setidaknya carilah kebohongan yang lebih masuk akal.
Akhirnya
aku sadar, orang ini dari dulu hanya menutup semuanya dengan kebohongan. Dan
aku, menganggap kebohongan itu bersinar seindah permata.
Kata-kata
lembut dan perhatian yang dulu dia berikan padaku ternyata cuma omong kosong
tanpa makna. Dan karena tertipu oleh omong kosong itu, aku justru menghancurkan
harta yang sebenarnya ada di dekatku.
Aku
sadar, aku pun tak punya hak untuk merendahkannya. Karena aku sama saja.
Sama-sama sampah seperti dia. Kami berdua tidak lebih dari orang egois yang tak
tahu berterima kasih—sama-sama hina.
[…Tch.]
Dia
mengklik lidahnya dengan keras. Mendengar perubahan sikapnya yang begitu
drastis, aku tak bisa menahan rasa kaget.
“Eh?”
Saat
aku mendesaknya, dia malah balik marah.
“Lihat
kan, seperti ini jadinya. Cewek-cewek labil sepertimu langsung sok-sokan merasa
jadi pacar. Makanya aku malas.”
Ucapan
kasarnya itu menusuk seperti pisau dingin ke dalam hatiku. Padahal aku sudah
tahu dia seperti ini. Tapi saat benar-benar mengalaminya langsung, tetap saja
rasanya menyakitkan.
Sok
jadi pacar…
Padahal
aku sampai rela meninggalkan pacar masa kecil yang sangat berharga, hanya demi
orang seperti dia. Tapi dia malah tega berkata seperti itu.
“……”
Aku
tak bisa berkata apa-apa setelah disodori kenyataan sekejam itu.
[“Lagipula,
selingkuh apaan sih? Memangnya kita pacaran? Tidak kan? Jangan sok jadi korban.
Memangnya aku pernah bilang kita jadian? Aku pernah nyatain perasaan ke kamu!?
Dan jangan sok suci. Kamu juga salah satu pelaku utama perundungan itu, kan?
Kalau kamu gak bantuin aku, Aono tidak akan jadi seperti sekarang! Kamu yang
paling parah kalau dilihat dari hubungan kamu sebelumnya sama dia. Kamu
mengerti tidak, dasar cewek busuk! Ini semua salahmu!!”
Setelah
menyemburkan semua itu, dia langsung menutup telepon.
“Kenapa…
kenapa aku sampai menyerahkan segalanya demi orang seperti dia…”
Di
kamar yang sepi, suaraku sendiri bergema. Sepi, dan penuh penyesalan.
※
── Sudut Pandang
Kondo ──
Setelah
menutup telepon, aku mengamuk.
“Dasar
semua orang... kenapa sih suka seenaknya sendiri. Mereka lebih percaya orang
lain ketimbang aku. Tidak bisa dimaafkan.”
Kamar
jadi berantakan karena pelampiasan emosiku. Bahkan piala dari masa SMP yang
dulu sangat aku banggakan ikut hancur. Sial. Sial. Sial. Bajingan.
“Hah...
hah… sial. Anak-anak tim sepak bola kampus, anak-anak klub kita, dan juga Amada
Miyuki... semuanya mending lenyap saja sekalian!”
Kalau
sudah begini, mungkin aku harus cari cewek buat pelampiasan...
Tapi
karena Miyuki sudah tidak bisa dipakai, pilihannya tinggal si Eri atau si anak
baru itu.
Tidak,
cewek yang barusan nelepon tadi jelas bukan pilihan. Dia terlalu tajam, gak
bisa ditebak. Kalau sampai aku buka kelemahan, entah apa yang bakal dia lakuin.
Bahaya.
Sial...
ya udah, Eri aja, mungkin...
Tidak
bisa. Baru aja ketemu tadi. Dan dia juga tipe yang sok pacar—ribet. Lagi gak
pengen ribet sekarang. Benar-benar tidak berguna cewek di situasi seperti ini.
“Yah,
kalau gitu... tinggal sebarin aja gosip jelek tentang Aono lewat akun samaran,
gak ada pilihan lain.”
Rasanya
luar biasa jadi yang paling di atas. Punya seseorang yang bisa diinjak-injak
itu sangat memuaskan. Aono itu cuma budak. Cowok lemah yang bahkan ceweknya
direbut orang. Tidak punya harga diri.
Dengan
pikiran itu, aku buka media sosial. Sampai beberapa waktu lalu, linimasa penuh
dengan cacian buat Aono.
Tapi...
“Hei,
benarkah itu? Aono Eiji dan Ichijou Ai jalan bareng hari ini!”
“Ceritakan
dong.”
“Pas
aku ke depan stasiun, mereka baru keluar dari kafe keren.”
“Aku
juga lihat mereka masuk bioskop.”
“Berarti
beneran pacaran, ya.”
“Padahal
Ichijou-san terkenal ketat soal cowok. Kok bisa pacaran sama Aono yang
digosipin buruk begitu?”
“Kata
temanku yang sekelas, malah Ichijou-san yang suka sama dia. Katanya sih
ngejar-ngejar Aono.”
“Kalau
Ichijou sampai segitunya, pasti ada sesuatu dong.”
“Lagipula,
gosip soal Aono memangnya benar? Bukannya cuma ada foto mencurigakan doang?”
“Aku
dari awal juga ngerasa aneh. Aku satu kelas sama dia tahun lalu. Dia sangat
baik, tidak mungkin kasar sama cewek.”
“Jadi
bingung juga, ya.”
Arah
pembicaraan tiba-tiba berubah total. Kenapa bisa begitu?
Apa
karena kepercayaan orang ke Ichijou Ai sedemikian besar? Padahal dia cuma cewek
kelas satu! Padahal aku udah sebarin gosip itu lewat banyak akun anak klub
sepak bola... masa kalah sama pengaruh satu cewek!?
Tidak
mungkin! Kenapa Ichijou Ai sebegitu terobsesinya sama cowok payah kayak dia?
Waktu aku coba dekati dia dulu, dia malah buang muka dan ngeluarin kata-kata
kasar ke aku.
Makanya
aku bilang begini ke dia:
“Jangan
kelewat tinggi hati, tahu tidak siapa ayahku!? Orang penting, tahu!!”
“Aku
gak suka sama kamu yang sok kuat dan sok bisa hidup sendiri!”
“Cewek
macam robot!”
Tapi
dia malah pergi gitu aja, tanpa menggubris. Pas liat dia kayak robot dingin
begitu tapi malah disukai seisi sekolah, aku langsung muak.
Iya,
walaupun cewek dingin itu jadi musuh, kenapa aku harus takut!? Aku ini Kondo,
ace tim sepak bola, tahu!!
Masih
bisa dikendalikan. Masih bisa. Demi menjatuhkan reputasi Ichijou Ai, aku mulai
posting beberapa komentar.
“Dengar ya, jangan percaya sama Ichijou Ai.
Cewek itu sangat dingin, bukan manusia! Dia suka hina cowok yang udah
ditolaknya!”
Aku
menyusup ke thread obrolan dengan akun anonim.
“Ih,
nyebelin banget sih.”
“Pasti
cowok gagal yang ditolak Ichijou, terus dendam. Diemin aja.”
“Malah
makin mencurigakan.”
Komentarku
langsung dibabat habis.
Sial.
Sial. Sial! Kenapa tidak ada yang percaya aku!? Padahal aku ini calon raja
dunia sepak bola, tahu!!
Penuh
amarah, aku melempar ponselku ke jendela. Kacanya pecah, dan ponselku—yang
sebelumnya juga udah rusak—terhempas ke tanah.
“SIAL.”
Aku buru-buru keluar dan memungutnya kembali. Layarnya lebih retak dari
sebelumnya, dan sekarang bahkan tidak bisa dinyalakan lagi.
Sekarang
aku tidak bisa hubungi cewek mana pun. Aku harus melampiaskan rasa frustrasi
ini ke mana!? Dasar semua orang brengsek. Bisa-bisanya bikin orang sejenius aku
jadi kayak gini!
“Sialan!
Menyebalkan!!”
Aku
merasa semakin terisolasi, semakin sendirian... dan itu cuma bikin amarahku
semakin memuncak.
Tentu
saja, tak ada satu suara pun yang menjawabku.
Posting Komentar