── 8 September Sudut pandang Eiji ──
“Selamat pagi, Senpai. Terima kasih banyak untuk kemarin!”
Seperti
biasa, Ichijou-san sudah menungguku di depan rumah. Entah kenapa, senyumnya
hari ini terlihat lebih lembut dibandingkan kemarin. Beberapa pegawai kantoran
dan anak SMP yang lewat di depan rumah menoleh padanya, terkejut oleh
kecantikannya.
“Selamat
pagi. Aku juga, makasih untuk kemarin. Ayo nonton film lagi kapan-kapan.”
Aku
menyapanya dengan sedikit canggung, dan Ichijou-san mengangguk.
“Bagus
juga. Kemarin kita nonton film barat, jadi kali ini bagaimana kalau film Jepang
atau anime? Senpai akhir-akhir ini nonton apa?”
Untung
aku mengalihkan pembicaraan ke topik film. Kalau tidak, aku pasti bakal
teringat ciuman kemarin dan suasana pagi ini jadi kaku. Berkat hobi yang sama,
hubungan kami memang jadi lebih dekat. Karena Ibu sangat suka film dan drama,
aku jadi bisa lebih akrab dengan Ichijou-san seperti sekarang.
Kami
mulai berjalan sambil tenggelam dalam obrolan soal film.
“Aku
lagi suka film India, nih.”
“Yang
panjang dan ada adegan menari itu?”
“Tidak
juga, film India sekarang tidak banyak adegan menari. Tetap panjang sih, tapi
biasanya cuma ada lagu yang diputar dengan latar alam yang indah dan megah.
Kesan dramatisnya sangat kuat.”
“Kedengarannya
menarik.”
Memang,
agak jarang ada anak SMA yang suka film India. Aku sendiri jadi geli memikirkan
topik yang sedang kubahas.
“Ada
rekomendasi?”
“Sebenarnya,
film India itu cerita dramanya juga bagus. Banyak nilai kemanusiaannya, kayak
film Jepang zaman Showa. Meski adegan aksinya juga keren sih. Aku rekomendasiin
film berjudul Bajrangi Bhaijaan — atau dalam bahasa kita, ‘Paman Bajrangi dan
Anak Tersesat’.”
“Itu
cerita tentang apa?”
“Seorang
pria baik hati menemukan anak tersesat dari negara tetangga yang nggak bisa
bicara, dan dia melakukan perjalanan panjang demi mengantarkan anak itu kembali
ke keluarganya.”
“Sepertinya
seru!!”
“Bikin
nangis, jadi cocok ditonton pas lagi ingin terharu.”
Waktu
itu aku nonton hari Minggu malam dan nangis sejadi-jadinya. Senin paginya pas
masuk sekolah, Satoshi langsung bilang mataku bengkak. Karena aku tahu
Ichijou-san lumayan sering nonton film, aku sengaja bahas film India yang
kurang terkenal. Dia langsung buka situs film di ponselnya dan memasukkan judul
film itu ke bookmark-nya.
“Terima
kasih. Aku coba tonton akhir pekan nanti, ya.”
Setelah
berkata begitu, dia menatapku dengan senyum yang luar biasa manis.
“Senpai,
ini agak beda topik, tapi... bagaimana soal novel yang kamu tulis itu?”
Naskah
yang diselamatkan Ichijou-san dengan susah payah sekarang ada padaku. Tadinya
aku ingin menerbitkannya di buletin klub, tapi kelihatannya itu tidak mungkin.
Sayang juga kalau cuma disimpan dan dilupakan. Tapi, itu cuma cerita pendek,
tudak cukup untuk ikut sayembara penerbit, jadi aku belum tahu harus bagaimana.
“Aku
masih mikir-mikir, sih.”
“Kalau
gitu, gimana kalau diunggah ke situs novel online?”
“Tapi
novelku bukan fantasi atau romcom yang lagi tren. Kayaknya nggak banyak yang
mau baca, deh.”
“Masa,
sih? Aku merasa itu benar-benar cerita yang bagus dan aku ingin lebih banyak
orang membacanya.”
“Terima
kasih. Tapi buat unggah ke situs itu, aku butuh keberanian. Takut dapat
komentar pedas, atau nilai jelek bikin down.”
Soal
karya sendiri, aku cenderung pesimis. Tapi Ichijou-san malah tersenyum lembut
padaku.
“Yah,
jadi penulis pribadi aku juga tidak buruk sih.”
Kami
tertawa bersama mendengar candaan itu. Aku pikir dia benar-benar orang yang
baik. Sepertinya dia bisa memahami bahwa aku menyimpan trauma. Aku merasa tidak
enak kalau terus menolak niat baiknya, jadi aku pun hendak mengatakan, “Akan
kupikirkan,” tapi tiba-tiba sesuatu terjadi.
Sebuah
insiden terjadi di depan kami yang sedang menikmati waktu menyenangkan.
“Ugh…”
Seorang kakek yang berjalan di depan kami tiba-tiba memegangi dadanya dan
jatuh.
“Eh?”
Ichijou-san terdiam dengan wajah cemas, menoleh padaku.
Aku
juga cuma bisa terpaku melihat kejadian itu, belum bisa mencerna apa yang
sedang terjadi.
Sang
kakek tampak kesulitan bernapas dan akhirnya tidak bergerak lagi.
Ini
gawat.
Waktu
kerja paruh waktu musim panas sebagai staf pemasangan acara, aku sempat ikut
pelatihan pertolongan pertama. Aku teringat wajah petugas pemadam kebakaran
yang jadi pengajarnya. Dia bilang, ilmu ini bisa dipakai bukan cuma di tempat
kerja, tapi juga dalam situasi sehari-hari.
Aku
harus bertindak. Tidak apa-apa. Aku cuma perlu melakukan apa yang kupelajari di
pelatihan hari itu.
“Ini
gawat. Ichijou-san, tolong cari AED!”
Yang
terpenting sekarang adalah menyelamatkan nyawa si kakek.
“Tapi...
di mana aku bisa menemukannya...?”
Dengan
wajah pucat pasi, dia berdiri terpaku di tempat.
“Di
dekat sini ada pos polisi, kan? Seingatku, di pos polisi biasanya ada AED.
Kalaupun tidak ada, setidaknya petugasnya mungkin tahu lokasi terdekat.
Kadang-kadang juga ada di minimarket. Aku akan panggil ambulans dan menjaga si
kakek di sini.”
“Baik,
aku mengerti!”
Ichijou-san
langsung berlari menuju pos polisi.
Sementara
itu, aku mengikuti langkah-langkah yang diajarkan saat pelatihan—memastikan
kesadaran si kakek, meminta bantuan orang-orang sekitar, dan memulai
pertolongan darurat.
Seorang
pria baik hati segera menelepon ambulans menggunakan ponselnya.
Aku
pun bertindak secepat mungkin, tanpa ragu, hanya fokus untuk menyelamatkan si
kakek.
Tak
lama, Ichijou-san kembali bersama seorang polisi dan membawa AED.
Saat
kami bersiap menggunakan AED, seorang wanita berusia sekitar 30-an mendekat.
“Ada
apa ini?”
“Seorang
kakek yang tidak kami kenal tiba-tiba jatuh sambil memegangi dadanya. Kami
sudah menelepon ambulans dan baru saja membawa AED. Tapi dia tidak merespons
saat kami coba panggil.”
“Terima
kasih. Aku seorang perawat, jadi biar aku yang tangani dari sini. Namamu
siapa?”
“Aono.”
“Baik,
Aono-kun ya. Kamu hebat bisa bergerak cepat. Kalau begitu, bantu aku sebentar,
ya. Kalau boleh tahu, siapa nama pacarmu ini?”
Perawat
itu dengan sigap memberikan instruksi. Aku mengikuti arahan dari perawat dan
suara panduan otomatis dari AED, sambil mengingat kembali latihan saat kerja
paruh waktuku.
“Ichijou.
Apa yang bisa aku bantu?”
“Ichijou-san,
ya. Kalau begitu, bisakah kamu mencari tahu apakah keluarga si kakek ada di
sekitar sini?”
“Baik!”
Ichijou-san
langsung berlari lagi. Sementara itu, polisi yang datang bersamanya mulai
mengatur lalu lintas di gang sempit tempat kami berada.
Begitulah,
kegiatan penyelamatan terus berlangsung.
Saat
kami sibuk melakukan pertolongan, ambulans akhirnya tiba dengan pengawalan dari
polisi. Mungkin tak sampai sepuluh menit, tapi karena semuanya dilakukan dalam
kepanikan, terasa seperti sekejap.
“Aono-kun,
Ichijou-san, terima kasih banyak. Aku akan menemani beliau ke rumah sakit, jadi
kalian tak perlu khawatir. Berkat kalian yang segera bertindak, sepertinya
tidak akan terjadi hal yang fatal.”
Perawat
itu tersenyum sambil berbicara.
Setelah
kejutan listrik pertama, si kakek mulai sadar kembali. Meski masih agak
linglung, dia sempat berkata, “Terima kasih, terima kasih...”
Polisi
yang ada di lokasi memeriksa identitas si kakek, dan sepertinya akan
menghubungi keluarganya nanti.
Si kakek pun tampak mulai sadar sepenuhnya.
“Kalau begitu, kami pamit dulu.”
Ucapku,
dan Ichijou-san mengangguk. Kami pun pergi dari tempat kejadian dengan sedikit
rasa lega.
“Menegangkan
juga, ya. Syukurlah si kakek tampak sudah membaik.”
Ichijou-san
mengembuskan napas panjang, lalu kembali menunjukkan senyumnya yang biasa.
“Itu
semua berkatmu, Ichijou-san. Karena kamu langsung bergerak cepat, kita bisa
menyelamatkannya.”
Mendengar
ucapanku, dia tersenyum dan menggeleng pelan.
“Tidak
juga. Justru karena Senpai yang langsung bertindak cepat, semuanya bisa
berjalan baik. Aku sendiri sempat takut dan tak bisa bergerak.”
“Tidak, kita memang beruntung kali ini. Ada perawat yang kebetulan lewat dan langsung membantu. Tanpa dia, pasti aku juga tidak akan bisa berbuat banyak.”
“Meski
begitu, nggak banyak orang yang bisa langsung bertindak demi orang lain. Aku
benar-benar kagum dengan Senpai.”
Mendengar
itu, rasanya seperti sedikit demi sedikit rasa percaya diriku—yang sempat
hancur karena perundungan minggu lalu—mulai pulih kembali.
“Terima
kasih.”
Untuk
pertama kalinya dalam beberapa waktu terakhir, aku bisa mengucapkan terima
kasih dengan senyum tulus dari hati.
※
—Sudut Pandang Perawat—
“Terima
kasih banyak.”
Keluarga
kakek yang datang menyusul ke rumah sakit mengucapkan terima kasih dengan mata
berkaca-kaca. Putranya, mewakili keluarga, membungkuk hormat padaku. Ia
mengenakan setelan jas mahal dan gerak-geriknya tampak elegan.
Kakek
itu berhasil diselamatkan berkat penanganan cepat dan tepat. Tampaknya ia
memang harus dirawat di rumah sakit untuk sementara waktu, tapi nyawanya
berhasil diselamatkan.
“Ah,
tidak perlu berterima kasih pada saya. Justru, yang seharusnya Anda ucapkan
terima kasih adalah dua orang pelajar yang menyiapkan AED itu. Kalau bukan karena
mereka, keadaannya mungkin akan jauh lebih buruk.”
Kenyataannya,
pahlawan sejati hari itu adalah dua anak muda itu. Aku hanya membantu mereka.
Dalam situasi seperti ini, jika ada satu orang saja yang bergerak lebih dulu,
orang lain akan lebih mudah ikut membantu. Yang paling membutuhkan keberanian
adalah orang pertama yang bertindak.
“Saya
benar-benar tak bisa cukup berterima kasih kepada anak-anak itu. Saya ingin
langsung menyampaikan rasa terima kasih saya kepada mereka, tapi kata polisi,
mereka menolak memberi kontak dan langsung pergi begitu saja, jadi saya belum
sempat mengucapkan terima kasih. Apakah Anda tahu kontak mereka, mungkin?”
Tak
kusangka, di usia semuda itu mereka sudah begitu bijak dan dewasa. Padahal
wajar saja bila mereka terdorong oleh keinginan untuk dikenal atau dipuji.
Anak-anak
muda zaman sekarang sungguh luar biasa.
“Saya
juga hanya kebetulan berada di tempat kejadian… Ah, tapi saat kami menangani
pertolongan, saya sempat menanyakan nama mereka!”
“Benarkah!?
Apa Anda masih ingat nama mereka?”
“Mereka
memperkenalkan diri sebagai Aono-kun dan Ichijou-san.”
Mendengar
itu saja, putra si kakek tersenyum sangat lega. Aku bisa merasakan betapa ia
benar-benar ingin mengucapkan terima kasih secara langsung kepada para
penyelamat ayahnya.
Rupanya
dia orang yang sangat menghargai etika.
“Aono-kun
dan Ichijou-san, ya. Terima kasih banyak. Hanya dengan mengetahui nama mereka
saja… Saya akan coba mencarinya.”
“Baik.
Kalau begitu, saya permisi.”
Apakah
mungkin mereka bisa ditemukan hanya dari nama saja? Pertanyaan itu sempat
muncul di benakku, tapi aku menahan diri untuk tidak mengucapkannya. Aku juga
berharap keajaiban terjadi, agar identitas mereka diketahui dan mereka bisa
mendapatkan pujian yang layak.
Meskipun
hari libur ini dipenuhi kejadian mendebarkan, entah kenapa aku merasa lega dan
puas. Pekerjaan ini memang berat, tapi aku tak ingin kalah dari pasangan
pelajar muda itu. Aku juga harus tetap semangat. Dengan perasaan bahagia, aku
meninggalkan rumah sakit. Entah mengapa, rasanya seperti pekerjaanku sendiri
juga turut dihargai, dan aku jadi yakin bahwa semua yang telah kulakukan selama
ini tidaklah sia-sia.
※
—Situs Video—
“Hai
semua, hari ini kita mulai lagi siaran seperti biasa. Jadi tadi, waktu aku
sedang jalan-jalan di kota buat ngambil gambar untuk proyek video berikutnya,
tiba-tiba ada seorang kakek yang jatuh pingsan tepat di depan mataku. Aku
panik, bingung harus bagaimana, tapi saat itu ada sepasang mahasiswa yang
langsung mulai melakukan pertolongan pertama. Hebat sekali, serius. Aku cuma
sempat nelpon ambulans saja. Tapi, keren sekali sih. Akhir-akhir ini kalau
jalan-jalan di kota tuh, sering sekali ada kejadian aneh-aneh. Minggu lalu
juga, waktu syuting video kolaborasi jalan-jalan, aku sempat lihat orang ribut
di jalan. Sepertinya masalah cinta gitu, tapi yang cewek mukulin si cowok
habis-habisan. Kita langsung lari ke arah si cowok yang jatuh, tapi dia
langsung kabur. Kayaknya ada yang udah nelpon polisi juga, tapi pas mereka
datang, orang-orangnya sudah tidak ada.”
Siaran
siang itu pun berakhir, dan aku mengambil jeda sebentar.
Pagi tadi, aku tadinya cuma mau coba sarapan yang katanya viral, tapi
malah kebetulan terlibat dalam insiden itu. Karena aku yang memanggil ambulans
buat si kakek, tadi sempat ada telepon masuk dari perempuan yang mengaku
sebagai keluarganya.
Kayaknya
polisi yang kasih tahu nomor kontakku ke dia, sebagai perantara. Waktu jadi
content creator kayak gini, sebenarnya malah jarang banget berinteraksi
langsung sama orang. Makanya, bisa bantu orang dan bikin mereka senang tuh
rasanya menyenangkan juga.
Aku
ini pembuat konten video kuliner, dengan konsep lokal yang menyatu sama
masyarakat, dan katanya beberapa polisi juga sempat nonton video-videoku.
Setelah semuanya selesai, aku sempat ngobrol santai sama salah satu petugas
polisi. Komentar dari para penonton memang menyenangkan, tapi berbicara
langsung seperti ini juga terasa menyenangkan dengan caranya sendiri.
“Oh,
ya, yang tadi itu nggak ada apa-apanya kok. Aku kebetulan lagi rekam video buat
hobi saja, terus tiba-tiba si kakek jatuh. Saat aku masih bingung, sepasang
siswa itu langsung bertindak. Aku cuma sempat nelpon ambulans aja. Eh? Mau
dapet penghargaan dari pemadam kebakaran? Waduh, kalau aku sih tidak pantas.
Harusnya siswa dan perawat itu yang dihargai… Hah? Mereka nggak kasih nama dan
langsung pergi begitu saja?”
Terus
terang, aku hampir tidak berbuat apa-apa saat itu, jadi aku tidak layak disebut
pahlawan. Aku takut malah terlihat seperti merebut kredit dari dua siswa itu.
“Iya,
aku sempat rekam kejadian itu. Kebetulan sekali lagi syuting video jalan-jalan.
Videonya memang agak goyang karena panik, tapi wajah dua siswa itu kelihatan.
Tapi… yah, mereka masih di bawah umur, jadi tidak mungkin dong videonya
diunggah begitu saja ke internet?”
Perempuan
di ujung telepon sempat menanyakan apakah aku bisa mengunggahnya ke media
sosial untuk mencari mereka, tapi rasa moralku berkata tidak. Mungkin mereka
memang tidak ingin jadi pusat perhatian.
“Iya,
mohon maaf. Tapi, kalau pakai efek mosaik dan setelah konsultasi ke polisi,
mungkin bisa…”
Jujur
saja, aku juga berharap dua mahasiswa itu bisa mendapatkan pengakuan yang layak
atas apa yang mereka lakukan. Semua berhasil karena tindakan cepat mereka di
tempat kejadian.
Tapi
wajah si anak laki-laki itu… rasanya aku pernah lihat di suatu tempat. Tapi di
mana, ya? Aku tidak bisa ingat.
Untuk
saat ini, aku putuskan untuk menyerahkan data videonya ke polisi. Oh iya, dulu
aku juga pernah kasih video pertengkaran di jalan itu ke polisi. Siapa tahu,
video kulinerku yang tampaknya biasa-biasa saja ini bisa berguna untuk sesuatu.
“Oh,
iya! Sekarang udah bulan September, ya. Berarti di Kitchen Aono udah mulai jual
kaki furai (gorengan tiram)! Saus tartarnya di sana enak sekali, deh. Kayaknya
malam ini aku bakal makan ke sana, ah!”
※
—Sudut Pandang Endou—
Aku
bermimpi. Mimpi tentang masa lalu bersama Eri.
Dalam
mimpi itu, kami masih anak-anak, mungkin seumuran anak TK, dan tertawa bersama
dengan riang.
“Aku
nanti kalau sudah besar, mau jadi istri Endo-kun,” katanya.
Tapi
janji itu tak pernah menjadi kenyataan. Sekarang, meskipun aku melihat kembali
sahabat kecil yang dulu sangat aku sayangi itu, yang muncul hanyalah rasa
benci.
Aku
terbangun sambil mengingat senyum polos masa kecil yang telah hilang selamanya.
“Mimpi
yang paling buruk,” gumamku.
Masa
lalu yang seharusnya menjadi kenangan indah telah direnggut dariku. Yang
tersisa hanyalah kebencian—untuk lelaki itu yang merebut segalanya, untuk
orang-orang yang membantunya, dan untuk Eri juga.
Jam
masih menunjukkan pukul lima pagi.
Kemarin,
aku cukup nekat. Aku langsung menyatakan perang terhadap Kondo. Tapi itu adalah
langkah yang diperlukan dalam rencanaku.
Melihat
cara dia bertindak, dia kuat saat menyerang, tapi lemah saat bertahan. Dia juga
orang yang penuh harga diri, jadi mudah sekali terpancing dan kehilangan
kendali saat diprovokasi.
Itu
sebabnya gerak-geriknya mudah ditebak.
Dalam
hal hubungannya dengan klub sepak bola, aku rasa aku sudah cukup berhasil
menggoyahkannya.
Sekarang
tinggal menunggu waktu sampai ada yang membelot dari dalam klub.
Tapi
kalau hanya membuat Kondo dihukum, itu belum cukup untuk membalas dendamku. Aku
harus menjatuhkannya ke titik terendah. Karena itu aku juga menyebarkan
informasi ke Amada Miyuki.
Setidaknya,
kepercayaan di antara mereka akan mulai retak, dan kalau bisa, aku ingin
menyentuh rasa bersalah yang mungkin masih ada di hati Amada. Tentu saja,
perempuan tukang selingkuh seperti dia bukan tipe orang yang bisa dipercaya.
“Kalau
semuanya berjalan lancar, aku bisa memisahkan Kondo dari klub sepak bola dan
dari Amada Miyuki. Kalau itu berhasil, mereka akan sulit menyusun kesaksian
bersama, dan saat sekolah mulai menekan mereka, pasti akan muncul kontradiksi.”
Lalu,
ada pernyataan perang kemarin. Memang berisiko, tapi hasilnya bisa jauh lebih
besar.
Kondo
yang aslinya pengecut itu mungkin akan merasa tidak nyaman dengan klub sepak
bola dan malah bergantung pada para perempuan di sekelilingnya.
Kalau
sudah begitu, aku tinggal menghubungi Amada Miyuki yang sudah melihat foto-foto
itu—mereka mungkin akan bertengkar.
Kalau
itu terjadi, itu adalah keuntungan besar.
Mungkin
saja kabar itu sampai ke Eri, tapi aku tidak peduli.
Karena
semakin sedikit komunikasi di antara mereka, semakin besar pula kecurigaan yang
tumbuh dalam diri Amada.
Jika
Amada Miyuki dan Eri mulai saling mengenal, maka para perempuan itu pun akan
bentrok dengan Kondou. Saat itu terjadi, dia akan kehilangan semua tempat untuk
berpijak.
Dan
saat dia kehilangan klub sepak bola dan para perempuan yang selama ini
melindunginya, dia tak punya pilihan selain bergantung pada “seseorang”.
Seseorang
yang juga bergerak diam-diam di balik semua ini—selain diriku.
※
—Sudut Pandang Hayashi, Junior Klub
Sastra— “Ketua, terima kasih atas semua bimbingannya selama ini.”
Meski
gugup, aku lega karena berhasil mengucapkannya dengan baik. Ketua sempat tampak
terkejut, tapi segera kembali ke sikap biasanya dan berkata, “Boleh aku tahu
alasannya?” Alasan… itu karena aku merasa tindakan membuang naskah milik
Aono-senpai secara sepihak sudah keterlaluan. Itulah alasan kenapa aku tidak
bisa ikut terus. Tapi sebagai orang yang penakut, rasanya aku tidak mampu
menjelaskannya dengan baik.
Di
dalam hati, aku bisa berbicara dengan lancar, tapi kenapa aku tidak bisa
menyampaikan perasaanku dengan benar?
Ichijou-san
berusaha melindungi senpai, tak peduli siapa yang jadi musuhnya. Itu hal yang
tak akan pernah bisa kulakukan. Di tengah banyak orang, aku tak sanggup
menentang kelompok mayoritas. Rasanya menakutkan. Takut aku yang akan jadi
korban berikutnya. Dan rasa takut itu begitu besar.
Itulah
sebabnya aku bisa merasakan betul keputusasaan yang dialami Aono-senpai.
Naskah
berharganya dirobek-robek dan dibuang.
Ia
dibicarakan buruk, barang-barangnya disembunyikan, bahkan tempat sepatu
miliknya diisi tempat sampah.
Aku
tak ingin melakukan hal seperti itu, dan aku tahu pasti bahwa senpai yang baik
tidak akan pernah melakukan hal-hal jahat seperti yang dituduhkan. Tapi aku
juga tak mampu menghentikan semua itu.
Memang
aku sudah minta maaf dan dimaafkan, tapi itu semua berkat Ichijou-san.
Kenyataannya, aku tidak melakukan apa pun dari diriku sendiri.
“Jadi
kamu tidak bisa menjelaskan apa pun, ya?”
Ketua
yang biasanya lembut kini menatapku dengan ekspresi sedikit kecewa.
“Maaf…
aku tidak bisa mengungkapkannya dengan baik…”
Begitu
aku berkata begitu, ia tersenyum. Tapi matanya menatapku dingin.
“Kalau
kamu berani bicara hal yang tidak perlu pada siapa pun, aku takkan
memaafkanmu.”
Ia
mencengkeram bahuku dengan keras.
“Sakit…”
Dengan
gemetar, aku menatapnya, memohon agar ia berhenti. “Kamu mengerti, kan? Kamu
juga punya tanggung jawab karena tidak menghentikannya. Kamu tidak mau ikut
dihukum bersama kami, kan?”
Ia
tersenyum… dengan senyum yang sangat dingin.
※
—Waktu Istirahat Siang, Sudut Pandang Ichijou Ai—
Pelajaran
pagi telah usai. Aku berjalan menuju ruang kosong dekat ruang UKS, karena aku
sudah punya janji dengan Senpai. Hari ini, kami berencana makan bekal bersama.
Kalau terlalu mencolok, rasanya tak nyaman, jadi Senpai meminta izin kepada
para guru agar kami bisa memakai ruang kosong di gedung lain.
Saat
aku berjalan, siswa-siswa lain mulai berbisik-bisik membicarakan sesuatu.
“Eh,
kamu tahu soal Ichijou-san?”
“Tahu,
tahu. Katanya dia pacaran sama Aono-senpai yang lagi jadi bahan pembicaraan
itu.”
“Kok
bisa, ya? Cewek secantik itu pacaran sama cowok kasar kayak dia?”
“Aneh
sekali.”
“Mungkin
cowok itu punya daya tarik yang kita nggak tahu, atau jangan-jangan ceweknya
aja yang bodoh dan tergila-gila sama cowok berandalan.”
Mereka
bicara semaunya sendiri. Memang bukan ditujukan langsung padaku, jadi aku tetap
diam, tapi di dalam hati aku gemetar menahan amarah.
Kenapa
mereka bisa bicara sembarangan padahal tidak tahu apa-apa? Saat ibuku dulu pun
sama saja. Orang-orang menyebarkan gosip seenaknya, tapi tak seorang pun mau
bertanggung jawab atas kata-kata mereka.
Dalam
kasus ini pun sama. Mayoritas yang tak bernama, tanpa rasa tanggung jawab
menyebarkan fitnah tentang Senpai. Dan kalau kebenaran akhirnya terungkap, bagi
mereka urusan selesai begitu saja. Mereka bahkan mungkin tak akan sadar bahwa
merekalah pelaku sebenarnya.
Mungkin
malah akan berpura-pura jadi korban, bilang bahwa mereka hanya tertipu.
Memikirkan
itu membuat dadaku terasa sangat berat.
“Lebih
baik aku segera pergi ke tempat Senpai.”
Dulu,
aku takkan mampu bertahan di lingkungan yang dipenuhi kebencian seperti ini.
Tapi
sekarang berbeda. Karena dia ada di sisiku.
Meski
banyak orang menjatuhkan dia, aku telah melihat siapa dia yang sesungguhnya.
Tanpa
dia, aku mungkin sudah tak ada di dunia ini.
Itu
saja sudah cukup.
Hari
itu, dia rela mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkanku.
Fakta
itu saja sudah cukup.
Meski
Senpai yang begitu baik difitnah secara tidak adil, meski dia menjadi target perundungan
akibat dikhianati oleh orang yang sangat dia percayai, aku yakin kebenaran akan
terungkap dan membuktikan keberanian serta kebaikannya.
Aku
akan melakukan segalanya untuk mewujudkan itu.
Karena
hanya dengan begitu, aku bisa membalas kebaikan yang telah dia berikan.
Dan
lebih dari itu...
Aku
telah jatuh cinta padanya.
Dia
selalu lebih memikirkan orang lain daripada dirinya sendiri dan membawa
kebahagiaan bagi orang-orang di sekitarnya.
Dia
memperlakukan siapa pun dengan rasa hormat.
Bahkan
pagi ini pun—dalam situasi yang mengancam, saat orang lain akan membeku—dia
tetap bertindak tanpa ragu.
Padahal
dia baru saja mengalami trauma akibat perundungan yang parah hingga membuatnya
hampir kehilangan kepercayaan pada manusia.
Namun
dia tetap bisa bergerak demi orang lain.
Sebagai
manusia, aku sungguh menghormatinya.
Itulah
kenapa aku jatuh cinta.
Aku
tak pernah menyangka bisa mencintai seseorang.
Tapi
dia... dia yang mengulurkan tangan padaku saat aku berada di dasar jurang
kegelapan.
Mana
mungkin aku tidak jatuh cinta?
Aku
membuka pintu ruang kosong.
Dan
di sana, Senpai yang kucintai sedang menungguku dengan senyuman.
※
—Sudut Pandang Takayanagi—
Saat
istirahat siang, sambil makan roti dan mencatat di buku catatan di ruang guru,
aku memegangi kepala karena pusing.
Padahal
kemarin hari libur, tapi pikiranku penuh dengan masalah Aono.
Hari
ini, Aono datang ke sekolah nyaris terlambat. Aku sempat khawatir,
jangan-jangan setelah melewati akhir pekan dia jadi tidak mau datang ke
sekolah. Aku mondar-mandir di dekat loker sepatu sambil menunggu. Lalu, kulihat
Aono berlari masuk ke sekolah bersama Ichijou dari kelas satu.
Belakangan,
setelah kucek secara halus, ternyata mereka terlalu asyik mengobrol sampai agak
terlambat. Syukurlah. Aku sempat takut kalau perundungan yang dialaminya makin
parah.
Namun,
demi memulihkan nama baik Aono, aku harus secepat mungkin mengungkapkan
kebenarannya. Bukti-bukti mulai terkumpul. Yang dibutuhkan sekarang adalah
sesuatu yang benar-benar meyakinkan.
“Meski
begitu, ada satu hal yang terasa aneh dalam kasus ini.”
Itu
adalah tindakan Kondo. Dia punya kebiasaan buruk, suka dengan perempuan yang
sudah punya pasangan. Tapi karena prinsip cinta bebas di zaman sekarang, selama
itu bukan hubungan pernikahan, hal itu tidak bisa dijadikan alasan untuk
menghukumnya.
Pihak
sekolah pun selama ini kesulitan menghadapi kasus seperti itu...
Namun,
kenapa hanya dalam kasus Aono, dia sampai bertindak langsung membully?
Kondo
itu biasanya penakut yang selalu tahu batas. Dia tidak pernah melewati garis
terakhir itu.
Aku
terus merasa ada yang janggal di situ.
Lalu,
meskipun kedengarannya mengada-ada, aku sampai pada satu hipotesis.
“Mungkinkah...
ada dalang di balik layar yang memprovokasi Kondo untuk bertindak begitu? Sial,
otakku tidak bisa berpikir jernih.”
Mungkin
karena belum makan benar, aku jadi mudah emosi.
Makan
malam nanti, mungkin aku akan makan di luar. Seingatku, di situs video, ada
seorang “om-om pecinta kuliner” yang merekomendasikan ramen enak dekat stasiun.
Untuk menyegarkan pikiran, aku memutuskan pergi ke sana.
Aku
membuka channel si om-om pecinta kuliner itu untuk mencari nama restoran.
Karena
pengaturan situs, video terbaru langsung diputar otomatis. Karena suaranya
kumatikan, suara video tidak terdengar di ruang guru, tapi isi video bisa
dipahami lewat subtitle.
“Halo
semuanya, kita mulai siaran hari ini ya. Tadi siang waktu aku lagi jalan-jalan
buat syuting proyek baru, ada kakek-kakek tiba-tiba pingsan di depan mataku.
Aku panik, nggak tahu harus bagaimana, tapi tiba-tiba sepasang mahasiswa yang
lewat langsung mulai melakukan pertolongan pertama. Hebat sekali. Aku sendiri
cuma sempat menelepon ambulans. Belakangan ini banyak hal terjadi waktu aku
jalan-jalan di kota. Minggu lalu juga, pas lagi bikin video kolaborasi
jalan-jalan, aku lihat ada perkelahian. Kayaknya gara-gara cinta, deh. Tapi
anak cowoknya dipukuli sepihak. Kami coba mendekati anak itu yang udah
tergeletak, tapi dia malah kabur. Ada yang manggil polisi juga, tapi pas polisi
datang, semua pelaku sudah kabur.”
Entah
kenapa aku merasa tertarik dengan cerita itu, meski tak tahu alasannya.
Sore
hari.
Pada
akhirnya, aku malah pergi ke rumah Aono.
Awalnya
aku ingin makan ramen, tapi saat mengecek media sosial si om-om kuliner tadi,
aku melihat foto set menu tiram goreng yang tampak sangat menggoda, dan
akhirnya memutuskan pergi ke sana.
Jujur
saja, sebagai guru, aku sempat ragu apakah pantas mendatangi rumah murid. Tapi
aku tetap mengetuk pintu.
“Wah,
Takayanagi-sensei. Ada apa hari ini?”
Ibunya
Aono menyambut dengan senyuman. Kami memang sering berkomunikasi, jadi sudah
terjalin hubungan saling percaya.
Waktu
aku mengirim email soal pelajaran praktik tambahan yang akan dilaksanakan Sabtu
depan, beliau membalas, “Terima kasih sudah repot-repot. Kalau ada waktu,
silakan makan di rumah kami.” Jadi aku memutuskan untuk menerima tawaran itu.
Ayah
Aono sudah lama meninggal, dan kini sang ibu serta kakaknya menjalankan
restoran keluarga. Setelah aku dewasa, aku bisa memahami betapa besar tekad dan
perjuangan mereka.
Karena
kasus Aono, sekolah dan keluarga memang perlu membangun hubungan yang lebih
erat. Kami saling berbagi informasi dengan aktif.
“Hari
ini saya datang sebagai pelanggan. Saya pesan set menu tiram goreng musiman
ya.”
“Kalau begitu, saya kasih bonus irisan kol lebih banyak ya.”
Ibu Aono tertawa sambil berkata begitu.
Beliau
selalu membaca laporan-laporan dari kami dengan teliti. Jika ada pertanyaan,
dia menghubungi lewat email dan aku pun selalu berusaha memberikan jawaban yang
lengkap.
Berkat
itu, keluarga Aono jadi lebih mempercayai pihak sekolah. Bahkan saat kami
berbicara lewat telepon, nada bicaranya terasa lebih lembut.
“Sensei,
tolong jaga baik-baik Eiji, ya.”
Kakak
laki-laki Aono keluar dari dapur membawa semangkuk minestrone. Dia bekerja
serius sejak muda demi adiknya.
Karena
hubungan Aono dan aku mulai membaik, aku tahu betapa besar rasa terima kasih
dan hormatnya pada ibu dan kakaknya.
Sorot
matanya jelas menunjukkan bahwa dia benar-benar mengkhawatirkan sang adik.
“Ya.
Kami akan melindungi dia sepenuh hati.”
Di
lingkungan sekolah pun, aku melihat semakin sedikit siswa yang memandang Aono
dengan curiga. Selain karena kepercayaan tinggi terhadap Ichijou Ai yang selalu
bersamanya, kepribadian Aono juga berperan besar.
Sebagian
teman sekelas dari tahun lalu masih ragu, tapi aku mulai melihat ada beberapa
siswa yang menjaga jarak dari gosip dan perundungan.
Saat
sedang berdiskusi dengan guru mata pelajaran kimia soal cara pemberian nilai
praktikum, Endo, teman sekelas Aono di tahun pertama, berkata,
“Kalau
begitu, saya bisa bantu eksperimen itu setelah sekolah. Aono adalah teman
penting saya, jadi saya ingin sedikit membantu.”
Punya
teman yang bersedia menolong di saat genting seperti ini adalah buah dari sikap
baik Aono selama ini.
“Permisi, tambah nasi dong!” Seorang pria besar berteriak.
“Iyaaa~”
jawab ibu Aono.
Saat
kulirik wajah pria itu, ternyata dia adalah si om-om pecinta kuliner yang
sering aku tonton videonya.
Oh,
jadi dia masih di sini, ya.
Aku
merasa senang secara tak sadar.
Lalu
aku bersyukur atas kebetulan ini.
Di
video tadi, dia mengatakan sesuatu yang membuatku berpikir. Tentang kejadian
perkelahian yang dia lihat minggu lalu.
Perkelahian
bukan hal aneh, jadi kemungkinan ini kecil. Tapi dia adalah content creator
lokal. Berarti, besar kemungkinan dia merekam video di sekitar daerah ini.
Dan
isi kejadian itu sangat mirip dengan kasus yang memicu perundungan terhadap
Aono.
Walaupun
kecil, jika itu bisa membantu menyelesaikan masalah ini dan membebaskan Aono
dari ketidakadilan, maka patut untuk dicoba.
Aku
berdiri dan mendekati si pembuat konten.
“Permisi, maaf mengganggu. Saya mau bilang sesuatu…” Aku pun
berkata padanya:
“Saya
selalu menonton video Anda. Semangat terus ya!”
Hari
ini dia sepertinya sudah selesai merekam, jadi dia menanggapiku dengan ramah.
“Wah,
benar begitu? Senang sekali! Terima kasih banyak!”
“Maaf,
saya tahu ini mendadak, tapi di video terbaru Anda, Anda sempat bilang melihat
perkelahian antara anak muda, kan?”
Dia
tampak agak bingung, tapi menjawab, “Iya, saya memang bilang begitu.”
Tidak
ada alasan untuk menyembunyikan ini. Ibu Aono juga terlihat terkejut.
“Nama
saya Takayanagi, guru SMA. Kebetulan, di waktu yang hampir sama dengan kejadian
itu, ada siswa saya yang jadi korban kekerasan. Tapi kami tak punya bukti apa
pun, jadi tidak bisa menyelidikinya.
Bolehkah
saya melihat video tersebut, hanya untuk memastikan apakah anak laki-laki yang
dipukul itu siswa saya atau bukan?”
Jujur
saja, aku sempat pesimis. Karena sekarang, pembuat konten pun harus menjaga
reputasi dan mematuhi aturan.
Terutama
orang ini yang terkenal hati-hati: selalu minta izin syuting, hindari waktu
ramai, dan lain-lain.
Tapi
demi siswa, aku rela menundukkan kepala berkali-kali.
“Hmm…
bagaimana ya…”
Aku
pun menyerahkan kartu namaku.
“Ini
kartu nama saya. Kalau perlu, saya bisa tunjukkan SIM juga. Lagipula restoran
ini dikelola oleh orang tua murid saya.”
Saat
dia melirik ke dapur, kedua orang di dalam mengangguk dengan yakin.
“Kalau
Anda sudah sejauh ini... kebetulan saya bawa datanya.
Tunggu
sebentar, ya.”
Aku
menarik napas lega. Tapi aku belum bisa tenang. Kemungkinan besar itu orang
lain.
“Ini
videonya.”
Terdengar
suara bising jalanan. Ada yang berteriak “Kyaaa!”.
Seseorang
berteriak, “Perkelahian!”. Kamera mengarah ke suara itu.
Tapi
ini bukan sekadar perkelahian. Seorang pria yang marah berat memukul seorang
pemuda yang memegang bahu seorang perempuan.
Itu
murni tindakan kekerasan. Sebuah kasus penganiayaan.
Anak
laki-laki yang dipukul terpental dan jatuh. Pukulannya sangat keras.
Walaupun
dari jauh tak terdengar jelas, si pemukul tampak berteriak dengan nada kasar.
Perempuan
yang bersama mereka tidak berusaha menolong si korban.
Dia
hanya berdiri, mengatakan beberapa kata singkat, lalu pergi bersama pelaku.
Kamera
kemudian mendekati korban.
“Hey,
kamu tidak apa-apa? Jangan dipaksakan jalan. Mending berbaring dulu… hei,
kamu!”
Anak
itu bangkit perlahan, tanpa tenaga, lalu pergi meninggalkan tempat itu.
Si
pembuat video cuma bisa berdiri sambil berkata, “Semoga dia tidak apa-apa…”
Videonya
terputus di situ.
Aku
terdiam. Karena yang muncul di video itu adalah Aono Eiji, Amada Miyuki, dan
Kondo dari klub sepak bola.
“Bagaimana?
Apakah itu yang Anda cari?”
“Videonya
juga sudah saya serahkan ke polisi. Kalau perlu info lebih lanjut, bisa tanya
langsung ke mereka…”
“Terima
kasih. Itu memang siswa saya. Anda serahkan ke kantor polisi mana? Bisa saya
minta alamatnya?”
Setelah
aku mendapatkan lokasi, aku berbisik ke telinga ibu Aono.
“Itu
memang Eiji-kun. Dia yang dipukul secara sepihak dalam video itu.”
Mendengar
itu, beliau menjawab dengan suara dingin,
“Sensei.
Saya minta maaf kalau nanti merepotkan pihak sekolah. Tapi saya tidak akan
pernah memaafkan orang-orang yang menyakiti Eiji.”
Mungkin
guru lain akan bilang: pikirkan masa depan si pelaku.
Tapi
sekolah kami tidak seperti itu.
“Tidak,
itu adalah hak Aono sendiri untuk menentukan. Sekolah tidak bisa ikut campur.
Lagipula, menurut saya, membuat pelaku menyadari kesalahannya juga bagian dari
tanggung jawab guru.
Kalau
dibiarkan, suatu saat mereka bisa melakukan kesalahan yang tidak bisa
diperbaiki lagi. Atau mungkin, kasus ini sudah termasuk yang tidak bisa
diperbaiki.
Karena
itu, memberi mereka kesempatan untuk menebus kesalahan juga bagian dari
pendidikan.”
“Terima
kasih. Kak, maaf ya. Aku pergi dulu sama sensei. Jangan kasih tahu Eiji dulu.
Setelah semuanya jelas, aku yang akan memberitahunya.”
Kami
pun bergegas menuju kantor polisi tempat video itu diserahkan.
※
──Kantor Pemadam
Kebakaran──
“Video
pasangan pelajar yang sedang ramai dibicarakan sudah dikirim oleh pihak
kepolisian.”
Mendengar
laporan dari bawahanku, aku mengangguk.
“Terima
kasih. Tapi ya, anak-anak sekolah zaman sekarang memang luar biasa, ya. Bisa
bergerak sendiri seperti itu. Kita orang dewasa harus belajar dari mereka.”
“Benar
juga, Kepala Pemadam. Katanya mereka bahkan pergi tanpa menyebutkan nama. Orang
sebaik itu malah bikin khawatir, ya. Saya sendiri waktu sekolah cuma ikut klub,
pulang makan ramen bareng teman, lalu tidur tanpa belajar. Gagal banget
rasanya.”
Mendengar
candaan bernada menyalahkan diri itu, aku hanya bisa tersenyum kecut. Jujur
saja, aku juga tidak lebih baik, jadi hanya bisa merasa bersalah.
“Jangan
samakan mereka dengan dirimu. Orang yang jatuh pingsan itu mantan anggota dewan
prefektur, Pak Yamada, kan? Dia pernah jadi ketua dewan, tokoh senior yang
bahkan para anggota parlemen nasional pun segan padanya.”
Karena
itulah, kami diminta dengan sangat untuk menemukan siapa yang telah
membantunya. Dari sudut pandang kami, ini juga bisa jadi contoh yang sangat
baik bagi masyarakat ke depannya, jadi kami benar-benar ingin menemukannya.
“Wah,
ternyata orang sepenting itu, ya.”
Yah,
anak muda zaman sekarang mungkin tidak kenal.
“Baiklah,
untuk sekarang, tolong edit videonya supaya wajah para pelajar itu tidak
terlihat, lalu unggah ke media sosial untuk minta informasi dari masyarakat.
Mungkin saja ada petunjuk.”
Anak
buahku ini cukup jago komputer, jadi aku yakin dia bisa mengurusnya dengan
baik.
Kira-kira
seberapa besar tanggapannya nanti, ya? Semoga saja cepat membuahkan hasil...
Tak
disangka, unggahan media sosial itu akan meledak dalam beberapa jam dan
mendapatkan puluhan ribu tanggapan. Saat ini, kami sama sekali belum
membayangkannya.
※
──Stasiun TV Lokal──
“Masalah
besar! Acara ramen yang seharusnya kita liput secara langsung tiba-tiba
dibatalkan. Karena angin kencang, pihak penyelenggara memutuskan bahwa itu
terlalu berbahaya.”
“Apa!?
Bagaimana ini? Kita jadi punya slot kosong selama lima menit. Tidak ada berita
pengganti, ya!?”
“Itu
dia masalahnya…”
“Sial,
jadi benar-benar tidak ada? Gimana dong. Kalau begini, kita gali berita lain
lebih dalam saja…”
“Ah,
Direktur! Kebetulan ada topik bagus. Baru saja ada video pertolongan dari para
pelajar yang diunggah di akun media sosial pemadam kebakaran. Jumlah
penontonnya naik drastis. Gimana kalau kita tayangkan itu? Katanya, para
pelajar yang menolong pergi tanpa menyebutkan nama. Sekarang pihak pemadam
kebakaran sedang mencarinya karena ingin memberi penghargaan.”
“Waktu
kita mepet, jadi kalau videonya sudah ada itu sangat membantu. Aku mau pakai
itu. Segera minta izin publikasinya. Pihak pemadam pasti setuju juga, soalnya
kalau ditayangkan di TV yang punya daya jangkau besar, penyebarannya bakal
makin luas.”
Segalanya
terus berjalan secara real-time.
※
──Ruang Istirahat
Kantor Polisi──
“Video
yang tadi kita serahkan ke pemadam kebakaran langsung diunggah, ya. Cepat
sekali kerjanya.”
“Iya,
kabarnya yang terlibat itu mantan Ketua Dewan Provinsi.” “Pantas mereka
langsung bergerak secepat itu.”
“Eh,
kenapa, Minowa?”
“Hmm,
soal pria di video yang tadi ditunjukkan… Aku merasa pernah lihat dia
sebelumnya.”
“Oh?
Apa kamu langsung tahu siapa dia?”
“Tidak,
aku tidak tahu namanya. Tapi, ingat tidak, Kak, sekitar seminggu lalu ada kasus
perkelahian di pusat kota? Anak muda yang dihajar sepihak?”
“Oh
iya, kasus itu. Tapi korban dan pelakunya langsung pergi, kan? Yang kita punya
cuma rekaman dari seorang streamer.”
“Iya.
Karena tidak ada laporan resmi juga, kasusnya jadi terbengkalai. Tapi,
menurutku, wajahnya mirip, deh.”
“Serius?
Aku tidak terlalu ingat, sih. Kalau begitu, habis istirahat kita cek lagi saja.
Siapa tahu bisa bikin pihak pemadam punya utang budi ke kita.”
※
──Sudut Pandang
Takayanagi──
Kami
datang ke pos polisi di depan stasiun kota sebelah. Setelah menjelaskan
situasinya, kami diminta untuk memeriksa ulang data. Video yang sama dengan
yang kulihat sebelumnya pun diputar. Karena ini pertama kalinya Aono-san
melihatnya, terlihat jelas kalau ia sangat terkejut.
“Tidak
mungkin... Anak saya dipukul sepihak seperti ini…”
“Kenapa...
hanya karena dia memegang bahu pacarnya, dia harus mengalami perlakuan seperti
ini?”
“Benar…
Ini terlalu kejam. Eiji diperlakukan seperti ini, dikhianati Miyuki-chan,
ditinggalkan tanpa ditolong meski sedang tergeletak... Kenapa aku tidak
menyadarinya lebih awal…”
Sorot
matanya menghilang, dan Aono-san bergumam seolah menahan emosinya. Aku tak bisa
berkata apa-apa—yang bisa kulakukan hanya memandanginya.
Berapapun
kali aku melihat video ini, ini tetap parah.
Itu kekerasan
sepihak. Tidak terlihat adanya kekerasan dari pihak Aono seperti yang diklaim
Kondo.
Ternyata
benar—itu semua bohong.
“Laki-laki
yang memukul anak saya ini, saya tidak akan memaafkannya. Dia siswa di sekolah
yang sama, kan, Pak Guru?”
“Ya,
benar. Dia siswa kelas tiga bernama Kondo.”
Sebelum
kami datang ke sini, aku sudah menghubungi kepala sekolah. Sesuai kebijakan
awal, keputusan untuk melaporkan ke polisi diserahkan pada pihak Aono-san, dan
aku juga mendapat instruksi untuk memberikan dukungan penuh.
“Kondo.
Jadi itu nama si Kondo.”
Ia
menyebut nama itu seperti menggumam, tapi dari tatapan matanya, terlihat jelas
bahwa ia sangat tidak akan memaafkan pelaku.
“Saya
akan melapor ke polisi. Apa yang harus saya lakukan?”
Aono-san
menyatakan dengan tegas, lalu mulai menjalani proses pelaporan. Polisi
menjelaskan bahwa orang tua sebagai wali sah dapat melaporkan kejadian atas
nama anak yang masih di bawah umur.
Saat
proses tengah berlangsung, dua polisi masuk ke pos.
“Ah,
terima kasih atas kerja kerasnya!”
Polisi
yang berjaga memberi salam pada mereka berdua, dan salah satu yang paling
senior bertanya, “Apakah mereka ini keluarga anak laki-laki dalam video itu?”
Polisi
yang ditanya langsung mengangguk.
“Ibu
korban dan guru sekolahnya. Mereka sedang menulis laporan
polisi.”
“Begitu
ya.”
Polisi
senior itu lalu menoleh kepada kami dan mulai berbicara dengan suara tegas
namun sopan.
“Saya
Doumoto. Maaf mendadak, tapi kami ingin minta Anda melihat satu video lagi.
Jangan khawatir, ini tidak terkait kasus kekerasan, melainkan soal penyelamatan
nyawa. Ada petugas yang merasa anak Ibu mirip dengan remaja yang membantu
seorang pria pingsan di jalan kemarin, lalu pergi tanpa menyebutkan nama. Kami
ingin memverifikasi wajahnya saja.”
“Baik,
tidak masalah.”
Aono-san
menjawab dengan sedikit lega. Setelah begitu banyak video mengejutkan,
mendengar bahwa ini video lain yang tak ada kaitannya tentu sedikit
menenangkan.
Video
itu memperlihatkan Aono dengan seragam sekolah dan Ichijou Ai, siswi kelas
satu, yang membantu seorang pria tua yang pingsan.
Jadi,
alasan dia terlambat ke sekolah pagi ini karena melakukan hal ini, ya… Tanpa
sadar aku mengangguk, merasa bisa menerima penjelasannya.
“Ya,
itu anak saya. Dan gadis di sebelahnya… adalah teman dekat anak saya…”
Aono-san
tampak terkejut, bicaranya jadi terputus-putus.
“Begitu
ya. Sebenarnya, pria yang jatuh itu sekarang kondisinya membaik berkat
pertolongan yang cepat. Ia sangat ingin mengucapkan terima kasih pada anak Ibu.
Pihak pemadam kebakaran juga ingin memberi penghargaan.”
Video
kali ini menampilkan perbuatan baik yang kontras dengan video kekerasan
sebelumnya—seperti naik dari neraka ke surga.
Eiji
Aono ini memang luar biasa. Bahkan sebagai orang dewasa, belum tentu bisa
bertindak seperti itu. Dalam situasi yang penuh kekecewaan dan kehilangan
kepercayaan pada manusia, dia tetap tak membusuk dan memilih membantu orang
lain.
“Begitu,
ya… Eiji… aku tidak tahu apa-apa… Anak itu tidak pernah cerita…”
Polisi
senior itu tertawa kecil.
“Anak
yang hebat, sungguh. Saya juga punya anak perempuan seusia itu, tapi tidak
mudah melakukan hal seperti ini. Putra Ibu luar biasa. Melukai anak sebaik itu,
sungguh tak termaafkan. Kami akan menangani kasus kekerasan ini dengan sepenuh
hati.”
Kata-kata
lembut namun penuh keyakinan itu memberi kami rasa lega.
“Terima
kasih banyak…”
Sambil
menangis, Aono-san menundukkan kepala.
Dunia
ini benar-benar penuh ketidakadilan. Mengapa orang sebaik Eiji Aono harus
diperlakukan sekejam ini? Kenapa dia yang jadi target perundungan?
Tidak…
Aku tak boleh larut dalam pikiran negatif. Anak itu, yang seharusnya paling
menderita, masih terus melangkah maju.
Sebagai
orang dewasa, aku harus bertindak agar penderitaannya sedikit saja bisa
diringankan.
Langkah
pertama adalah memastikan si pelaku menerima hukuman yang pantas.
Apa
yang akan terjadi setelah ini pasti tak mudah.
Aku
pun kembali meneguhkan tekadku.
※
──Sudut Pandang
Shimokawa──
Sial,
ini hari Senin, tapi karena pelatih marah besar atas hasil pertandingan latihan
kemarin, kami tetap harus latihan. Padahal seharusnya hari ini hanya latihan
ringan untuk pemulihan kelelahan, jadi kami bisa pulang lebih awal. Tentu saja,
suasana canggung dari kemarin masih belum hilang, dan seperti yang diduga,
Kondo-senpai tidak masuk.
Terus
terang saja, kami semua tidak berada dalam kondisi untuk latihan. Tim
benar-benar kehilangan semangat.
Mungkin,
turnamen berikutnya sudah tidak ada harapan lagi. Semua orang merasakan suasana
pasrah yang menyerupai keputusasaan.
“Yah,
ayo pulang,” kataku sambil mengganti sepatu di pintu masuk sekolah.
Saat
itulah terdengar teriakan kapten, “Oi, Mitsuda! Apa maksudnya ini? Jelaskan!”
Kami
para anggota junior terkejut mendengar nada suara yang tidak biasa itu dan
segera menuju ke sumber suara.
Lemari
sepatu Mitsuda-senpai terbuka, dan di lantai berserakan banyak foto yang ‘itu’.
Semua
orang kehilangan kata-kata melihat pemandangan aneh tersebut.
“Jadi
kau pelakunya. Seperti yang kuduga, karena kau selalu disuruh-suruh sama Kondo,
kau dendam dan melakukan hal seperti ini! Kau telah menghancurkan hidup kami
semua. Tertawa di belakang kami, ya?”
Kapten
terus memaki dengan suara histeris.
“Bukan
aku! Aku tidak tahu apa-apa soal ini. Seseorang pasti memasukkannya ke lokerku.
Aku tidak mengkhianati siapa pun. Ini fitnah!”
Mendengar itu, aku langsung teringat pada Aono. Bukankah kami
pada akhirnya hanya dimanfaatkan oleh Kondo-senpai untuk menjebak Aono?
Terutama Mitsuda-senpai, dia bahkan aktif menyebarkan gosip. Ini pasti adalah
hukuman atas perbuatannya. “Aku tidak bisa percaya lagi. Aku tidak percaya
siapa pun lagi!”
Kapten
membanting Mitsuda-senpai ke lemari sepatu, lalu pergi begitu saja. Udara muram
seperti suasana berkabung menyelimuti kami yang tertinggal.
“Bukan
ini sepak bola yang ingin aku mainkan...”
Itu
gumaman Maehira, murid tahun pertama. Kami semua menatapnya kaget. Karena para
murid tahun pertama hampir tidak terlibat dalam kejadian ini, mereka menatap
kami para senior dengan tatapan dingin seolah melihat kotoran. Sial, ini bukan
salahku. Ini semua salah Kondo-senpai.
Tanpa
mengatakan apa pun, Maehira dan yang lainnya pergi dari tempat itu.
Yang
tersisa hanyalah foto-foto itu dan para senior yang tenggelam dalam
keputusasaan.
※
──Sudut
Pandang Eri──
Aku
membeli bahan makanan di supermarket, lalu pulang ke rumah seperti biasa.
“Aku
pulang.”
Kebiasaan
lama memang sulit hilang. Meskipun aku menyapa rumah yang kosong, tak akan ada
yang membalas.
Itu
membuatku sadar bahwa aku adalah seseorang yang berada di ujung berlawanan dari
kebahagiaan.
“Aku
bikin udon saja.”
Asalkan
merebus sayur dan daging seadanya lalu memakannya, aku tidak akan mati. Sejak
mulai hidup sendiri saat SMA, aku selalu begini. Selama tiga tahun ini, aku
tidak pernah sekalipun merasakan kenikmatan dari makanan. Asalkan mendapatkan
nutrisi minimum, aku tak peduli lagi.
Selain
saat bertemu dengan Kondo-kun, hidupku hanya diisi dengan melakukan hal-hal
minimum untuk menyia-nyiakan waktu. Di luar waktu bersamanya, aku seperti
zombie.
Karena
aku sudah kehilangan segalanya.
Padahal
dulu, sampai SMP aku anak yang berprestasi. Aku punya banyak teman dan bahkan
berpacaran dengan teman masa kecilku, Kazuki Endo. Dia juga pintar, dan selalu
menjadi kebanggaan sebagai teman masa kecilku. Kami sangat dekat, dan aku pikir
suatu hari nanti kami pasti akan bersama.
Tapi,
orang yang menghancurkan kebahagiaan yang seakan sudah dijanjikan itu... adalah
aku sendiri.
Aku
pertama kali sekelas dengan Kondo-kun saat kelas tiga SMP. Dia adalah ace tim
sepak bola dan juga pandai belajar, selalu jadi pusat perhatian kelas.
Aku
yang sangat mencintai teman masa kecilku hanya menganggap Kondo sebagai orang
hebat, tak lebih.
Namun,
karena sekelas, perlahan kami mulai akrab. Karena dia pandai, dia dengan lembut
mengajarkanku matematika yang sulit kupahami.
Hal-hal
kecil seperti itulah yang membuat kami dekat. Gaya Kondo yang sudah terbiasa
berurusan dengan perempuan terasa jauh lebih dewasa dibandingkan Kazuki yang
canggung. Karena lengah, aku akhirnya menyerahkan segalanya kepadanya dan
terjatuh ke dalam neraka ini.
Tapi
aku tahu betul. Yang bersalah semuanya adalah aku. Selama ini aku mencoba untuk
tidak melihatnya, tapi yang paling salah adalah diriku sendiri.
Orang
tuaku nyaris mengusirku. Mereka masih membiayai uang sekolah dan hidupku, tapi
setelah itu aku harus urus sendiri.
Teman
dekatku sejak TK bilang, “Kenapa kamu bisa melakukan hal sekejam itu? Kalau
kamu memikirkan perasaan Endo-kun… kamu nggak akan tega berbuat begitu,” lalu
memutuskan hubungan denganku.
Itu
hal yang wajar. Tapi dalam keadaan di mana aku bahkan tidak bisa mengandalkan
orang tua, kuliah atau masuk sekolah kejuruan pun tampak mustahil. Impianku
sejak dulu untuk menjadi guru, bisa dibilang hancur karena perselingkuhan itu.
Kabarnya,
Kazuki jadi sangat putus asa sampai tidak ikut ujian masuk SMA. Sekarang, dia
menjadi siswa yang lebih muda dari kami, sebagai siswa yang tertunda.
Saat tahu dia masuk ke SMA yang sama denganku, aku senang
sekali. Padahal aku tahu, aku yang sudah menyakitinya sedemikian rupa, tidak
pantas merasa begitu. Tapi dalam hati kecilku, aku berharap dia bisa
menyelamatkanku dari neraka ini. Tapi aku segera sadar bahwa itu hanyalah mimpi
di atas mimpi.
Bahkan
ketika kami berpapasan di lorong, dia hanya menatapku dengan tatapan dingin,
seolah aku ini kotoran.
Senyuman
lembut yang dulu selalu dia berikan, kini tak akan pernah lagi mengarah padaku.
Aku sadar bahwa satu-satunya yang kumiliki hanyalah Kondo-kun. Simbol masa lalu
yang bahagia sudah terlalu jauh dan tak akan bisa kuraih lagi, meski aku
mengulurkan tangan.
Dan
dia pun hanya memperlakukanku sebagai perempuan yang bisa dimanfaatkan
semaunya.
Kami
sempat berpacaran sebentar di SMP, tapi dia segera membuangku. Setelah
diputuskan, aku jadi nyaris tidak masuk sekolah. Tapi saat dia tahu itu, dia
jadi sedikit lebih baik, dan kadang datang menemuiku. Meski aku tahu aku hanya
jadi perempuan yang nyaman untuknya, aku tetap tidak bisa keluar dari
jeratannya.
Karena
ini adalah cinta yang kupertaruhkan segalanya, aku tidak bisa menyerah dan
akhirnya terus menjadi perempuan yang nyaman baginya. Cinta ini sudah
mempertaruhkan keluarga, kekasih, teman, impian, dan masa depan.
Aku telah memberikan seluruh masa mudaku kepada Kondo-kun.
Dan yang tersisa hanyalah neraka ini.
Aku
tahu betul dia punya perempuan lain. Bahkan aku beberapa kali melihatnya
sendiri.
Tapi
aku selalu percaya bahwa dia akan kembali padaku, karena aku telah memberikan
segalanya untuknya.
Sampai
amplop yang datang di kotak surat tadi menghancurkan bahkan harapan itu.
Isinya
adalah foto dia keluar dari hotel bersama perempuan lain, dengan wajah bahagia.
Kalau
hanya itu, mungkin aku masih bisa tahan. Tapi di lehernya tergantung kalung
kembar yang kami beli bersama saat SMP. Seolah-olah dia sengaja menginjak-injak
perasaanku. Aku sadar bahwa bagi dia, masa mudaku hanyalah barang milik semata.
Tak
bisa dimaafkan.
Aku
tidak bisa memaafkan diriku sendiri. Aku tidak bisa memaafkan diriku yang telah
mengkhianati orang-orang yang penting bagiku.
Aku
ingin mati. Tali yang menegang sampai batas akhirnya kini telah putus. Karena
aku tahu, tak ada lagi harapan di masa depan.
Tapi
aku tidak akan jatuh ke neraka sendirian.
Orang
yang menciptakan neraka ini juga akan kubawa bersamaku...
Setidaknya,
di akhir hidupku, aku ingin menjadi diriku sendiri—hanya sekali saja.
Posting Komentar