Chapter 3: Menolong Orang Dan Hancurnya Kelompok Perselingkuhan

 ── 8 September Sudut pandang Eiji ──

“Selamat pagi, Senpai. Terima kasih banyak untuk kemarin!”

Seperti biasa, Ichijou-san sudah menungguku di depan rumah. Entah kenapa, senyumnya hari ini terlihat lebih lembut dibandingkan kemarin. Beberapa pegawai kantoran dan anak SMP yang lewat di depan rumah menoleh padanya, terkejut oleh kecantikannya.

“Selamat pagi. Aku juga, makasih untuk kemarin. Ayo nonton film lagi kapan-kapan.”

Aku menyapanya dengan sedikit canggung, dan Ichijou-san mengangguk.

“Bagus juga. Kemarin kita nonton film barat, jadi kali ini bagaimana kalau film Jepang atau anime? Senpai akhir-akhir ini nonton apa?”

Untung aku mengalihkan pembicaraan ke topik film. Kalau tidak, aku pasti bakal teringat ciuman kemarin dan suasana pagi ini jadi kaku. Berkat hobi yang sama, hubungan kami memang jadi lebih dekat. Karena Ibu sangat suka film dan drama, aku jadi bisa lebih akrab dengan Ichijou-san seperti sekarang.

Kami mulai berjalan sambil tenggelam dalam obrolan soal film.

“Aku lagi suka film India, nih.”

“Yang panjang dan ada adegan menari itu?”

“Tidak juga, film India sekarang tidak banyak adegan menari. Tetap panjang sih, tapi biasanya cuma ada lagu yang diputar dengan latar alam yang indah dan megah. Kesan dramatisnya  sangat kuat.”

“Kedengarannya menarik.”

Memang, agak jarang ada anak SMA yang suka film India. Aku sendiri jadi geli memikirkan topik yang sedang kubahas.

“Ada rekomendasi?”

“Sebenarnya, film India itu cerita dramanya juga bagus. Banyak nilai kemanusiaannya, kayak film Jepang zaman Showa. Meski adegan aksinya juga keren sih. Aku rekomendasiin film berjudul Bajrangi Bhaijaan — atau dalam bahasa kita, ‘Paman Bajrangi dan Anak Tersesat’.”

“Itu cerita tentang apa?”

“Seorang pria baik hati menemukan anak tersesat dari negara tetangga yang nggak bisa bicara, dan dia melakukan perjalanan panjang demi mengantarkan anak itu kembali ke keluarganya.”

“Sepertinya seru!!”

“Bikin nangis, jadi cocok ditonton pas lagi ingin terharu.”

Waktu itu aku nonton hari Minggu malam dan nangis sejadi-jadinya. Senin paginya pas masuk sekolah, Satoshi langsung bilang mataku bengkak. Karena aku tahu Ichijou-san lumayan sering nonton film, aku sengaja bahas film India yang kurang terkenal. Dia langsung buka situs film di ponselnya dan memasukkan judul film itu ke bookmark-nya.

“Terima kasih. Aku coba tonton akhir pekan nanti, ya.”

Setelah berkata begitu, dia menatapku dengan senyum yang luar biasa manis.

“Senpai, ini agak beda topik, tapi... bagaimana soal novel yang kamu tulis itu?”

Naskah yang diselamatkan Ichijou-san dengan susah payah sekarang ada padaku. Tadinya aku ingin menerbitkannya di buletin klub, tapi kelihatannya itu tidak mungkin. Sayang juga kalau cuma disimpan dan dilupakan. Tapi, itu cuma cerita pendek, tudak cukup untuk ikut sayembara penerbit, jadi aku belum tahu harus bagaimana.

“Aku masih mikir-mikir, sih.”

“Kalau gitu, gimana kalau diunggah ke situs novel online?”

“Tapi novelku bukan fantasi atau romcom yang lagi tren. Kayaknya nggak banyak yang mau baca, deh.”

“Masa, sih? Aku merasa itu benar-benar cerita yang bagus dan aku ingin lebih banyak orang membacanya.”

“Terima kasih. Tapi buat unggah ke situs itu, aku butuh keberanian. Takut dapat komentar pedas, atau nilai jelek bikin down.”

Soal karya sendiri, aku cenderung pesimis. Tapi Ichijou-san malah tersenyum lembut padaku.

“Yah, jadi penulis pribadi aku juga tidak buruk sih.”

Kami tertawa bersama mendengar candaan itu. Aku pikir dia benar-benar orang yang baik. Sepertinya dia bisa memahami bahwa aku menyimpan trauma. Aku merasa tidak enak kalau terus menolak niat baiknya, jadi aku pun hendak mengatakan, “Akan kupikirkan,” tapi tiba-tiba sesuatu terjadi.

Sebuah insiden terjadi di depan kami yang sedang menikmati waktu menyenangkan.

“Ugh…” Seorang kakek yang berjalan di depan kami tiba-tiba memegangi dadanya dan jatuh.

“Eh?” Ichijou-san terdiam dengan wajah cemas, menoleh padaku.

Aku juga cuma bisa terpaku melihat kejadian itu, belum bisa mencerna apa yang sedang terjadi.

Sang kakek tampak kesulitan bernapas dan akhirnya tidak bergerak lagi.

Ini gawat.

Waktu kerja paruh waktu musim panas sebagai staf pemasangan acara, aku sempat ikut pelatihan pertolongan pertama. Aku teringat wajah petugas pemadam kebakaran yang jadi pengajarnya. Dia bilang, ilmu ini bisa dipakai bukan cuma di tempat kerja, tapi juga dalam situasi sehari-hari.

Aku harus bertindak. Tidak apa-apa. Aku cuma perlu melakukan apa yang kupelajari di pelatihan hari itu.

“Ini gawat. Ichijou-san, tolong cari AED!”

Yang terpenting sekarang adalah menyelamatkan nyawa si kakek.

“Tapi... di mana aku bisa menemukannya...?”

Dengan wajah pucat pasi, dia berdiri terpaku di tempat.

“Di dekat sini ada pos polisi, kan? Seingatku, di pos polisi biasanya ada AED. Kalaupun tidak ada, setidaknya petugasnya mungkin tahu lokasi terdekat. Kadang-kadang juga ada di minimarket. Aku akan panggil ambulans dan menjaga si kakek di sini.”

“Baik, aku mengerti!”

Ichijou-san langsung berlari menuju pos polisi.

Sementara itu, aku mengikuti langkah-langkah yang diajarkan saat pelatihan—memastikan kesadaran si kakek, meminta bantuan orang-orang sekitar, dan memulai pertolongan darurat.

Seorang pria baik hati segera menelepon ambulans menggunakan ponselnya.

Aku pun bertindak secepat mungkin, tanpa ragu, hanya fokus untuk menyelamatkan si kakek.

Tak lama, Ichijou-san kembali bersama seorang polisi dan membawa AED.

Saat kami bersiap menggunakan AED, seorang wanita berusia sekitar 30-an mendekat.

“Ada apa ini?”

“Seorang kakek yang tidak kami kenal tiba-tiba jatuh sambil memegangi dadanya. Kami sudah menelepon ambulans dan baru saja membawa AED. Tapi dia tidak merespons saat kami coba panggil.”

“Terima kasih. Aku seorang perawat, jadi biar aku yang tangani dari sini. Namamu siapa?”

“Aono.”

“Baik, Aono-kun ya. Kamu hebat bisa bergerak cepat. Kalau begitu, bantu aku sebentar, ya. Kalau boleh tahu, siapa nama pacarmu ini?”

Perawat itu dengan sigap memberikan instruksi. Aku mengikuti arahan dari perawat dan suara panduan otomatis dari AED, sambil mengingat kembali latihan saat kerja paruh waktuku.

“Ichijou. Apa yang bisa aku bantu?”

“Ichijou-san, ya. Kalau begitu, bisakah kamu mencari tahu apakah keluarga si kakek ada di sekitar sini?”

“Baik!”

Ichijou-san langsung berlari lagi. Sementara itu, polisi yang datang bersamanya mulai mengatur lalu lintas di gang sempit tempat kami berada.

Begitulah, kegiatan penyelamatan terus berlangsung.

Saat kami sibuk melakukan pertolongan, ambulans akhirnya tiba dengan pengawalan dari polisi. Mungkin tak sampai sepuluh menit, tapi karena semuanya dilakukan dalam kepanikan, terasa seperti sekejap.

“Aono-kun, Ichijou-san, terima kasih banyak. Aku akan menemani beliau ke rumah sakit, jadi kalian tak perlu khawatir. Berkat kalian yang segera bertindak, sepertinya tidak akan terjadi hal yang fatal.”

Perawat itu tersenyum sambil berbicara.

Setelah kejutan listrik pertama, si kakek mulai sadar kembali. Meski masih agak linglung, dia sempat berkata, “Terima kasih, terima kasih...”

Polisi yang ada di lokasi memeriksa identitas si kakek, dan sepertinya akan menghubungi keluarganya nanti.

Si kakek pun tampak mulai sadar sepenuhnya.

“Kalau begitu, kami pamit dulu.”

Ucapku, dan Ichijou-san mengangguk. Kami pun pergi dari tempat kejadian dengan sedikit rasa lega.

“Menegangkan juga, ya. Syukurlah si kakek tampak sudah membaik.”

Ichijou-san mengembuskan napas panjang, lalu kembali menunjukkan senyumnya yang biasa.

“Itu semua berkatmu, Ichijou-san. Karena kamu langsung bergerak cepat, kita bisa menyelamatkannya.”

Mendengar ucapanku, dia tersenyum dan menggeleng pelan.

“Tidak juga. Justru karena Senpai yang langsung bertindak cepat, semuanya bisa berjalan baik. Aku sendiri sempat takut dan tak bisa bergerak.”

“Tidak, kita memang beruntung kali ini. Ada perawat yang kebetulan lewat dan langsung membantu. Tanpa dia, pasti aku juga tidak akan bisa berbuat banyak.”

“Meski begitu, nggak banyak orang yang bisa langsung bertindak demi orang lain. Aku benar-benar kagum dengan Senpai.”

Mendengar itu, rasanya seperti sedikit demi sedikit rasa percaya diriku—yang sempat hancur karena perundungan minggu lalu—mulai pulih kembali.

“Terima kasih.”

Untuk pertama kalinya dalam beberapa waktu terakhir, aku bisa mengucapkan terima kasih dengan senyum tulus dari hati.

—Sudut Pandang Perawat—

“Terima kasih banyak.”

Keluarga kakek yang datang menyusul ke rumah sakit mengucapkan terima kasih dengan mata berkaca-kaca. Putranya, mewakili keluarga, membungkuk hormat padaku. Ia mengenakan setelan jas mahal dan gerak-geriknya tampak elegan.

Kakek itu berhasil diselamatkan berkat penanganan cepat dan tepat. Tampaknya ia memang harus dirawat di rumah sakit untuk sementara waktu, tapi nyawanya berhasil diselamatkan.

“Ah, tidak perlu berterima kasih pada saya. Justru, yang seharusnya Anda ucapkan terima kasih adalah dua orang pelajar yang menyiapkan AED itu. Kalau bukan karena mereka, keadaannya mungkin akan jauh lebih buruk.”

Kenyataannya, pahlawan sejati hari itu adalah dua anak muda itu. Aku hanya membantu mereka. Dalam situasi seperti ini, jika ada satu orang saja yang bergerak lebih dulu, orang lain akan lebih mudah ikut membantu. Yang paling membutuhkan keberanian adalah orang pertama yang bertindak.

“Saya benar-benar tak bisa cukup berterima kasih kepada anak-anak itu. Saya ingin langsung menyampaikan rasa terima kasih saya kepada mereka, tapi kata polisi, mereka menolak memberi kontak dan langsung pergi begitu saja, jadi saya belum sempat mengucapkan terima kasih. Apakah Anda tahu kontak mereka, mungkin?”

Tak kusangka, di usia semuda itu mereka sudah begitu bijak dan dewasa. Padahal wajar saja bila mereka terdorong oleh keinginan untuk dikenal atau dipuji.

Anak-anak muda zaman sekarang sungguh luar biasa.

“Saya juga hanya kebetulan berada di tempat kejadian… Ah, tapi saat kami menangani pertolongan, saya sempat menanyakan nama mereka!”

“Benarkah!? Apa Anda masih ingat nama mereka?”

“Mereka memperkenalkan diri sebagai Aono-kun dan Ichijou-san.”

Mendengar itu saja, putra si kakek tersenyum sangat lega. Aku bisa merasakan betapa ia benar-benar ingin mengucapkan terima kasih secara langsung kepada para penyelamat ayahnya.

Rupanya dia orang yang sangat menghargai etika.

“Aono-kun dan Ichijou-san, ya. Terima kasih banyak. Hanya dengan mengetahui nama mereka saja… Saya akan coba mencarinya.”

“Baik. Kalau begitu, saya permisi.”

Apakah mungkin mereka bisa ditemukan hanya dari nama saja? Pertanyaan itu sempat muncul di benakku, tapi aku menahan diri untuk tidak mengucapkannya. Aku juga berharap keajaiban terjadi, agar identitas mereka diketahui dan mereka bisa mendapatkan pujian yang layak.

Meskipun hari libur ini dipenuhi kejadian mendebarkan, entah kenapa aku merasa lega dan puas. Pekerjaan ini memang berat, tapi aku tak ingin kalah dari pasangan pelajar muda itu. Aku juga harus tetap semangat. Dengan perasaan bahagia, aku meninggalkan rumah sakit. Entah mengapa, rasanya seperti pekerjaanku sendiri juga turut dihargai, dan aku jadi yakin bahwa semua yang telah kulakukan selama ini tidaklah sia-sia.

—Situs Video—

“Hai semua, hari ini kita mulai lagi siaran seperti biasa. Jadi tadi, waktu aku sedang jalan-jalan di kota buat ngambil gambar untuk proyek video berikutnya, tiba-tiba ada seorang kakek yang jatuh pingsan tepat di depan mataku. Aku panik, bingung harus bagaimana, tapi saat itu ada sepasang mahasiswa yang langsung mulai melakukan pertolongan pertama. Hebat sekali, serius. Aku cuma sempat nelpon ambulans saja. Tapi, keren sekali sih. Akhir-akhir ini kalau jalan-jalan di kota tuh, sering sekali ada kejadian aneh-aneh. Minggu lalu juga, waktu syuting video kolaborasi jalan-jalan, aku sempat lihat orang ribut di jalan. Sepertinya masalah cinta gitu, tapi yang cewek mukulin si cowok habis-habisan. Kita langsung lari ke arah si cowok yang jatuh, tapi dia langsung kabur. Kayaknya ada yang udah nelpon polisi juga, tapi pas mereka datang, orang-orangnya sudah tidak ada.”

Siaran siang itu pun berakhir, dan aku mengambil jeda sebentar.

Pagi tadi, aku tadinya cuma mau coba sarapan yang katanya viral, tapi malah kebetulan terlibat dalam insiden itu. Karena aku yang memanggil ambulans buat si kakek, tadi sempat ada telepon masuk dari perempuan yang mengaku sebagai keluarganya.

Kayaknya polisi yang kasih tahu nomor kontakku ke dia, sebagai perantara. Waktu jadi content creator kayak gini, sebenarnya malah jarang banget berinteraksi langsung sama orang. Makanya, bisa bantu orang dan bikin mereka senang tuh rasanya menyenangkan juga.

Aku ini pembuat konten video kuliner, dengan konsep lokal yang menyatu sama masyarakat, dan katanya beberapa polisi juga sempat nonton video-videoku. Setelah semuanya selesai, aku sempat ngobrol santai sama salah satu petugas polisi. Komentar dari para penonton memang menyenangkan, tapi berbicara langsung seperti ini juga terasa menyenangkan dengan caranya sendiri.

“Oh, ya, yang tadi itu nggak ada apa-apanya kok. Aku kebetulan lagi rekam video buat hobi saja, terus tiba-tiba si kakek jatuh. Saat aku masih bingung, sepasang siswa itu langsung bertindak. Aku cuma sempat nelpon ambulans aja. Eh? Mau dapet penghargaan dari pemadam kebakaran? Waduh, kalau aku sih tidak pantas. Harusnya siswa dan perawat itu yang dihargai… Hah? Mereka nggak kasih nama dan langsung pergi begitu saja?”

Terus terang, aku hampir tidak berbuat apa-apa saat itu, jadi aku tidak layak disebut pahlawan. Aku takut malah terlihat seperti merebut kredit dari dua siswa itu.

“Iya, aku sempat rekam kejadian itu. Kebetulan sekali lagi syuting video jalan-jalan. Videonya memang agak goyang karena panik, tapi wajah dua siswa itu kelihatan. Tapi… yah, mereka masih di bawah umur, jadi tidak mungkin dong videonya diunggah begitu saja ke internet?”

Perempuan di ujung telepon sempat menanyakan apakah aku bisa mengunggahnya ke media sosial untuk mencari mereka, tapi rasa moralku berkata tidak. Mungkin mereka memang tidak ingin jadi pusat perhatian.

“Iya, mohon maaf. Tapi, kalau pakai efek mosaik dan setelah konsultasi ke polisi, mungkin bisa…”

Jujur saja, aku juga berharap dua mahasiswa itu bisa mendapatkan pengakuan yang layak atas apa yang mereka lakukan. Semua berhasil karena tindakan cepat mereka di tempat kejadian.

Tapi wajah si anak laki-laki itu… rasanya aku pernah lihat di suatu tempat. Tapi di mana, ya? Aku tidak bisa ingat.

Untuk saat ini, aku putuskan untuk menyerahkan data videonya ke polisi. Oh iya, dulu aku juga pernah kasih video pertengkaran di jalan itu ke polisi. Siapa tahu, video kulinerku yang tampaknya biasa-biasa saja ini bisa berguna untuk sesuatu.

“Oh, iya! Sekarang udah bulan September, ya. Berarti di Kitchen Aono udah mulai jual kaki furai (gorengan tiram)! Saus tartarnya di sana enak sekali, deh. Kayaknya malam ini aku bakal makan ke sana, ah!”

—Sudut Pandang Endou—

Aku bermimpi. Mimpi tentang masa lalu bersama Eri.

Dalam mimpi itu, kami masih anak-anak, mungkin seumuran anak TK, dan tertawa bersama dengan riang.

“Aku nanti kalau sudah besar, mau jadi istri Endo-kun,” katanya.

Tapi janji itu tak pernah menjadi kenyataan. Sekarang, meskipun aku melihat kembali sahabat kecil yang dulu sangat aku sayangi itu, yang muncul hanyalah rasa benci.

Aku terbangun sambil mengingat senyum polos masa kecil yang telah hilang selamanya.

“Mimpi yang paling buruk,” gumamku.

Masa lalu yang seharusnya menjadi kenangan indah telah direnggut dariku. Yang tersisa hanyalah kebencian—untuk lelaki itu yang merebut segalanya, untuk orang-orang yang membantunya, dan untuk Eri juga.

Jam masih menunjukkan pukul lima pagi.

Kemarin, aku cukup nekat. Aku langsung menyatakan perang terhadap Kondo. Tapi itu adalah langkah yang diperlukan dalam rencanaku.

Melihat cara dia bertindak, dia kuat saat menyerang, tapi lemah saat bertahan. Dia juga orang yang penuh harga diri, jadi mudah sekali terpancing dan kehilangan kendali saat diprovokasi.

Itu sebabnya gerak-geriknya mudah ditebak.

Dalam hal hubungannya dengan klub sepak bola, aku rasa aku sudah cukup berhasil menggoyahkannya.

Sekarang tinggal menunggu waktu sampai ada yang membelot dari dalam klub.

Tapi kalau hanya membuat Kondo dihukum, itu belum cukup untuk membalas dendamku. Aku harus menjatuhkannya ke titik terendah. Karena itu aku juga menyebarkan informasi ke Amada Miyuki.

Setidaknya, kepercayaan di antara mereka akan mulai retak, dan kalau bisa, aku ingin menyentuh rasa bersalah yang mungkin masih ada di hati Amada. Tentu saja, perempuan tukang selingkuh seperti dia bukan tipe orang yang bisa dipercaya.

“Kalau semuanya berjalan lancar, aku bisa memisahkan Kondo dari klub sepak bola dan dari Amada Miyuki. Kalau itu berhasil, mereka akan sulit menyusun kesaksian bersama, dan saat sekolah mulai menekan mereka, pasti akan muncul kontradiksi.”

Lalu, ada pernyataan perang kemarin. Memang berisiko, tapi hasilnya bisa jauh lebih besar.

Kondo yang aslinya pengecut itu mungkin akan merasa tidak nyaman dengan klub sepak bola dan malah bergantung pada para perempuan di sekelilingnya.

Kalau sudah begitu, aku tinggal menghubungi Amada Miyuki yang sudah melihat foto-foto itu—mereka mungkin akan bertengkar.

Kalau itu terjadi, itu adalah keuntungan besar.

Mungkin saja kabar itu sampai ke Eri, tapi aku tidak peduli.

Karena semakin sedikit komunikasi di antara mereka, semakin besar pula kecurigaan yang tumbuh dalam diri Amada.

Jika Amada Miyuki dan Eri mulai saling mengenal, maka para perempuan itu pun akan bentrok dengan Kondou. Saat itu terjadi, dia akan kehilangan semua tempat untuk berpijak.

Dan saat dia kehilangan klub sepak bola dan para perempuan yang selama ini melindunginya, dia tak punya pilihan selain bergantung pada “seseorang”.

Seseorang yang juga bergerak diam-diam di balik semua ini—selain diriku.

—Sudut Pandang Hayashi, Junior Klub Sastra— “Ketua, terima kasih atas semua bimbingannya selama ini.”

Meski gugup, aku lega karena berhasil mengucapkannya dengan baik. Ketua sempat tampak terkejut, tapi segera kembali ke sikap biasanya dan berkata, “Boleh aku tahu alasannya?” Alasan… itu karena aku merasa tindakan membuang naskah milik Aono-senpai secara sepihak sudah keterlaluan. Itulah alasan kenapa aku tidak bisa ikut terus. Tapi sebagai orang yang penakut, rasanya aku tidak mampu menjelaskannya dengan baik.

Di dalam hati, aku bisa berbicara dengan lancar, tapi kenapa aku tidak bisa menyampaikan perasaanku dengan benar?

Ichijou-san berusaha melindungi senpai, tak peduli siapa yang jadi musuhnya. Itu hal yang tak akan pernah bisa kulakukan. Di tengah banyak orang, aku tak sanggup menentang kelompok mayoritas. Rasanya menakutkan. Takut aku yang akan jadi korban berikutnya. Dan rasa takut itu begitu besar.

Itulah sebabnya aku bisa merasakan betul keputusasaan yang dialami Aono-senpai.

Naskah berharganya dirobek-robek dan dibuang.

Ia dibicarakan buruk, barang-barangnya disembunyikan, bahkan tempat sepatu miliknya diisi tempat sampah.

Aku tak ingin melakukan hal seperti itu, dan aku tahu pasti bahwa senpai yang baik tidak akan pernah melakukan hal-hal jahat seperti yang dituduhkan. Tapi aku juga tak mampu menghentikan semua itu.

Memang aku sudah minta maaf dan dimaafkan, tapi itu semua berkat Ichijou-san. Kenyataannya, aku tidak melakukan apa pun dari diriku sendiri.

“Jadi kamu tidak bisa menjelaskan apa pun, ya?”

Ketua yang biasanya lembut kini menatapku dengan ekspresi sedikit kecewa.

“Maaf… aku tidak bisa mengungkapkannya dengan baik…”

Begitu aku berkata begitu, ia tersenyum. Tapi matanya menatapku dingin.

“Kalau kamu berani bicara hal yang tidak perlu pada siapa pun, aku takkan memaafkanmu.”

Ia mencengkeram bahuku dengan keras.

“Sakit…”

Dengan gemetar, aku menatapnya, memohon agar ia berhenti. “Kamu mengerti, kan? Kamu juga punya tanggung jawab karena tidak menghentikannya. Kamu tidak mau ikut dihukum bersama kami, kan?”

Ia tersenyum… dengan senyum yang sangat dingin.

—Waktu Istirahat Siang, Sudut Pandang Ichijou Ai—

Pelajaran pagi telah usai. Aku berjalan menuju ruang kosong dekat ruang UKS, karena aku sudah punya janji dengan Senpai. Hari ini, kami berencana makan bekal bersama. Kalau terlalu mencolok, rasanya tak nyaman, jadi Senpai meminta izin kepada para guru agar kami bisa memakai ruang kosong di gedung lain.

Saat aku berjalan, siswa-siswa lain mulai berbisik-bisik membicarakan sesuatu.

“Eh, kamu tahu soal Ichijou-san?”

“Tahu, tahu. Katanya dia pacaran sama Aono-senpai yang lagi jadi bahan pembicaraan itu.”

“Kok bisa, ya? Cewek secantik itu pacaran sama cowok kasar kayak dia?”

“Aneh sekali.”

“Mungkin cowok itu punya daya tarik yang kita nggak tahu, atau jangan-jangan ceweknya aja yang bodoh dan tergila-gila sama cowok berandalan.”

Mereka bicara semaunya sendiri. Memang bukan ditujukan langsung padaku, jadi aku tetap diam, tapi di dalam hati aku gemetar menahan amarah.

Kenapa mereka bisa bicara sembarangan padahal tidak tahu apa-apa? Saat ibuku dulu pun sama saja. Orang-orang menyebarkan gosip seenaknya, tapi tak seorang pun mau bertanggung jawab atas kata-kata mereka.

Dalam kasus ini pun sama. Mayoritas yang tak bernama, tanpa rasa tanggung jawab menyebarkan fitnah tentang Senpai. Dan kalau kebenaran akhirnya terungkap, bagi mereka urusan selesai begitu saja. Mereka bahkan mungkin tak akan sadar bahwa merekalah pelaku sebenarnya.

Mungkin malah akan berpura-pura jadi korban, bilang bahwa mereka hanya tertipu.

Memikirkan itu membuat dadaku terasa sangat berat.

“Lebih baik aku segera pergi ke tempat Senpai.”

Dulu, aku takkan mampu bertahan di lingkungan yang dipenuhi kebencian seperti ini.

Tapi sekarang berbeda. Karena dia ada di sisiku.

Meski banyak orang menjatuhkan dia, aku telah melihat siapa dia yang sesungguhnya.

Tanpa dia, aku mungkin sudah tak ada di dunia ini.

Itu saja sudah cukup.

Hari itu, dia rela mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkanku.

Fakta itu saja sudah cukup.

Meski Senpai yang begitu baik difitnah secara tidak adil, meski dia menjadi target perundungan akibat dikhianati oleh orang yang sangat dia percayai, aku yakin kebenaran akan terungkap dan membuktikan keberanian serta kebaikannya.

Aku akan melakukan segalanya untuk mewujudkan itu.

Karena hanya dengan begitu, aku bisa membalas kebaikan yang telah dia berikan.

Dan lebih dari itu...

Aku telah jatuh cinta padanya.

Dia selalu lebih memikirkan orang lain daripada dirinya sendiri dan membawa kebahagiaan bagi orang-orang di sekitarnya.

Dia memperlakukan siapa pun dengan rasa hormat.

Bahkan pagi ini pun—dalam situasi yang mengancam, saat orang lain akan membeku—dia tetap bertindak tanpa ragu.

Padahal dia baru saja mengalami trauma akibat perundungan yang parah hingga membuatnya hampir kehilangan kepercayaan pada manusia.

Namun dia tetap bisa bergerak demi orang lain.

Sebagai manusia, aku sungguh menghormatinya.

Itulah kenapa aku jatuh cinta.

Aku tak pernah menyangka bisa mencintai seseorang.

Tapi dia... dia yang mengulurkan tangan padaku saat aku berada di dasar jurang kegelapan.

Mana mungkin aku tidak jatuh cinta?

Aku membuka pintu ruang kosong.

Dan di sana, Senpai yang kucintai sedang menungguku dengan senyuman.

—Sudut Pandang Takayanagi—

Saat istirahat siang, sambil makan roti dan mencatat di buku catatan di ruang guru, aku memegangi kepala karena pusing.

Padahal kemarin hari libur, tapi pikiranku penuh dengan masalah Aono.

Hari ini, Aono datang ke sekolah nyaris terlambat. Aku sempat khawatir, jangan-jangan setelah melewati akhir pekan dia jadi tidak mau datang ke sekolah. Aku mondar-mandir di dekat loker sepatu sambil menunggu. Lalu, kulihat Aono berlari masuk ke sekolah bersama Ichijou dari kelas satu.

Belakangan, setelah kucek secara halus, ternyata mereka terlalu asyik mengobrol sampai agak terlambat. Syukurlah. Aku sempat takut kalau perundungan yang dialaminya makin parah.

Namun, demi memulihkan nama baik Aono, aku harus secepat mungkin mengungkapkan kebenarannya. Bukti-bukti mulai terkumpul. Yang dibutuhkan sekarang adalah sesuatu yang benar-benar meyakinkan.

“Meski begitu, ada satu hal yang terasa aneh dalam kasus ini.”

Itu adalah tindakan Kondo. Dia punya kebiasaan buruk, suka dengan perempuan yang sudah punya pasangan. Tapi karena prinsip cinta bebas di zaman sekarang, selama itu bukan hubungan pernikahan, hal itu tidak bisa dijadikan alasan untuk menghukumnya.

Pihak sekolah pun selama ini kesulitan menghadapi kasus seperti itu...

Namun, kenapa hanya dalam kasus Aono, dia sampai bertindak langsung membully?

Kondo itu biasanya penakut yang selalu tahu batas. Dia tidak pernah melewati garis terakhir itu.

Aku terus merasa ada yang janggal di situ.

Lalu, meskipun kedengarannya mengada-ada, aku sampai pada satu hipotesis.

“Mungkinkah... ada dalang di balik layar yang memprovokasi Kondo untuk bertindak begitu? Sial, otakku tidak bisa berpikir jernih.”

Mungkin karena belum makan benar, aku jadi mudah emosi.

Makan malam nanti, mungkin aku akan makan di luar. Seingatku, di situs video, ada seorang “om-om pecinta kuliner” yang merekomendasikan ramen enak dekat stasiun. Untuk menyegarkan pikiran, aku memutuskan pergi ke sana.

Aku membuka channel si om-om pecinta kuliner itu untuk mencari nama restoran.

Karena pengaturan situs, video terbaru langsung diputar otomatis. Karena suaranya kumatikan, suara video tidak terdengar di ruang guru, tapi isi video bisa dipahami lewat subtitle.

“Halo semuanya, kita mulai siaran hari ini ya. Tadi siang waktu aku lagi jalan-jalan buat syuting proyek baru, ada kakek-kakek tiba-tiba pingsan di depan mataku. Aku panik, nggak tahu harus bagaimana, tapi tiba-tiba sepasang mahasiswa yang lewat langsung mulai melakukan pertolongan pertama. Hebat sekali. Aku sendiri cuma sempat menelepon ambulans. Belakangan ini banyak hal terjadi waktu aku jalan-jalan di kota. Minggu lalu juga, pas lagi bikin video kolaborasi jalan-jalan, aku lihat ada perkelahian. Kayaknya gara-gara cinta, deh. Tapi anak cowoknya dipukuli sepihak. Kami coba mendekati anak itu yang udah tergeletak, tapi dia malah kabur. Ada yang manggil polisi juga, tapi pas polisi datang, semua pelaku sudah kabur.”

Entah kenapa aku merasa tertarik dengan cerita itu, meski tak tahu alasannya.

Sore hari.

Pada akhirnya, aku malah pergi ke rumah Aono.

Awalnya aku ingin makan ramen, tapi saat mengecek media sosial si om-om kuliner tadi, aku melihat foto set menu tiram goreng yang tampak sangat menggoda, dan akhirnya memutuskan pergi ke sana.

Jujur saja, sebagai guru, aku sempat ragu apakah pantas mendatangi rumah murid. Tapi aku tetap mengetuk pintu.

“Wah, Takayanagi-sensei. Ada apa hari ini?”

Ibunya Aono menyambut dengan senyuman. Kami memang sering berkomunikasi, jadi sudah terjalin hubungan saling percaya.

Waktu aku mengirim email soal pelajaran praktik tambahan yang akan dilaksanakan Sabtu depan, beliau membalas, “Terima kasih sudah repot-repot. Kalau ada waktu, silakan makan di rumah kami.” Jadi aku memutuskan untuk menerima tawaran itu.

Ayah Aono sudah lama meninggal, dan kini sang ibu serta kakaknya menjalankan restoran keluarga. Setelah aku dewasa, aku bisa memahami betapa besar tekad dan perjuangan mereka.

Karena kasus Aono, sekolah dan keluarga memang perlu membangun hubungan yang lebih erat. Kami saling berbagi informasi dengan aktif.

“Hari ini saya datang sebagai pelanggan. Saya pesan set menu tiram goreng musiman ya.”

“Kalau begitu, saya kasih bonus irisan kol lebih banyak ya.” Ibu Aono tertawa sambil berkata begitu.

Beliau selalu membaca laporan-laporan dari kami dengan teliti. Jika ada pertanyaan, dia menghubungi lewat email dan aku pun selalu berusaha memberikan jawaban yang lengkap.

Berkat itu, keluarga Aono jadi lebih mempercayai pihak sekolah. Bahkan saat kami berbicara lewat telepon, nada bicaranya terasa lebih lembut.

“Sensei, tolong jaga baik-baik Eiji, ya.”

Kakak laki-laki Aono keluar dari dapur membawa semangkuk minestrone. Dia bekerja serius sejak muda demi adiknya.

Karena hubungan Aono dan aku mulai membaik, aku tahu betapa besar rasa terima kasih dan hormatnya pada ibu dan kakaknya.

Sorot matanya jelas menunjukkan bahwa dia benar-benar mengkhawatirkan sang adik.

“Ya. Kami akan melindungi dia sepenuh hati.”

Di lingkungan sekolah pun, aku melihat semakin sedikit siswa yang memandang Aono dengan curiga. Selain karena kepercayaan tinggi terhadap Ichijou Ai yang selalu bersamanya, kepribadian Aono juga berperan besar.

Sebagian teman sekelas dari tahun lalu masih ragu, tapi aku mulai melihat ada beberapa siswa yang menjaga jarak dari gosip dan perundungan.

Saat sedang berdiskusi dengan guru mata pelajaran kimia soal cara pemberian nilai praktikum, Endo, teman sekelas Aono di tahun pertama, berkata,

“Kalau begitu, saya bisa bantu eksperimen itu setelah sekolah. Aono adalah teman penting saya, jadi saya ingin sedikit membantu.”

Punya teman yang bersedia menolong di saat genting seperti ini adalah buah dari sikap baik Aono selama ini.

“Permisi, tambah nasi dong!” Seorang pria besar berteriak.

“Iyaaa~” jawab ibu Aono.

Saat kulirik wajah pria itu, ternyata dia adalah si om-om pecinta kuliner yang sering aku tonton videonya.

Oh, jadi dia masih di sini, ya.

Aku merasa senang secara tak sadar.

Lalu aku bersyukur atas kebetulan ini.

Di video tadi, dia mengatakan sesuatu yang membuatku berpikir. Tentang kejadian perkelahian yang dia lihat minggu lalu.

Perkelahian bukan hal aneh, jadi kemungkinan ini kecil. Tapi dia adalah content creator lokal. Berarti, besar kemungkinan dia merekam video di sekitar daerah ini.

Dan isi kejadian itu sangat mirip dengan kasus yang memicu perundungan terhadap Aono.

Walaupun kecil, jika itu bisa membantu menyelesaikan masalah ini dan membebaskan Aono dari ketidakadilan, maka patut untuk dicoba.

Aku berdiri dan mendekati si pembuat konten.

“Permisi, maaf mengganggu. Saya mau bilang sesuatu…” Aku pun berkata padanya:

“Saya selalu menonton video Anda. Semangat terus ya!”

Hari ini dia sepertinya sudah selesai merekam, jadi dia menanggapiku dengan ramah.

“Wah, benar begitu? Senang sekali! Terima kasih banyak!”

“Maaf, saya tahu ini mendadak, tapi di video terbaru Anda, Anda sempat bilang melihat perkelahian antara anak muda, kan?”

Dia tampak agak bingung, tapi menjawab, “Iya, saya memang bilang begitu.”

Tidak ada alasan untuk menyembunyikan ini. Ibu Aono juga terlihat terkejut.

“Nama saya Takayanagi, guru SMA. Kebetulan, di waktu yang hampir sama dengan kejadian itu, ada siswa saya yang jadi korban kekerasan. Tapi kami tak punya bukti apa pun, jadi tidak bisa menyelidikinya.

Bolehkah saya melihat video tersebut, hanya untuk memastikan apakah anak laki-laki yang dipukul itu siswa saya atau bukan?”

Jujur saja, aku sempat pesimis. Karena sekarang, pembuat konten pun harus menjaga reputasi dan mematuhi aturan.

Terutama orang ini yang terkenal hati-hati: selalu minta izin syuting, hindari waktu ramai, dan lain-lain.

Tapi demi siswa, aku rela menundukkan kepala berkali-kali.

“Hmm… bagaimana ya…”

Aku pun menyerahkan kartu namaku.

“Ini kartu nama saya. Kalau perlu, saya bisa tunjukkan SIM juga. Lagipula restoran ini dikelola oleh orang tua murid saya.”

Saat dia melirik ke dapur, kedua orang di dalam mengangguk dengan yakin.

“Kalau Anda sudah sejauh ini... kebetulan saya bawa datanya.

Tunggu sebentar, ya.”

Aku menarik napas lega. Tapi aku belum bisa tenang. Kemungkinan besar itu orang lain.

“Ini videonya.”

Terdengar suara bising jalanan. Ada yang berteriak “Kyaaa!”.

Seseorang berteriak, “Perkelahian!”. Kamera mengarah ke suara itu.

Tapi ini bukan sekadar perkelahian. Seorang pria yang marah berat memukul seorang pemuda yang memegang bahu seorang perempuan.

Itu murni tindakan kekerasan. Sebuah kasus penganiayaan.

Anak laki-laki yang dipukul terpental dan jatuh. Pukulannya sangat keras.

Walaupun dari jauh tak terdengar jelas, si pemukul tampak berteriak dengan nada kasar.

Perempuan yang bersama mereka tidak berusaha menolong si korban.

Dia hanya berdiri, mengatakan beberapa kata singkat, lalu pergi bersama pelaku.

Kamera kemudian mendekati korban.

“Hey, kamu tidak apa-apa? Jangan dipaksakan jalan. Mending berbaring dulu… hei, kamu!”

Anak itu bangkit perlahan, tanpa tenaga, lalu pergi meninggalkan tempat itu.

Si pembuat video cuma bisa berdiri sambil berkata, “Semoga dia tidak apa-apa…”

Videonya terputus di situ.

Aku terdiam. Karena yang muncul di video itu adalah Aono Eiji, Amada Miyuki, dan Kondo dari klub sepak bola.

“Bagaimana? Apakah itu yang Anda cari?”

“Videonya juga sudah saya serahkan ke polisi. Kalau perlu info lebih lanjut, bisa tanya langsung ke mereka…”

“Terima kasih. Itu memang siswa saya. Anda serahkan ke kantor polisi mana? Bisa saya minta alamatnya?”

Setelah aku mendapatkan lokasi, aku berbisik ke telinga ibu Aono.

“Itu memang Eiji-kun. Dia yang dipukul secara sepihak dalam video itu.”

Mendengar itu, beliau menjawab dengan suara dingin,

“Sensei. Saya minta maaf kalau nanti merepotkan pihak sekolah. Tapi saya tidak akan pernah memaafkan orang-orang yang menyakiti Eiji.”

Mungkin guru lain akan bilang: pikirkan masa depan si pelaku.

Tapi sekolah kami tidak seperti itu.

“Tidak, itu adalah hak Aono sendiri untuk menentukan. Sekolah tidak bisa ikut campur. Lagipula, menurut saya, membuat pelaku menyadari kesalahannya juga bagian dari tanggung jawab guru.

Kalau dibiarkan, suatu saat mereka bisa melakukan kesalahan yang tidak bisa diperbaiki lagi. Atau mungkin, kasus ini sudah termasuk yang tidak bisa diperbaiki.

Karena itu, memberi mereka kesempatan untuk menebus kesalahan juga bagian dari pendidikan.”

“Terima kasih. Kak, maaf ya. Aku pergi dulu sama sensei. Jangan kasih tahu Eiji dulu. Setelah semuanya jelas, aku yang akan memberitahunya.”

Kami pun bergegas menuju kantor polisi tempat video itu diserahkan.

──Kantor Pemadam Kebakaran──

“Video pasangan pelajar yang sedang ramai dibicarakan sudah dikirim oleh pihak kepolisian.”

Mendengar laporan dari bawahanku, aku mengangguk.

“Terima kasih. Tapi ya, anak-anak sekolah zaman sekarang memang luar biasa, ya. Bisa bergerak sendiri seperti itu. Kita orang dewasa harus belajar dari mereka.”

“Benar juga, Kepala Pemadam. Katanya mereka bahkan pergi tanpa menyebutkan nama. Orang sebaik itu malah bikin khawatir, ya. Saya sendiri waktu sekolah cuma ikut klub, pulang makan ramen bareng teman, lalu tidur tanpa belajar. Gagal banget rasanya.”

Mendengar candaan bernada menyalahkan diri itu, aku hanya bisa tersenyum kecut. Jujur saja, aku juga tidak lebih baik, jadi hanya bisa merasa bersalah.

“Jangan samakan mereka dengan dirimu. Orang yang jatuh pingsan itu mantan anggota dewan prefektur, Pak Yamada, kan? Dia pernah jadi ketua dewan, tokoh senior yang bahkan para anggota parlemen nasional pun segan padanya.”

Karena itulah, kami diminta dengan sangat untuk menemukan siapa yang telah membantunya. Dari sudut pandang kami, ini juga bisa jadi contoh yang sangat baik bagi masyarakat ke depannya, jadi kami benar-benar ingin menemukannya.

“Wah, ternyata orang sepenting itu, ya.”

Yah, anak muda zaman sekarang mungkin tidak kenal.

“Baiklah, untuk sekarang, tolong edit videonya supaya wajah para pelajar itu tidak terlihat, lalu unggah ke media sosial untuk minta informasi dari masyarakat. Mungkin saja ada petunjuk.”

Anak buahku ini cukup jago komputer, jadi aku yakin dia bisa mengurusnya dengan baik.

Kira-kira seberapa besar tanggapannya nanti, ya? Semoga saja cepat membuahkan hasil...

Tak disangka, unggahan media sosial itu akan meledak dalam beberapa jam dan mendapatkan puluhan ribu tanggapan. Saat ini, kami sama sekali belum membayangkannya.

──Stasiun TV Lokal──

“Masalah besar! Acara ramen yang seharusnya kita liput secara langsung tiba-tiba dibatalkan. Karena angin kencang, pihak penyelenggara memutuskan bahwa itu terlalu berbahaya.”

“Apa!? Bagaimana ini? Kita jadi punya slot kosong selama lima menit. Tidak ada berita pengganti, ya!?”

“Itu dia masalahnya…”

“Sial, jadi benar-benar tidak ada? Gimana dong. Kalau begini, kita gali berita lain lebih dalam saja…”

“Ah, Direktur! Kebetulan ada topik bagus. Baru saja ada video pertolongan dari para pelajar yang diunggah di akun media sosial pemadam kebakaran. Jumlah penontonnya naik drastis. Gimana kalau kita tayangkan itu? Katanya, para pelajar yang menolong pergi tanpa menyebutkan nama. Sekarang pihak pemadam kebakaran sedang mencarinya karena ingin memberi penghargaan.”

“Waktu kita mepet, jadi kalau videonya sudah ada itu sangat membantu. Aku mau pakai itu. Segera minta izin publikasinya. Pihak pemadam pasti setuju juga, soalnya kalau ditayangkan di TV yang punya daya jangkau besar, penyebarannya bakal makin luas.”

Segalanya terus berjalan secara real-time.

──Ruang Istirahat Kantor Polisi──

“Video yang tadi kita serahkan ke pemadam kebakaran langsung diunggah, ya. Cepat sekali kerjanya.”

“Iya, kabarnya yang terlibat itu mantan Ketua Dewan Provinsi.” “Pantas mereka langsung bergerak secepat itu.”

“Eh, kenapa, Minowa?”

“Hmm, soal pria di video yang tadi ditunjukkan… Aku merasa pernah lihat dia sebelumnya.”

“Oh? Apa kamu langsung tahu siapa dia?”

“Tidak, aku tidak tahu namanya. Tapi, ingat tidak, Kak, sekitar seminggu lalu ada kasus perkelahian di pusat kota? Anak muda yang dihajar sepihak?”

“Oh iya, kasus itu. Tapi korban dan pelakunya langsung pergi, kan? Yang kita punya cuma rekaman dari seorang streamer.”

“Iya. Karena tidak ada laporan resmi juga, kasusnya jadi terbengkalai. Tapi, menurutku, wajahnya mirip, deh.”

“Serius? Aku tidak terlalu ingat, sih. Kalau begitu, habis istirahat kita cek lagi saja. Siapa tahu bisa bikin pihak pemadam punya utang budi ke kita.”

──Sudut Pandang Takayanagi──

Kami datang ke pos polisi di depan stasiun kota sebelah. Setelah menjelaskan situasinya, kami diminta untuk memeriksa ulang data. Video yang sama dengan yang kulihat sebelumnya pun diputar. Karena ini pertama kalinya Aono-san melihatnya, terlihat jelas kalau ia sangat terkejut.

“Tidak mungkin... Anak saya dipukul sepihak seperti ini…”

“Kenapa... hanya karena dia memegang bahu pacarnya, dia harus mengalami perlakuan seperti ini?”

“Benar… Ini terlalu kejam. Eiji diperlakukan seperti ini, dikhianati Miyuki-chan, ditinggalkan tanpa ditolong meski sedang tergeletak... Kenapa aku tidak menyadarinya lebih awal…”

Sorot matanya menghilang, dan Aono-san bergumam seolah menahan emosinya. Aku tak bisa berkata apa-apa—yang bisa kulakukan hanya memandanginya.

Berapapun kali aku melihat video ini, ini tetap parah.

Itu kekerasan sepihak. Tidak terlihat adanya kekerasan dari pihak Aono seperti yang diklaim Kondo.

Ternyata benar—itu semua bohong.

“Laki-laki yang memukul anak saya ini, saya tidak akan memaafkannya. Dia siswa di sekolah yang sama, kan, Pak Guru?”

“Ya, benar. Dia siswa kelas tiga bernama Kondo.”

Sebelum kami datang ke sini, aku sudah menghubungi kepala sekolah. Sesuai kebijakan awal, keputusan untuk melaporkan ke polisi diserahkan pada pihak Aono-san, dan aku juga mendapat instruksi untuk memberikan dukungan penuh.

“Kondo. Jadi itu nama si Kondo.”

Ia menyebut nama itu seperti menggumam, tapi dari tatapan matanya, terlihat jelas bahwa ia sangat tidak akan memaafkan pelaku.

“Saya akan melapor ke polisi. Apa yang harus saya lakukan?”

Aono-san menyatakan dengan tegas, lalu mulai menjalani proses pelaporan. Polisi menjelaskan bahwa orang tua sebagai wali sah dapat melaporkan kejadian atas nama anak yang masih di bawah umur.

Saat proses tengah berlangsung, dua polisi masuk ke pos.

“Ah, terima kasih atas kerja kerasnya!”

Polisi yang berjaga memberi salam pada mereka berdua, dan salah satu yang paling senior bertanya, “Apakah mereka ini keluarga anak laki-laki dalam video itu?”

Polisi yang ditanya langsung mengangguk.

“Ibu korban dan guru sekolahnya. Mereka sedang menulis laporan

polisi.”

“Begitu ya.”

Polisi senior itu lalu menoleh kepada kami dan mulai berbicara dengan suara tegas namun sopan.

“Saya Doumoto. Maaf mendadak, tapi kami ingin minta Anda melihat satu video lagi. Jangan khawatir, ini tidak terkait kasus kekerasan, melainkan soal penyelamatan nyawa. Ada petugas yang merasa anak Ibu mirip dengan remaja yang membantu seorang pria pingsan di jalan kemarin, lalu pergi tanpa menyebutkan nama. Kami ingin memverifikasi wajahnya saja.”

“Baik, tidak masalah.”

Aono-san menjawab dengan sedikit lega. Setelah begitu banyak video mengejutkan, mendengar bahwa ini video lain yang tak ada kaitannya tentu sedikit menenangkan.

Video itu memperlihatkan Aono dengan seragam sekolah dan Ichijou Ai, siswi kelas satu, yang membantu seorang pria tua yang pingsan.

Jadi, alasan dia terlambat ke sekolah pagi ini karena melakukan hal ini, ya… Tanpa sadar aku mengangguk, merasa bisa menerima penjelasannya.

“Ya, itu anak saya. Dan gadis di sebelahnya… adalah teman dekat anak saya…”

Aono-san tampak terkejut, bicaranya jadi terputus-putus.

“Begitu ya. Sebenarnya, pria yang jatuh itu sekarang kondisinya membaik berkat pertolongan yang cepat. Ia sangat ingin mengucapkan terima kasih pada anak Ibu. Pihak pemadam kebakaran juga ingin memberi penghargaan.”

Video kali ini menampilkan perbuatan baik yang kontras dengan video kekerasan sebelumnya—seperti naik dari neraka ke surga.

Eiji Aono ini memang luar biasa. Bahkan sebagai orang dewasa, belum tentu bisa bertindak seperti itu. Dalam situasi yang penuh kekecewaan dan kehilangan kepercayaan pada manusia, dia tetap tak membusuk dan memilih membantu orang lain.

“Begitu, ya… Eiji… aku tidak tahu apa-apa… Anak itu tidak pernah cerita…”

Polisi senior itu tertawa kecil.

“Anak yang hebat, sungguh. Saya juga punya anak perempuan seusia itu, tapi tidak mudah melakukan hal seperti ini. Putra Ibu luar biasa. Melukai anak sebaik itu, sungguh tak termaafkan. Kami akan menangani kasus kekerasan ini dengan sepenuh hati.”

Kata-kata lembut namun penuh keyakinan itu memberi kami rasa lega.

“Terima kasih banyak…”

Sambil menangis, Aono-san menundukkan kepala.

Dunia ini benar-benar penuh ketidakadilan. Mengapa orang sebaik Eiji Aono harus diperlakukan sekejam ini? Kenapa dia yang jadi target perundungan?

Tidak… Aku tak boleh larut dalam pikiran negatif. Anak itu, yang seharusnya paling menderita, masih terus melangkah maju.

Sebagai orang dewasa, aku harus bertindak agar penderitaannya sedikit saja bisa diringankan.

Langkah pertama adalah memastikan si pelaku menerima hukuman yang pantas.

Apa yang akan terjadi setelah ini pasti tak mudah.

Aku pun kembali meneguhkan tekadku.

──Sudut Pandang Shimokawa──

Sial, ini hari Senin, tapi karena pelatih marah besar atas hasil pertandingan latihan kemarin, kami tetap harus latihan. Padahal seharusnya hari ini hanya latihan ringan untuk pemulihan kelelahan, jadi kami bisa pulang lebih awal. Tentu saja, suasana canggung dari kemarin masih belum hilang, dan seperti yang diduga, Kondo-senpai tidak masuk.

Terus terang saja, kami semua tidak berada dalam kondisi untuk latihan. Tim benar-benar kehilangan semangat.

Mungkin, turnamen berikutnya sudah tidak ada harapan lagi. Semua orang merasakan suasana pasrah yang menyerupai keputusasaan.

“Yah, ayo pulang,” kataku sambil mengganti sepatu di pintu masuk sekolah.

Saat itulah terdengar teriakan kapten, “Oi, Mitsuda! Apa maksudnya ini? Jelaskan!”

Kami para anggota junior terkejut mendengar nada suara yang tidak biasa itu dan segera menuju ke sumber suara.

Lemari sepatu Mitsuda-senpai terbuka, dan di lantai berserakan banyak foto yang ‘itu’.

Semua orang kehilangan kata-kata melihat pemandangan aneh tersebut.

“Jadi kau pelakunya. Seperti yang kuduga, karena kau selalu disuruh-suruh sama Kondo, kau dendam dan melakukan hal seperti ini! Kau telah menghancurkan hidup kami semua. Tertawa di belakang kami, ya?”

Kapten terus memaki dengan suara histeris.

“Bukan aku! Aku tidak tahu apa-apa soal ini. Seseorang pasti memasukkannya ke lokerku. Aku tidak mengkhianati siapa pun. Ini fitnah!”

Mendengar itu, aku langsung teringat pada Aono. Bukankah kami pada akhirnya hanya dimanfaatkan oleh Kondo-senpai untuk menjebak Aono? Terutama Mitsuda-senpai, dia bahkan aktif menyebarkan gosip. Ini pasti adalah hukuman atas perbuatannya. “Aku tidak bisa percaya lagi. Aku tidak percaya siapa pun lagi!”

Kapten membanting Mitsuda-senpai ke lemari sepatu, lalu pergi begitu saja. Udara muram seperti suasana berkabung menyelimuti kami yang tertinggal.

“Bukan ini sepak bola yang ingin aku mainkan...”

Itu gumaman Maehira, murid tahun pertama. Kami semua menatapnya kaget. Karena para murid tahun pertama hampir tidak terlibat dalam kejadian ini, mereka menatap kami para senior dengan tatapan dingin seolah melihat kotoran. Sial, ini bukan salahku. Ini semua salah Kondo-senpai.

Tanpa mengatakan apa pun, Maehira dan yang lainnya pergi dari tempat itu.

Yang tersisa hanyalah foto-foto itu dan para senior yang tenggelam dalam keputusasaan.

──Sudut Pandang Eri──

Aku membeli bahan makanan di supermarket, lalu pulang ke rumah seperti biasa.

“Aku pulang.”

Kebiasaan lama memang sulit hilang. Meskipun aku menyapa rumah yang kosong, tak akan ada yang membalas.

Itu membuatku sadar bahwa aku adalah seseorang yang berada di ujung berlawanan dari kebahagiaan.

“Aku bikin udon saja.”

Asalkan merebus sayur dan daging seadanya lalu memakannya, aku tidak akan mati. Sejak mulai hidup sendiri saat SMA, aku selalu begini. Selama tiga tahun ini, aku tidak pernah sekalipun merasakan kenikmatan dari makanan. Asalkan mendapatkan nutrisi minimum, aku tak peduli lagi.

Selain saat bertemu dengan Kondo-kun, hidupku hanya diisi dengan melakukan hal-hal minimum untuk menyia-nyiakan waktu. Di luar waktu bersamanya, aku seperti zombie.

Karena aku sudah kehilangan segalanya.

Padahal dulu, sampai SMP aku anak yang berprestasi. Aku punya banyak teman dan bahkan berpacaran dengan teman masa kecilku, Kazuki Endo. Dia juga pintar, dan selalu menjadi kebanggaan sebagai teman masa kecilku. Kami sangat dekat, dan aku pikir suatu hari nanti kami pasti akan bersama.

Tapi, orang yang menghancurkan kebahagiaan yang seakan sudah dijanjikan itu... adalah aku sendiri.

Aku pertama kali sekelas dengan Kondo-kun saat kelas tiga SMP. Dia adalah ace tim sepak bola dan juga pandai belajar, selalu jadi pusat perhatian kelas.

Aku yang sangat mencintai teman masa kecilku hanya menganggap Kondo sebagai orang hebat, tak lebih.

Namun, karena sekelas, perlahan kami mulai akrab. Karena dia pandai, dia dengan lembut mengajarkanku matematika yang sulit kupahami.

Hal-hal kecil seperti itulah yang membuat kami dekat. Gaya Kondo yang sudah terbiasa berurusan dengan perempuan terasa jauh lebih dewasa dibandingkan Kazuki yang canggung. Karena lengah, aku akhirnya menyerahkan segalanya kepadanya dan terjatuh ke dalam neraka ini.

Tapi aku tahu betul. Yang bersalah semuanya adalah aku. Selama ini aku mencoba untuk tidak melihatnya, tapi yang paling salah adalah diriku sendiri.

Orang tuaku nyaris mengusirku. Mereka masih membiayai uang sekolah dan hidupku, tapi setelah itu aku harus urus sendiri.

Teman dekatku sejak TK bilang, “Kenapa kamu bisa melakukan hal sekejam itu? Kalau kamu memikirkan perasaan Endo-kun… kamu nggak akan tega berbuat begitu,” lalu memutuskan hubungan denganku.

Itu hal yang wajar. Tapi dalam keadaan di mana aku bahkan tidak bisa mengandalkan orang tua, kuliah atau masuk sekolah kejuruan pun tampak mustahil. Impianku sejak dulu untuk menjadi guru, bisa dibilang hancur karena perselingkuhan itu.

Kabarnya, Kazuki jadi sangat putus asa sampai tidak ikut ujian masuk SMA. Sekarang, dia menjadi siswa yang lebih muda dari kami, sebagai siswa yang tertunda.

Saat tahu dia masuk ke SMA yang sama denganku, aku senang sekali. Padahal aku tahu, aku yang sudah menyakitinya sedemikian rupa, tidak pantas merasa begitu. Tapi dalam hati kecilku, aku berharap dia bisa menyelamatkanku dari neraka ini. Tapi aku segera sadar bahwa itu hanyalah mimpi di atas mimpi.

Bahkan ketika kami berpapasan di lorong, dia hanya menatapku dengan tatapan dingin, seolah aku ini kotoran.

Senyuman lembut yang dulu selalu dia berikan, kini tak akan pernah lagi mengarah padaku. Aku sadar bahwa satu-satunya yang kumiliki hanyalah Kondo-kun. Simbol masa lalu yang bahagia sudah terlalu jauh dan tak akan bisa kuraih lagi, meski aku mengulurkan tangan.

Dan dia pun hanya memperlakukanku sebagai perempuan yang bisa dimanfaatkan semaunya.

Kami sempat berpacaran sebentar di SMP, tapi dia segera membuangku. Setelah diputuskan, aku jadi nyaris tidak masuk sekolah. Tapi saat dia tahu itu, dia jadi sedikit lebih baik, dan kadang datang menemuiku. Meski aku tahu aku hanya jadi perempuan yang nyaman untuknya, aku tetap tidak bisa keluar dari jeratannya.

Karena ini adalah cinta yang kupertaruhkan segalanya, aku tidak bisa menyerah dan akhirnya terus menjadi perempuan yang nyaman baginya. Cinta ini sudah mempertaruhkan keluarga, kekasih, teman, impian, dan masa depan.

Aku telah memberikan seluruh masa mudaku kepada Kondo-kun. Dan yang tersisa hanyalah neraka ini.

Aku tahu betul dia punya perempuan lain. Bahkan aku beberapa kali melihatnya sendiri.

Tapi aku selalu percaya bahwa dia akan kembali padaku, karena aku telah memberikan segalanya untuknya.

Sampai amplop yang datang di kotak surat tadi menghancurkan bahkan harapan itu.

Isinya adalah foto dia keluar dari hotel bersama perempuan lain, dengan wajah bahagia.

Kalau hanya itu, mungkin aku masih bisa tahan. Tapi di lehernya tergantung kalung kembar yang kami beli bersama saat SMP. Seolah-olah dia sengaja menginjak-injak perasaanku. Aku sadar bahwa bagi dia, masa mudaku hanyalah barang milik semata.

Tak bisa dimaafkan.

Aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri. Aku tidak bisa memaafkan diriku yang telah mengkhianati orang-orang yang penting bagiku.

Aku ingin mati. Tali yang menegang sampai batas akhirnya kini telah putus. Karena aku tahu, tak ada lagi harapan di masa depan.

Tapi aku tidak akan jatuh ke neraka sendirian.

Orang yang menciptakan neraka ini juga akan kubawa bersamaku...

Setidaknya, di akhir hidupku, aku ingin menjadi diriku sendiri—hanya sekali saja.

Posting Komentar